Kamis, 14 Mei 2026
29.3 C
Semarang

Tanggul Sungai Silandak Semarang Jebol 41 Meter, Ini Penjelasan Ahli

Bukan Ikan Sapu-Sapu, Tapi Erosi Bawah Tanah yang Terjadi Bertahun-tahun

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Tanggul Sungai Silandak di Jalan Jembawan I, Kalibanteng Kulon, Semarang Barat, jebol sepanjang 41 meter pada Kamis (7/5/2026). Kerusakan ini menyebabkan jalan ambles sedalam 2 meter dan akses warga terputus total.

Empat rumah warga terancam akibat jarak bangunan yang terlalu dekat dengan tanggul. Pemerintah segera melakukan evakuasi preventif bagi penghuni keempat rumah tersebut.

Kerusakan tanggul mulai terdeteksi dua hari sebelumnya, yakni pada Selasa (5/5/2026). Saat itu, muncul retakan dan amblesan kecil. Kondisi semakin memburuk pada Kamis hingga tanggul akhirnya jebol.

Klarifikasi: Bukan Ikan Sapu-Sapu

Menanggapi informasi di masyarakat yang menyebut ikan sapu-sapu (pleco) sebagai penyebab utama, pemerintah memberikan klarifikasi tegas.

Kepala Dinas Perumahan dan Kawasan Permukiman (Disperkim) Kota Semarang, Murni Ediati, menjelaskan berdasarkan hasil investigasi teknis.

“Dari hasil survei dan analisis teknis, penurunan jalan sepanjang 41 meter tersebut dipicu oleh kondisi tanggul Sungai Silandak yang mengalami kemiringan dan rembesan,” tegas Murni Ediati, Kamis (7/5/2026).

Ia menjelaskan, aliran air menggerus pondasi talud. Akibatnya, tanah di bawah badan jalan ikut tertarik dan memicu amblas.

“Ini adalah masalah hidrologi dan struktur sipil, bukan aktivitas ikan,” pungkasnya.

Kesaksian Warga: Retakan Sudah Terlihat 3 Tahun Lalu

Bapak Suyanto (58 tahun), warga RT 006 RW 001 yang rumahnya berjarak hanya 3 meter dari tanggul, memberikan kesaksian.

“Saya sudah tinggal di sini sejak 1998. Sebenarnya kami sudah lihat retakan-retakan kecil di tanggul sejak 3 tahun terakhir,” ungkap Suyanto.

Ia menuturkan, retakan itu terutama terjadi setelah sungai dilebarkan dan diluruskan. Dulu sungainya berkelok-kelok, kini lebih lurus.

Suyanto menambahkan, setiap musim hujan, air sungai deras sekali. Bahkan, terdengar suara gemuruh di bawah tanah.

“Kami juga lihat ada ikan sapu-sapu, tapi jumlahnya tidak banyak. Yang kami khawatirkan itu justru air yang terus menggerus dari bawah,” jelasnya.

“Setiap kali hujan deras, tanah di sekitar rumah seperti bergetar pelan. Ini bukan pertama kalinya tanggul bermasalah, tapi baru kali ini parah sekali,” tambah Suyanto.

Penjelasan Teknis dari BBWS

Kepala BBWS Pemali Juana, Ahmad Basari, memaparkan faktor teknis penyebab kerusakan.

Menurutnya, Sungai Silandak memiliki karakteristik khusus. Di lokasi Kalibanteng, sungai ini mengalami tikungan tajam. Hal itu menciptakan arus sekunder atau arus spiral.

“Arus ini menggerus bagian luar tikungan secara terus-menerus,” jelas Ahmad Basari.

Ia menambahkan, perubahan tata guna lahan di hulu juga berperan. Perubahan itu mengurangi daya serap air. Akibatnya, debit sungai meningkat signifikan.

“Kombinasi faktor-faktor ini yang menyebabkan erosi bawah tanah (subsurface erosion) atau yang disebut piping,” terang Ahmad Basari.

“Air meresap melalui celah-celah kecil di tanggul, lalu menggerus tanah dari dalam, menciptakan rongga yang akhirnya runtuh. Ini proses yang terjadi bertahun-tahun, bukan mendadak,” pungkasnya.

Edukasi untuk Masyarakat

Pemerintah Kota Semarang memberikan penjelasan edukatif. Tujuannya, agar masyarakat memahami perbedaan antara fakta dan asumsi.

Pertama, ikan sapu-sapu memang ada di Sungai Silandak. Ikan ini dikenal membuat liang di tepian sungai. Namun, skala kerusakan 41 meter tidak mungkin disebabkan oleh aktivitas biologis ikan.

Kedua, yang sebenarnya terjadi adalah erosi bawah tanah. Air sungai meresap melalui celah-celah kecil di struktur tanggul. Lalu, air menggerus tanah dari dalam, menciptakan rongga yang tidak terlihat.

Ketiga, mengapa asumsi ikan sapu-sapu muncul? Karena masyarakat mencari penjelasan yang sederhana dan terlihat. Ikan sapu-sapu adalah spesies asing yang mudah “disalahkan”. Selain itu, proses erosi bawah tanah tidak terlihat mata, sehingga sulit dipahami.

Fakta Ilmiah Ikan Sapu-Sapu

Berikut fakta ilmiah tentang ikan sapu-sapu (Plecostomus):

Yang Benar:

  • Ikan sapu-sapu adalah spesies invasif dari Amerika Selatan
  • Dapat membuat liang di tepian sungai
  • Berkembang biak cepat dan mengganggu ekosistem lokal

Yang Tidak Benar:

  • Ikan sapu-sapu tidak dapat menyebabkan kerusakan tanggul sepanjang 41 meter
  • Liang yang dibuat ikan tidak cukup dalam untuk menggerus fondasi jalan
  • Populasi ikan di Sungai Silandak terbatas dan tidak masif

Kesimpulan Ilmiah: Kerusakan infrastruktur skala besar memerlukan faktor geoteknis dan hidrologis yang kompleks, bukan aktivitas biologis hewan.

Rencana Penanganan Komprehensif

Pemerintah Kota Semarang telah menyusun rencana penanganan terstruktur dalam tiga fase.

Fase 1: Darurat (1-7 hari)

  • Pemasangan barrier dan rambu peringatan
  • Pemantauan 24 jam oleh tim gabungan
  • Evakuasi preventif 4 rumah yang terancam

Fase 2: Perbaikan Struktural (1-3 bulan)

  • DPU & BBWS melakukan rekonstruksi tanggul dengan sistem sheet pile dan bronjong
  • Pemasangan revetment (pelindung tebing) untuk mencegah gerusan
  • Perbaikan sistem drainase di sekitar lokasi

Fase 3: Pencegahan Jangka Panjang (6-12 bulan)

  • Normalisasi aliran Sungai Silandak untuk mengurangi tikungan tajam
  • Pemasangan sensor untuk mendeteksi pergerakan tanah
  • Penanaman vegetasi penguat tebing (vetiver grass)
  • Relokasi bertahap rumah-rumah yang terlalu dekat dengan sempadan sungai

Imbauan Wali Kota Semarang

Wali Kota Semarang, Agustina Wilujeng, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Tim teknis sudah bekerja maksimal.

“Memahami penyebab bencana bukan untuk mencari kambing hitam, tapi untuk menemukan solusi yang tepat. Mari bersama-sama menghadapi masalah dengan data dan ilmu pengetahuan, bukan dengan asumsi dan spekulasi,” pesan Agustina Wilujeng.

Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk percaya pada informasi resmi dan menghindari penyebaran informasi yang belum terverifikasi.

Selain itu, warga diminta berpartisipasi dalam pengawasan. Caranya, melaporkan tanda-tanda kerusakan dini seperti retakan atau amblesan ke RT/RW atau dinas terkait.

Masyarakat juga diimbau menjaga lingkungan dengan tidak membuang sampah ke sungai. Hal itu dapat memperparah sedimentasi.

Kontak Pengaduan dan Informasi

Masyarakat dapat menghubungi:

  • Call Center DPU Kota Semarang: (024) 8446701
  • Hotline BBWS Pemali Juana: 0811-2900-777
  • WhatsApp Pengaduan: 0812-3456-7890
  • Website: semarangkota.go.id
  • Email: dpu@semarangkota.go.id

Bencana datang silih berganti. Namun yang membedakan adalah cara kita menyikapinya. Ketika asumsi lebih cepat menyebar daripada fakta, maka yang kalah adalah kebenaran itu sendiri. Tanggul Sungai Silandak yang jebol mengajarkan kita satu hal, bahwa alam punya bahasa sendiri. Ia berbicara melalui retakan, amblesan, dan gemuruh air di bawah tanah. Tugas kita bukan menyalahkan, melainkan mendengarkan, memahami, dan bertindak berdasarkan ilmu. Karena hanya dengan cara itulah kita bisa membangun kembali tidak hanya tanggul, tetapi juga kepercayaan dan kewaspadaan kolektif.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru