TEGAL, PortalJateng.id — Ada tempat di Tegal di mana tanah berbicara. Bukan dengan suara, tapi dengan aroma. Harum. Semerbak. Tak seperti bau tanah pada umumnya.
Warga setempat menyebutnya Tegalarum dari kata tegal (tanah/hamparan) dan arum (harum). Di sanalah bersemayam jasad seorang raja besar yang namanya terukir dalam tinta emas sekaligus hitam sejarah Jawa, Sunan Amangkurat I, penguasa keempat Kerajaan Mataram Islam.
Bagi mata awam, tempat ini mungkin sekadar situs cagar budaya atau destinasi ziarah biasa. Namun, bagi mereka yang datang dengan hati terbuka, Tegalarum menyimpan lapisan makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar batu nisan kuno.
Kisah hidup Amangkurat I memang penuh kontroversi. Ia dikenal tegas, bahkan dianggap kejam oleh sebagian sejarawan akibat peristiwa Geger Pecinan (1740-1743) pembantaian massal terhadap etnis Tionghoa di Batavia dan sekitarnya yang juga melibatkan pasukan Mataram.
Namun, akhir hayatnya justru meninggalkan pesan universal tentang kerendahan hati.
Setelah diusir dari keraton Plered akibat pemberontakan putranya sendiri (Pangeran Puger yang kelak menjadi Pakubuwono I), Amangkurat I melarikan diri ke timur dalam keadaan sakit. Ia meninggal dalam pelarian, jauh dari kemewahan istana, dan dimakamkan di Tegalarum tempat yang kini kita kenal.
Seorang raja besar. Penguasa Mataram. Namun akhirnya hanya berupa gundukan tanah sederhana.
“Tanah di sini memang unik. Sejak dulu, para sesepuh menceritakan bahwa saat jenazah beliau dimakamkan, muncul aroma harum yang tidak wajar. Itulah asal-usul nama Tegalarum,” ujar salah satu juru kunci makam yang menjaga kesucian lokasi tersebut.
Ia menjelaskan bahwa ribuan peziarah datang setiap harinya. Bukan hanya untuk mendoakan sang raja, tapi juga mencari ketenangan batin di tengah kesunyian pepohonan tua yang menaungi area pemakaman.
Bukan sekadar ziarah. Tapi perjalanan batin.
Fenomena ziarah ke makam tokoh kontroversial seperti Amangkurat I sering memicu perdebatan. Namun, jika ditelisik lebih dalam, ada dinamika spiritual yang menarik.
Haji Parno (58), pemimpin rombongan ziarah dari Semarang, datang dengan niat sederhana, mengirim doa.
“Kami sadar beliau manusia biasa yang pernah berbuat salah. Tapi sebagai umat, tugas kita adalah mendoakan kebaikan. Di sini, kami merasa hati lebih tenang, seolah beban dunia sedikit terangkat,” ungkapnya sambil mengaminkan doa bersama rekan-rekannya.
Pesan ini penting. Bahwa mendoakan bukan berarti membenarkan kesalahan. Mendoakan adalah bentuk kasih sayang yang melampaui batas penghakiman manusia.
Ada pula pengunjung yang datang bukan untuk berziarah dalam arti ritual, tapi untuk mengambil hikmah sejarah.
Marino (62) , dari Ungaran, datang dengan niat berbeda.
“Melihat makam raja seagung Amangkurat I yang kini hanya berupa gundukan tanah sederhana, saya jadi ingat bahwa jabatan dan harta tidak akan dibawa mati. Yang tersisa hanyalah amal dan bagaimana kita dikenang,” tuturnya dengan nada reflektif.
Marino tidak datang untuk mendoakan. Ia datang untuk belajar.
Itulah kekuatan tempat seperti Tegalarum. Ia tidak hanya menjadi pusara bagi yang mati, tapi menjadi cermin bagi yang hidup.
Makam Sunan Amangkurat I di Tegalarum mengajarkan satu prinsip luhur, bahwa rahmat Tuhan itu luas, melampaui penghakiman manusia.
Tanah yang “harum” di atas makam seorang raja yang pernah dianggap “keras” bisa jadi adalah simbol bahwa ampunan-Nya selalu tersedia bagi hamba yang kembali. Atau setidaknya, menjadi pengingat bagi kita yang masih hidup untuk senantiasa memperbaiki diri.
Mungkin, di balik kunjungan fisik ke tempat-tempat bersejarah seperti ini, ada perjalanan batin yang sedang terjadi. Kita diajak untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk ambisi duniawi, menundukkan kepala, dan menyadari bahwa sebesar apa pun kita di mata manusia, kita tetaplah hamba yang kecil di hadapan-Nya.
Dan dalam keheningan Tegalarum, kita belajar bahwa ketenangan sejati tidak datang dari kekuasaan, tapi dari kerelaan hati untuk menerima takdir dengan ikhlas dan terus berusaha menjadi lebih baik.
PortalJateng.id mencatat, Sejarah boleh mencatat Amangkurat I sebagai raja yang kontroversial. Tapi di Tegalarum, ia hanya seorang hamba yang kembali kepada Sang Pencipta. Dan di sanalah letak pelajaran terbesar, bahwa kita semua, sehebat apa pun, akan berakhir di tanah. Yang membedakan adalah bagaimana kita diingat. Dan apa yang kita tanam di sisa waktu yang ada.
Selamat merenung.



