Oleh: Ajipasa Lukadinata
Catatan Redaksi, PortalJateng.id – Saya sedang duduk di warung. Seperti biasa. Sore itu, sambil meracik bumbu, saya menonton layar ponsel kecil yang menampilkan berita demi berita, “Ratusan Siswa Keracunan MBG”… “Sumber Makanan Diduga Tercemar”… “Kepala BGN, 833 SPPG Ditutup”…
Lalu saya berhenti sejenak. Melihat tangan saya yang masih memegang bawang putih. Saya menatap piring-piring yang baru saja saya cuci. Dan tiba-tiba, saya bertanya pada diri sendiri. Apa sebenarnya yang sedang terjadi di negeri ini? Bukan dengan marah. Bukan dengan sinis. Tapi dengan rasa ingin tahu yang jernih.
Ketika Bantuan Menjadi Lukisan yang Buram
Niat baik meluncur dari atas. Setinggi langit. Anggaran digelontorkan, infrastruktur dibangun, dan jutaan porsi makanan disiapkan setiap hari. Program Makan Bergizi Gratis lahir dari keyakinan bahwa negara harus hadir di meja makan rakyatnya.
Itu mulia.
Tapi di tengah perjalanan, sesuatu tersumbat. Di antara angka 43.838 korban keracunan dan 833 SPPG yang ditutup, ada cerita yang tidak pernah sampai ke permukaan. Cerita tentang anak-anak yang menangis bukan karena takut, tapi karena mereka lapar dan harapan mereka terhadap program itu begitu besar.
Dan cerita tentang mereka yang bertanggung jawab, tapi mungkin terlalu sibuk dengan target, terlalu lelah dengan sistem, sehingga lupa bahwa makanan yang mereka antar adalah amanah yang akan dipertanggungjawabkan di akhirat.
Ada sebuah benang merah yang menarik, jika program ini bukan sekadar proyek, tapi bagian dari cara kita memuliakan manusia, mengapa begitu banyak yang terluka?
Titipan dari Yang Ghaib
Dalam sunyi, saya diingatkan pada sebuah pelajaran lama, “Gusti Allah ki maha sempurna, iso nang endi wae. Ora nang masjid tok, nang pura, vihara, nang omah-omah...” (Guru Tomi, 2010).
Jika Gusti ada di mana-mana, maka setiap butir makanan yang kita siapkan, setiap porsi yang kita distribusikan adalah tempat singgah-Nya. Ketika makanan itu menyakiti, maka yang terluka bukan hanya perut anak-anak, tapi juga relasi kita dengan Yang Memberi Rezeki.
Apakah kita masih ingat bahwa hakikat memberi bukan tentang berapa besar anggaran, tapi tentang seberapa dalam kita menjaga amanah?
Belajar dari Nyawa, Belajar dari Rasa
Ada yang mengatakan, “Sistem memang belum sempurna.” Dan itu benar. Tapi ada yang lebih dalam dari sekadar sistem, kesadaran.
Di setiap 50.000 kasus keracunan yang tercatat, ada satu pertanyaan yang tidak terdengar di media, “Bagaimana jika anak-anak itu adalah anak saya?”
Ketika kita mulai membayangkan anak kita sendiri menahan sakit karena makanan yang seharusnya memberi energi, yang terjadi bukan amarah, tapi kesadaran. Kesadaran bahwa kita semua adalah bagian dari rantai amanah yang panjang. Dari petani yang menanam, pengolah yang memasak, distributor yang mengantar, hingga pejabat yang merancang.
Saya sering merenungkan hal ini di warung saya yang kecil. Ketika saya menyajikan sepiring nasi untuk pelanggan, saya selalu berdoa, “Mugo-mugo iki dadi berkah, dudu cobaan.” Mungkin itu yang juga harus kita doakan untuk setiap porsi MBG yang disajikan.
Ketika Hening Bicara Lebih Keras
Di saat hiruk-pikuk berita, mungkin kita diajak untuk sesekali diam. Menutup layar ponsel. Menatap langit. Mendengarkan apa yang ingin disampaikan semesta.
Gunung meletus. Gelombang MBG meracuni. Semua mungkin bukan kebetulan, tapi isyarat.
Isyarat bahwa kita perlu berhenti, mengatur napas, dan bertanya, “Apa yang sedang terjadi pada cara kita memelihara kehidupan?”
Menjaga Amanah, Merawat Rasa
Akhirnya, yang tersisa bukanlah sekadar tuntutan untuk memperbaiki sistem. Itu penting, tapi itu urusan para pembuat kebijakan.
Yang tersisa untuk kita warga biasa, pemilik warung, bapak-bapak bahkan ibu-ibu yang kadang diam, adalah menjaga kesadaran. Menjaga agar setiap kali kita memberi, kita memberi dengan kehadiran penuh. Menjaga agar setiap kali kita menerima amanah, kita mengelolanya dengan hati yang takut kepada Yang Mengawasi.
Anak-anak yang sakit itu bukan statistik. Mereka adalah titipan yang terluka, menunggu kita sadar.
“Mugo-mugo tulisan iki dadi pangeling sing alus, ora nggurui, nanging mbukak lawang ati kanggo sapa wae sing maca.”



