Sabtu, 29 Agustus 2026
28 C
Semarang

CJIBF 2026 Himpun Potensi Investasi Rp19,6 Triliun, Jateng Kejar Investasi Berkualitas

Berita Terkait

JAKARTA — Central Java Investment Business Forum (CJIBF) 2026 mencatat potensi rencana investasi sebesar Rp19,6 triliun dari 60 sesi one-on-one meeting (O3M) yang mempertemukan pemilik proyek dan pelaku usaha dengan calon investor.

Forum investasi yang digelar Pemerintah Provinsi Jawa Tengah bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah di Birawa Assembly Hall, Hotel Bidakara Jakarta, Kamis (27/8/2026), juga menghasilkan 37 Letter of Intent (LoI) dari 38 pelaku usaha.

Capaian tersebut memperkuat upaya Jawa Tengah menarik investasi berkualitas sekaligus mendorong minat investasi menjadi realisasi. Sebelumnya, CJIBF pada Mei 2026 mencatat 82 sesi O3M dengan 24 pelaku usaha yang menghasilkan 40 LoI atau kepeminatan investasi dengan nilai rencana sekitar Rp16,91 triliun.

Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Tengah M. Noor Nugroho mengatakan investasi menjadi salah satu sumber pertumbuhan ekonomi penting bagi Jawa Tengah. Karena itu, kualitas proyek dan keterhubungan dengan investor perlu terus diperkuat.

“KERIS JATENG terus diperkuat sebagai katalis kolaborasi dalam promosi investasi daerah, termasuk melalui peningkatan kualitas proyek pada Investment Challenge, promosi proyek berorientasi hijau, serta fasilitasi One-on-One Meeting untuk mempertemukan proyek yang siap ditawarkan dengan calon investor nasional maupun global,” kata Noor dalam CJIBF 2026.

Menurut dia, investasi yang masuk ke Jawa Tengah diharapkan tidak berhenti pada nilai penanaman modal, tetapi memberikan dampak lebih luas terhadap perekonomian daerah.

“Investasi berkualitas dan berkelanjutan diharapkan tidak hanya meningkatkan nilai investasi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja, meningkatkan produktivitas dan nilai tambah, memperkuat rantai pasok lokal dan peran UMKM, mendorong pemanfaatan teknologi, serta memperluas akses pasar dan ekspor,” ujarnya.

CJIBF 2026 menawarkan 26 proyek investasi yang telah berstatus clean and clear, termasuk empat proyek pemenang Investment Challenge (IC) 2026. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor energi terbarukan, pengelolaan limbah, manufaktur, pertanian dan hilirisasi pangan, logistik, kesehatan, pariwisata, serta pengembangan kawasan industri.

Sektor pariwisata menjadi salah satu bidang yang turut didorong karena memiliki efek aglomerasi terhadap berbagai sektor pendukung, mulai dari transportasi, akomodasi, restoran dan kuliner, atraksi dan hiburan, hingga industri kreatif. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga telah menetapkan pariwisata berkelanjutan sebagai salah satu fokus pembangunan daerah pada 2027.

Komitmen investasi dalam CJIBF 2026 turut diperkuat melalui sejumlah penandatanganan kerja sama. Di antaranya investasi PT Hyrecmas Garam Nusantara senilai Rp681,84 miliar untuk industri produksi garam di KEK Kendal, PT Hailex Technology Indonesia sebesar Rp175 miliar untuk industri sepatu olahraga di Kota Tegal, serta PT Cipta Kreasi Wisata sebesar Rp200 miliar untuk pengembangan perhotelan, mal, sport center, gym, dan agrowisata di Kabupaten Wonosobo.

Selain itu, PT Fayyad Industri Pangan Halal Terhubung menyatakan investasi Rp8,75 triliun untuk pengembangan kawasan industri pangan halal di Kabupaten Pemalang.

Ada pula penyerahan dokumen komitmen investasi PT Yosun Tire and Rubber Indonesia kepada PT Kawasan Industri Terpadu Batang. Perusahaan asal China di sektor otomotif tersebut berkomitmen mengembangkan kawasan industri sekitar 40 hektare di Kawasan Ekonomi Khusus Industropolis Batang dengan nilai transaksi Rp550 miliar dan komitmen investasi mencapai Rp4 triliun.

Investasi tersebut diproyeksikan menyerap sekitar 4.000 tenaga kerja dan memperkuat rantai pasok industri otomotif berorientasi ekspor.

Sementara itu, pengembangan energi terbarukan juga menjadi bagian dari agenda investasi melalui penandatanganan nota kesepahaman pengembangan E3i Java Project Waste to Energy antara Energy3 International, Inc. dan tujuh kabupaten/kota di Jawa Tengah. Nilai investasi dalam MoU tersebut mencapai Rp5,2 triliun.

Gubernur Jawa Tengah Komjen Pol. (P) Ahmad Luthfi menegaskan pemerintah daerah akan membangun iklim investasi yang cepat, mudah, dan pasti.

“Kami berkomitmen membangun iklim investasi yang cepat, mudah, dan pasti, sekaligus memperkuat ekosistem investasi melalui infrastruktur termasuk lahan, dukungan SDM, kawasan industri, dan berbagai insentif,” kata Luthfi.

Dia mengatakan arah kebijakan investasi Jawa Tengah ke depan akan difokuskan pada investasi yang meningkatkan nilai tambah melalui hilirisasi, mendorong pemerataan ekonomi, serta mempercepat investasi hijau dan proyek-proyek konkret yang siap ditawarkan kepada investor.

Dari sisi fundamental ekonomi, Jawa Tengah dinilai memiliki modal yang kuat untuk menarik investasi. Ekonomi Jawa Tengah tumbuh 5,71 persen secara tahunan (yoy) pada triwulan II 2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan ekonomi Pulau Jawa sebesar 5,65 persen dan nasional 5,29 persen.

Investasi yang tercermin dari Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) juga tumbuh 8,84 persen (yoy). Sementara itu, realisasi penanaman modal Jawa Tengah pada semester I 2026 mencapai Rp59,94 triliun, terdiri atas PMA Rp25,92 triliun, PMDN Rp22,62 triliun, dan UMK Rp11,40 triliun.

Realisasi tersebut berasal dari 55.989 proyek dan menyerap 213.217 tenaga kerja.

Noor menambahkan, Bank Indonesia bersama Pemprov Jawa Tengah akan terus memperkuat sinergi dengan pemerintah pusat, pemerintah kabupaten/kota, dunia usaha, lembaga keuangan dan pembiayaan, serta mitra strategis untuk mengawal kepeminatan investasi hingga tahap realisasi.

“Sinergi antar pihak menjadi landasan penting agar investasi dapat semakin berperan sebagai sumber pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang inklusif, berdaya saing, berdaya tahan, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat,” kata Noor.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru