SEMARANG, PortalJateng.id – Langkah kaki para Bhikkhu Thudong di atas aspal panas Jalan Raya Kaligawe terasa hening. Bukan karena sepi, tetapi karena ada ketenangan yang mengiringi setiap langkah.
Perjalanan spiritual “Walk For Peace” ini melintasi Kecamatan Genuk, Kota Semarang, pada Minggu (24/5/2026). Sebanyak 16 Bhikkhu Thudong bersama 50 relawan berjalan dalam suasana penuh kedamaian. Suasana ini tidak terjadi begitu saja. Ia adalah hasil sinergi erat antara aparat kepolisian, tokoh lintas agama, masyarakat, dan organisasi kepemudaan.
Suasana Kedamaian yang Terjaga
Polsek Genuk di bawah pimpinan Kompol Rismanto, S.H., M.H. , tidak hanya berperan sebagai pengaman. Mereka juga menjadi motor penyambutan yang humanis. Pengamanan jalur dari Jalan Raya Kaligawe Km 7 perbatasan Demak–Semarang hingga Masjid Jami Al Falah Genuksari berlangsung tertib dan kondusif.
Momen Lintas Agama yang Mengharukan

Puncak kebersamaan terjadi saat rombongan tiba di halaman Masjid Jami Al Falah sekitar pukul 11.30 WIB. Para Bhikkhu beristirahat dan makan siang di area masjid. Pemandangan itu sarat makna toleransi. Ramah tamah bersama Wali Kota Semarang, Forkompimcam, tokoh agama, dan masyarakat (sekitar 250 orang) menunjukkan bahwa perbedaan keyakinan tidak pernah menjadi penghalang untuk saling menghormati.
Tokoh-Tokoh Kunci yang Hadir
| Nama | Jabatan | Peran dalam Kegiatan |
|---|---|---|
| Dr. Wilujeng Agustina Pramestuti, S.S., M.M. | Wali Kota Semarang | Memimpin ramah tamah, memberikan dukungan penuh terhadap kegiatan toleransi |
| Kompol Rismanto, S.H., M.H. | Kapolsek Genuk | Memimpin langsung pengamanan & penyambutan |
| Pranyoto, A.P., M.M. | Camat Genuk | Fasilitasi kegiatan lintas sektor |
| Mayor Inf. Rahmatulloh | Danramil Genuk | Sinergi pengamanan |
| DR. Elly Asmara, S.STP., M.M. | Kabag Kesra Kota Semarang | Koordinasi unsur kemasyarakatan |
Unsur yang terlibat juga meliputi, FKUB, Banser, Pagar Nusa (sekitar 100 santri), Muhammadiyah, LDII, tokoh masyarakat, PKK Kecamatan Genuk, dan Banser Genuk yang mengawal hingga perbatasan Gayamsari.
Pengawalan Estafet yang Profesional
Pengamanan tidak berhenti di Genuk. Setelah rombongan melanjutkan perjalanan pukul 14.35 WIB menuju Vihara Mahabodhi, dilakukan pengawalan estafet. Polsek Genuk mengawal hingga perbatasan Gayamsari. Polsek Gayamsari melanjutkan pengawalan. Banser Genuk juga turut mengawal. Sistem ini memastikan keamanan berkelanjutan tanpa putus.
Rangkaian Hari Kedua (Senin, 25 Mei 2026)
Perjalanan spiritual berlanjut dengan agenda:
- Makan pagi bersama di Vihara Mahabodhi Semarang
- Ramah tamah di Kantor Gubernur Jawa Tengah
- Singgah di Vihara Tanah Putih
- Istirahat di Komplek Kodam IV/Diponegoro
- Perjalanan menuju POS 6 di Vihara Gunung Kalong, Ungaran
- Puja Bhakti, Sharing Dhamma, dan beristirahat malam di Ungaran
Makna Spiritual Perjalanan Thudong

“Berjalan Diam, Berbicara Sunyi, Makna Thudong di Antara Waisak dan Kebersamaan”
Setiap langkah kaki para Bhikkhu Thudong di atas aspal panas bukan sekadar perpindahan dari satu titik ke titik lain. Ada sesuatu yang lebih dalam bergema di balik jubah jingga yang berkibar lembut tertiup angin.
Perjalanan Thudong (Dhutanga) adalah tradisi kuno para pengikut Sang Buddha. Mereka memilih untuk berjalan kaki dalam jarak jauh tanpa tujuan materi. Di setiap hentakan kaki yang tenang, terkandung latihan melepaskan. Melepaskan kenyamanan, melepaskan kecepatan, melepaskan genggaman pada apa yang biasa disebut “milikku”.
Ketika 16 Bhikkhu itu melangkah dari Candi Sima, Donorojo, Jepara menuju Candi Sewu, Klaten, mereka sedang mempraktikkan kesadaran murni. Sadar setiap langkah, sadar setiap napas, sadar bahwa bumi yang dipijak adalah tempat persinggahan sementara bagi semua makhluk.
Berjalan Bersama, Sunyi yang Ramai
Meskipun para Bhikkhu berjalan dalam kebisuan, di sekeliling mereka justru ramai oleh kehadiran lintas iman. Kapolsek yang mengatur jalur, santri Pagar Nusa yang mengawal, Wali Kota yang menyambut, hingga masyarakat biasa yang menepi dan tersenyum. Semua menjadi bagian dari sebuah orkestra kebersamaan yang tak direncanakan.
Ada pelajaran diam-diam di sini: kedamaian sejati tidak membutuhkan kata-kata. Ia hadir ketika seseorang berjalan dengan ketenangan, dan ketenangan itu menular kepada setiap orang yang melihatnya.
Makan Siang di Halaman Masjid: Sebuah Simbol Tanpa Seremonial
Momen paling menggetarkan terjadi ketika para Bhikkhu duduk beristirahat dan makan siang di halaman Masjid Jami Al Falah Genuksari. Tidak ada pidato panjang tentang toleransi. Tidak ada spanduk seruan perdamaian. Hanya ada 40-an kaki bersandal yang beristirahat di tanah yang sama, di bawah naungan bangunan suci agama lain. Inilah bentuk paling jujur dari persaudaraan sejati. Ketika kita bisa berbagi ruang, berbagi makanan, dan berbagi keheningan, tanpa perlu mengubah keyakinan satu sama lain.
Waisak yang Dirayakan dengan Langkah, Bukan Sekadar Ritual
Perjalanan Walk For Peace ini adalah rangkaian menyambut Hari Raya Waisak 2570 BE. Namun, perayaan Waisak bagi para Bhikkhu Thudong tidak diukur dari seberapa meriahnya puja bhakti atau seberapa besarnya umat yang berkumpul. Waisak mereka adalah setiap langkah yang sunyi, setiap kesadaran yang terjaga, setiap kedamaian yang disebarkan tanpa paksaan. Ketika mereka tiba di Vihara Gunung Kalong, Ungaran pada malam hari dan melaksanakan Puja Bhakti serta Sharing Dhamma, itu bukan sekadar rangkaian acara. Melainkan penutupan sementara dari sebuah ziarah batin yang dimulai dari dalam.
Apa yang Tersisa dari Langkah-Langkah Itu?
Ketika rombongan melanjutkan perjalanan ke Klaten, yang tertinggal di jalanan Semarang bukanlah jejak kaki. Melainkan kesan yang tak kasat mata. Bahwa seseorang bisa berjalan jauh tanpa membawa beban kebencian. Bahwa perbedaan bisa dirangkul tanpa kekerasan. Bahwa kebahagiaan sejati tidak perlu diteriakkan, cukup dijalani, langkah demi langkah.
Seluruh rangkaian kegiatan berjalan aman, tertib, dan kondusif. Kehadiran aparat bersama elemen masyarakat menjadi gambaran nyata kuatnya toleransi, sinergitas, dan semangat persaudaraan antarumat beragama di Kota Semarang. Mereka datang tanpa suara. Mereka berjalan tanpa pamrih. Dan ketika mereka pergi, yang tersisa adalah keheningan yang berbicara lebih keras dari seribu kata.
Selamat berjalan, para peziarah sunyi. Selamat Waisak bagi seluruh makhluk, di mana pun berada.



