Kamis, 3 September 2026
29 C
Semarang

Wagub Taj Yasin Jajaki Kerja Sama ACI, Santri Jateng Berpeluang dapat Beasiswa ke Turki

Berita Terkait

SEMARANG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menjajaki kerja sama dengan Awwamah Center Indonesia (ACI), untuk memperluas kesempatan pendidikan bagi santri.

Salah satu yang dibahas adalah peluang beasiswa bagi santri Jawa Tengah untuk memperdalam ilmu hadis di Turki.

Penjajakan kerja sama itu dibahas Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen saat menerima kunjungan Direktur Awwamah Center Indonesia, Syekh Muhyiddin ‘Awwamah, di rumah dinasnya, Semarang, Kamis, 3 September 2026.

Taj Yasin mengatakan, Syekh Muhyiddin datang untuk memperkenalkan lembaga pendidikan yang dikelolanya di Turki sekaligus menawarkan program beasiswa bagi santri yang ingin memperdalam ilmu hadis.

“Beliau memberikan beasiswa kepada santri-santri yang ingin melanjutkan pendidikan, khususnya pendidikan hadis di pondok beliau,” kata Taj Yasin, yang memimpin Jawa Tengah bersama gubernur Ahmad Luthfi.

Menurut dia, salah satu program yang ditawarkan berupa pembelajaran selama satu tahun secara daring. Setelah mengikuti pembelajaran dan ujian, peserta lulus akan diberangkatkan ke Turki. Di sana akan mengikuti pendidikan secara langsung selama sekitar satu bulan. Selama berada di Turki, peserta akan mendapatkan fasilitas tempat tinggal dan konsumsi.

Tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini menilai tawaran tersebut sejalan dengan upaya Pemprov Jateng dalam menyukseskan program Pesantren Obah dan memperluas akses pendidikan bagi santri. Apalagi, Jawa Tengah memiliki sekitar 5.378 pondok pesantren.

Pemprov Jateng sendiri mulai mengembangkan program beasiswa bagi santri melalui Lembaga Fasilitasi Sinergi Pesantren (LFSP) Jawa Tengah. Tahun ini, ada 73 santri dan pengasuh pesantren asal Jawa Tengah yang mendapat kesempatan memperoleh beasiswa pendidikan jenjang S1 dan S2. Dari jumlah tersebut, 15 santri diantaranya melanjutkan pendidikan ke sejumlah negara, di antaranya Yaman, Mesir, dan China.

“Tidak menutup kemungkinan kami juga akan melakukan kerja sama dengan Ma’had beliau (Awwamah Center Indonesia),” kata Taj Yasin.

Sementara itu, Direktur ACI, Syekh Muhyiddin ‘Awwamah mengatakan, tawaran kerja sama dengan Indonesia merupakan bagian dari upaya memperluas pendidikan ilmu hadis. Saat ini, lembaganya telah memiliki jaringan dengan lembaga pendidikan di lebih dari 70 negara dan sekitar 250 pusat pendidikan hadis.

Khusus di Indonesia, Awwamah Center telah menjalin kerja sama dengan sekitar 40 lembaga pendidikan, termasuk pesantren, perguruan tinggi, dan lembaga pendidikan keagamaan.

Menurut Muhyiddin, Indonesia memiliki potensi besar untuk mengembangkan pendidikan hadis karena memiliki jumlah pesantren yang sangat banyak dan perhatian terhadap pendidikan keagamaan.

Namun, ia menilai pendidikan ilmu hadis secara khusus masih perlu diperkuat. Menurutnya, selama ini banyak lembaga pendidikan lebih fokus pada bidang seperti fikih, tasawuf, akidah, dan bahasa Arab.

Sementara itu, lembaga yang secara khusus membina kader untuk mendalami ilmu hadis masih relatif terbatas.

“Dalam bidang ilmu hadis itu masih jarang dari ulama kita di Indonesia maupun di luar negeri yang betul-betul fokus untuk memperhatikan dan mengkader murid-muridnya dalam memperdalam bidang ilmu hadis,” ujarnya.

Ia mengatakan, Awwamah Center telah melakukan pembinaan terhadap para santri dari lembaga-lembaga pendidikan yang bekerja sama melalui pembelajaran daring selama sekitar satu tahun terakhir.

Para peserta mengikuti pembelajaran secara bertahap dan menjalani ujian pada setiap tahap. Mereka yang berhasil menyelesaikan tahapan tersebut berkesempatan mengikuti pendidikan intensif selama satu bulan di Turki.

Selama di Turki, para peserta akan belajar langsung kepada Syekh Muhyiddin ‘Awwamah dan ayahandanya, Syekh Al-Alamah Muhammad ‘Awwamah.

Setelah kembali ke Indonesia, pembinaan tidak berhenti. Para peserta akan mendapatkan pendidikan lanjutan agar dapat mengembangkan kemampuan mereka sekaligus mengajarkan ilmu yang diperoleh kepada santri lain di pesantren atau mahasiswa di lembaga pendidikan masing-masing.

Selain ilmu hadis, peserta juga akan dibekali kemampuan meneliti dan mengkaji naskah-naskah kuno karya para ulama.

“Sehingga nantinya mereka bisa pulang membawa ilmu selain daripada ilmu hadis, mereka juga memiliki kapasitas keilmuan yang sangat tinggi dalam penelitian manuskrip kuno,” katanya.

Syekh Muhyiddin merupakan ulama kelahiran Aleppo, Suriah. Ia kemudian tinggal di Madinah selama sekitar 49 tahun sebelum pindah ke Turki. Ia mengatakan kepindahannya ke Turki dilakukan setelah mendapat undangan khusus dari Presiden Recep Tayyip Erdogan untuk mengembangkan ilmu hadis di negara tersebut.

Kunjungan ke Jawa Tengah kali ini merupakan kunjungan keduanya setelah kunjungan pertama pada 2025. Menurut dia, kunjungan kali ini merupakan tindak lanjut dari berbagai program pendidikan yang telah dijalankan bersama lembaga-lembaga pendidikan di Indonesia selama sekitar satu tahun terakhir.

Ia berharap kerja sama dengan Indonesia, khususnya Jawa Tengah, dapat semakin diperluas sehingga semakin banyak kader pesantren yang memiliki kemampuan mendalam di bidang ilmu hadis.

Di akhir pertemuan, Pemprov Jateng, LFSP, dan ACI menandatangani Minutes of Meeting (MoM) sebagai dasar untuk penyusunan kerja sama melalui Memorandum of Understanding (MoU).(*)

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru