SEMARANG, PortalJateng.id – Hujan deras disertai angin kencang melanda Kota Semarang pada Jumat malam (15/5/2026). Bencana ini memicu banjir, tanah longsor, tanggul jebol, serta kerusakan bangunan di sejumlah wilayah.
Bahkan, dua korban jiwa dilaporkan meninggal akibat terseret arus banjir. Keduanya adalah Wanita Kurnia SM (22) dan Mbah Maryam (71).
Jajaran Polrestabes Semarang langsung turun ke lapangan. Mereka membantu evakuasi warga dan berkoordinasi dengan instansi terkait.
Wilayah Terdampak Luas
Wilayah terdampak cukup luas. Meliputi Kecamatan Ngaliyan, Tugu, hingga Semarang Barat.
Jenis kejadian beragam, luapan sungai, jebolnya tanggul, ambrolnya talud, hingga kerusakan bangunan warga.
Banjir di Wilayah Ngaliyan
Di wilayah hukum Polsek Ngaliyan, banjir akibat luapan Sungai Plumbon dan Sungai Silandak menggenangi sejumlah kawasan.
Di Kelurahan Wonosari, banjir merendam Perumahan Mangkang Indah. Ketinggian air bervariasi antara 10 hingga 60 sentimeter. Lokasi yang terdampak meliputi RW 01, RW 02, dan RW 03.
Di Kelurahan Ngaliyan, cuaca ekstrem menyebabkan sejumlah insiden:
- Sepeda motor hanyut di kawasan industri Candi
- Baliho puskesmas ambruk dan menimpa kendaraan
- Talud lapangan ambrol
- Longsornya tebing di Jalan Panembahan Senopati
- Rusaknya atap sekolah MI Baitul Huda akibat angin
- Banjir di Kampung Klampisan
- Longsornya beberapa titik talud sungai dan jalan lingkungan
Korban Jiwa di Purwoyoso

Kondisi serupa terjadi di Kelurahan Purwoyoso. Luapan Sungai Silandak menyebabkan banjir di sejumlah RT. Bahkan, beberapa kendaraan roda dua milik warga ikut terseret.
Dari lokasi inilah petugas menemukan seorang korban meninggal dunia. Korban berjenis kelamin perempuan tanpa identitas saat pertama kali ditemukan.
Korban ditemukan pada pukul 19.30 WIB di belakang rumah warga. Lokasinya di Jalan Sriyatno, RT 02 RW 04, Kelurahan Purwoyoso, Kecamatan Ngaliyan.
Setelah didalami, korban teridentifikasi sebagai Wanita Kurnia SM (22) . Ia warga Kelurahan Purwosari, Kecamatan Semarang Utara.
Berdasarkan hasil pendalaman petugas, korban saat itu tengah dalam perjalanan menuju tempat kerjanya. Tujuannya di kawasan Candi, Kecamatan Ngaliyan.
Diduga, ia terseret derasnya arus banjir. Setelah dilakukan olah TKP oleh tim Inafis, jenazah korban dievakuasi untuk proses penanganan lebih lanjut.
Tanggul Jebol 48 Meter di Tugu
Di wilayah Kecamatan Tugu, tepatnya Kelurahan Mangkang Kulon, tanggul Sungai Plumbon dilaporkan jebol. Panjang tanggul yang jebol mencapai kurang lebih 48 meter.
Akibatnya, banjir limpasan menggenangi permukiman warga.
Dalam kejadian tersebut, seorang warga lanjut usia bernama Mbah Maryam (71) dilaporkan hanyut terseret arus.
Hingga malam hari, tim gabungan dari TNI-Polri, SAR, PMI, BPBD, dan relawan masih melakukan pencarian terhadap korban.
Tanggul Jebol dan Pengungsian di Semarang Barat

Sementara itu di wilayah Semarang Barat, luapan Sungai Silandak juga mengakibatkan dua titik tanggul jebol. Lokasinya di Kelurahan Kembangarum.
Banjir merendam rumah warga. Puluhan warga terpaksa mengungsi ke posko darurat.
Beberapa titik lain seperti Kalibanteng Kulon dan Krapyak juga turut terdampak.
Kasihumas Polrestabes Semarang, Kompol Riki Fahmi Mubarok, menyampaikan hasil pendataan sementara.
“Personel Polrestabes Semarang bersama jajaran polsek sejak malam telah bergerak melakukan patroli, pemantauan debit air, membantu evakuasi warga, serta berkoordinasi dengan BPBD dan unsur terkait,” ujar Kompol Riki.
“Dari hasil pendataan sementara terdapat sejumlah titik banjir akibat luapan Sungai Plumbon dan Sungai Silandak, kerusakan infrastruktur, serta dua korban jiwa akibat terseret arus banjir,” jelasnya.
“Kami mengimbau masyarakat tetap waspada terhadap potensi cuaca ekstrem susulan dan segera melapor apabila membutuhkan bantuan kepolisian,” tambah Kompol Riki.
Evakuasi dan Bantuan
Hingga Sabtu dini hari, personel gabungan dari Polrestabes Semarang bersama TNI, BPBD, PMI, relawan, serta unsur pemerintah daerah masih terus berada di lokasi terdampak.
Mereka membantu warga melakukan pembersihan material sisa banjir. Juga mengevakuasi barang-barang milik warga. Serta menyalurkan bantuan logistik bagi masyarakat terdampak.
Kehadiran aparat di lapangan juga difokuskan untuk memastikan kebutuhan dasar warga terpenuhi. Sekaligus mengantisipasi potensi cuaca ekstrem susulan di sejumlah titik rawan di Kota Semarang.
Alam berbicara dengan cara yang tak pernah kita duga. Hujan yang seharusnya membawa kesuburan, malam itu berubah menjadi air bah yang merenggut nyawa. Wanita Kurnia yang hendak bekerja, dan Mbah Maryam yang sudah renta mereka menjadi korban dari keganasan cuaca yang tak terduga.
Namun, di tengah duka, kepedulian hadir. Polisi, TNI, SAR, PMI, BPBD, dan relawan bergerak. Mereka tidak hanya mencari korban, tetapi juga memastikan warga yang selamat mendapatkan bantuan.
Semoga keluarga korban diberikan kekuatan. Semoga warga yang mengungsi segera pulang ke rumah mereka. Dan semoga kita semua semakin sadar, bahwa menjaga lingkungan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi tanggung jawab kita bersama. Karena alam tidak pernah salah bicara. Ia hanya memberi peringatan. Dan kita yang harus mendengarkan.



