Sabtu, 9 Mei 2026
33.4 C
Semarang

Harvard Medical School Kini Bantu Riset Kesehatan di Tegal

Sudirman Said: riset tak boleh berhenti sebagai publikasi.

Berita Terkait

JAKARTA, PortalJateng.id“Universitas bukan penerbit ijazah saja, tapi pemberi solusi dan laboratorium peradaban tempat perumusan kebijakan berbasis sains dibudayakan.”

Kalimat itu menggema di Gedung Swasana Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Jakarta Selatan, Kamis (7/5/2026). Yang mengucapkannya adalah Sudirman Said Rektor Universitas Harkat Negeri (UHN), mantan Menteri ESDM, dan kini seorang pendidik yang serius merawat mimpi tentang sistem kesehatan yang adil.

Di hadapan para akademisi, peneliti, dan jurnalis, ia meluncurkan Primary Healthcare Impact Lab (PHIL) pusat riset dan inovasi layanan kesehatan primer yang digagas bersama oleh UHN, Center for Indonesia’s Strategic Development Initiatives (CISDI), dan PT Tamaris Hidro, dengan menggandeng Harvard Medical School (HMS) institusi kedokteran tertua dan paling bergengsi di Amerika Serikat, yang telah melahirkan 15 peraih Nobel.

Mengapa Kesehatan Primer Butuh “Lab” Khusus?

Layanan kesehatan primer Puskesmas, klinik, Posyandu adalah lini terdepan dalam menjaga kesehatan masyarakat. Tapi selama ini, ia sering menjadi anak tiri. Anggaran terbatas. Tenaga kurang. Data riset yang dihasilkan pun kerap hanya menjadi tumpukan publikasi akademis yang tidak pernah sampai ke lapangan.

Sudirman Said mengajak semua pihak jujur, Pemerintah tidak bisa bekerja sendiri. “Mengingat tantangan kompleksitas persoalan yang dihadapi, tidak mungkin tugas itu dikerjakan Pemerintah sendiri. Dibutuhkan upaya berbagi tanggung jawab melalui gotong-royong segenap sektor, mulai dari sektor publik, privat, sosial, hingga organisasi profesi serta lembaga pendidikan,” tegasnya.

Di situlah universitas bisa dan harus mengambil peran. Lewat PHIL, UHN akan menjadi simpul riset kesehatan primer. Mulai dari klinik, Puskesmas, Puskesmas Pembantu, hingga Posyandu, semuanya dilibatkan sebagai ruang penelitian lapangan.

Harvard Bukan Sekadar “Tamu Kehormatan”

Kehadiran Prof. David Golan, Dekan Harvard Medical School, di tengah acara bukanlah sekadar kunjungan formalitas. Ia terbang langsung dari Boston. Dalam sambutannya, Prof. Golan menegaskan bahwa investasi pada layanan kesehatan primer terbukti memberikan dampak besar terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif.

“Secara global, investasi pada yankes primer terbukti memberikan dampak besar terhadap peningkatan derajat kesehatan masyarakat melalui pendekatan promotif dan preventif,” ujar Prof. Golan.

Ia menilai PHIL adalah langkah strategis membangun pusat keunggulan di tingkat regional baik pada riset, layanan, maupun reformasi kebijakan kesehatan primer berbasis komunitas.

Melalui PHIL — yang sebelumnya telah membangun pusat riset serupa di Thailand dan Vietnam — HMS kini mendukung UHN menyiapkan kurikulum fakultas kedokteran. Visi PHIL: menjadikan Indonesia salah satu pusat keunggulan riset kesehatan primer.

Harvard Medical School sendiri, yang didirikan pada 1782, memiliki fakultas kedokteran dengan lebih dari 11.000 individu yang bekerja memajukan batas-batas pengetahuan di laboratorium, ruang kelas, dan klinik.

Dimulai dari Brebes, Tegal, dan Sekitar Kampus UHN

Riset kesehatan primer tidak bisa dilakukan di menara gading. Ia harus turun ke lapangan, menyentuh masyarakat, merespons kebutuhan riil.

Diah Satyani Saminarsih, Pendiri dan CEO CISDI yang juga mantan Penasihat Senior di WHO menambahkan konteks yang lebih luas. Menurutnya, PHIL dirancang sebagai platform kebijakan dan inovasi nonklinis yang terintegrasi dalam UHN. Mencakup, ruang penelitian, pengembangan kepemimpinan, keterlibatan mahasiswa, dan dialog lintas sektor.

“Lab tersebut bertujuan untuk menjembatani antara pengumpulan bukti dan implementasi praktis, antara penyelidikan akademis dengan realitas masyarakat dan partisipasi bisnis,” kata Diah.

CISDI memiliki rekam jejak panjang di akar rumput. Pada Juli 2025, CISDI bersama Dinas Kesehatan DKI Jakarta terlibat dalam penyusunan Rancangan Peraturan Daerah Sistem Kesehatan Daerah, memberikan masukan mengenai Primary Health Care (PHC), pembiayaan kesehatan, SDM Kesehatan, serta manajemen data kesehatan.

Dimulai dari Brebes, Tegal, dan sekitar kampus UHN di Tegal, PHIL akan diperluas ke berbagai titik tempat Tamaris Hidro beroperasi.

Infrastruktur Manusia: Perspektif dari Sektor Swasta

Mohammad Syahrial, Presiden Direktur PT Tamaris Hidro perusahaan yang bergerak di bidang energi terbarukandan merupakan bagian dari entitas bisnis Grup Salim membubuhkan perspektif lapangan.

Perusahaannya bekerja di wilayah-wilayah yang jauh dari pusat kota. Di sana ditemukan bahwa aspek layanan kesehatan hampir selalu jadi kebutuhan yang terakhir terpenuhi.

“Investasi terbaik yang bisa dilakukan oleh sektor swasta bukan hanya membangun infrastruktur fisik, tapi lebih-lebih adalah infrastruktur manusia, termasuk sistem kesehatan yang menjangkau mereka-mereka yang paling membutuhkan,” ujar Syahrial.

Tamaris Hidro membawa perspektif berbeda: mereka tidak hanya mendanai, tapi juga membuka wilayah operasionalnya sebagai lokus penelitian. Klinik-klinik yang berdiri di sekitar area operasional mereka akan menjadi laboratorium hidup bagi para peneliti UHN.

Riset yang Tak Berhenti sebagai Tumpukan Publikasi

Ini mungkin pesan paling penting dari seluruh acara. Sudirman Said tidak ingin PHIL hanya menghasilkan jurnal-jurnal akademis yang indah tapi tidak pernah diaplikasikan.

“Kami ingin risetnya tak berhenti sebagai tumpukan publikasi akademis, tapi harus bisa diaplikasikan sebagai solusi nyata untuk memperkuat yankes primer,” ungkap Sudirman.

Ia mengingatkan bahwa setiap pertanyaan riset yang diajukan mahasiswa, setiap data yang dikumpulkan dari komunitas, dan setiap rekomendasi yang disusun, adalah bata-bata yang membangun sistem kesehatan Indonesia secara lebih adil dan setara.

“Jangan pernah meremehkan kekuatan ilmu yang berpihak pada rakyat,” pesannya.

Universitas Harkat Negeri sendiri resmi diluncurkan pada 9 Agustus 2025, hasil penggabungan Politeknik Harapan Bersama dan STMIK YMI Tegal, dengan total 23 program studi. Di bawah kepemimpinan Sudirman Said yang juga dikenal sebagai mantan Menteri ESDM dan tokoh yang vokal tentang tata kelola energi UHN memposisikan diri sebagai universitas yang kuat di bidang sains terapan, dengan konsep teaching factory serta kemitraan erat bersama industri.

Kini, PHIL menjadi proyek perdananya di bidang kesehatan.

Mengapa Ini Penting?

Indonesia memiliki ratusan ribu Puskesmas, klinik, dan Posyandu. Tapi lompatan besar dalam sistem kesehatan primer tidak akan terjadi tanpa riset yang mendalam, tanpa kolaborasi lintas sektor, tanpa keterlibatan dunia usaha, dan tanpa dukungan institusi global.

PHIL adalah model baru, universitas sebagai pusat riset, pemerintah daerah sebagai mitra implementasi, swasta sebagai pembuka akses, dan lembaga internasional sebagai knowledge partner.

Dengan menggandeng Harvard Medical School yang memiliki afiliasi dengan 15 rumah sakit dan institut riset paling bergengsi di dunia serta lebih dari 10.000 dokter dan ilmuwan dengan jabatan fakultas UHN membawa standar global ke riset kesehatan primer Indonesia.

Harvard sendiri telah memiliki hubungan awal dengan CISDI melalui seminar brown bag yang memperkenalkan PHIL di Harvard T.H. Chan School of Public Health . Kini, hubungan itu menjadi kolaborasi nyata.

Tantangannya, seperti diakui Sudirman, adalah menjadikan riset ini tidak mandek di ranah akademis. Tapi dengan struktur kolaborasi yang melibatkan banyak pihak, harapan itu bukan sekadar mimpi.

Catatan Redaksi

Puskesmas di pelosok sering kekurangan dokter. Klinik di daerah terpencil minim obat. Posyandu di desa-desa berjalan dengan sukarelawan yang semangatnya kadang padam karena kurangnya dukungan.

PHIL tidak akan menyelesaikan semua masalah itu dalam semalam. Tapi setidaknya, ada upaya serius untuk menjadikan riset kesehatan primer sebagai fondasi kebijakan, bukan hiasan. Ada keberanian dari sebuah universitas muda di Tegal untuk bermimpi besar, menggandakan Harvard, dan mengatakan bahwa “ilmu harus berpihak pada rakyat.”

Sudirman Said, yang dulu dikenal sebagai menteri yang kritis terhadap kebijakan energi yang tidak berpihak pada rakyat, kini membawa semangat yang sama ke dunia pendidikan dan kesehatan. Bedanya, dulu ia mengkritik dari dalam pemerintahan. Kini ia membangun dari luar dengan universitasnya, dengan laboratorium risetnya, dan dengan kolaborasi globalnya.

Mimpi itu masih panjang. Tapi setidaknya, bata pertama sudah diletakkan. Di Brebes. Di Tegal. Di sekitar kampus UHN.

Dan jika semua berjalan sesuai rencana, sistem kesehatan Indonesia yang lebih adil dan setara bukan lagi sekadar wacana.

PortalJateng.id mencatat, Kesehatan primer adalah hak dasar, bukan barang mewah. Dan untuk menghadirkannya bagi semua, dibutuhkan lebih dari sekadar anggaran. Dibutuhkan riset, kolaborasi, dan keberanian untuk berpikir di luar kebiasaan. PHIL adalah salah satu jawabannya.

Selamat bekerja, para peneliti muda. Bangunlah bata demi bata.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru