SEMARANG – Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen bersama Bunda Literasi Jateng Hj. Nawal Arafah Yasin, M. s. I, menghadiri peluncuran Festival Literasi yang berlangsung mulai Jumat 11 September – Minggu 13 September 2026, di Mall Uptown BSB Kota Semarang.
Peluncuran dihadiri sejumlah kepala daerah kabupaten/kota, Bunda Literasi Provinsi Jateng, dan Bunda Literasi di sejumlah kabupaten/kota di Jawa Tengah.
Dalam sambutannya, Bunda Literasi Jawa Tengah, Hj. Nawal Arafah Yasin, mendorong masyarakat untuk membangun literasi dan gemar membaca. Dia berharap, melalui berbagai upaya, tingkat Indeks Pembangunan Literasi Masyarakat (IPLM) dan Tingkat Kegemaran Membaca (TKM) di Jawa Tengah dapat menembus peringkat tiga tingkat nasional.
Salah satu usulan yang disampaikan Nawal kepada Pemprov Jateng adalah menyediakan fasilitas buku bacaan di moda transportasi umum BRT Trans Jateng. Langkah ini dinilai strategis untuk memanfaatkan tingginya mobilitas masyarakat sekaligus menumbuhkan budaya membaca di ruang publik.
Nawal mengungkapkan, lonjakan penumpang Trans Jateng yang sangat signifikan—terdiri dari kalangan pelajar, mahasiswa, pekerja, hingga ibu-ibu—menjadi peluang besar untuk mendekatkan akses literasi kepada masyarakat di tengah perjalanan mereka.
“Saya mengusulkan agar di Trans Jateng bisa diberikan fasilitas buku-buku bacaan bagi para penumpang, karena Trans Jateng saat ini mengalami lonjakan penumpang yang sangat luar biasa. Jadi, para penumpang bisa menikmati perjalanan sambil membaca buku,” ujar Nawal.
Menurutnya, penumbuhan budaya membaca tidak boleh terbatas di lingkungan sekolah atau perpustakaan formal saja, melainkan harus hadir di berbagai sarana publik dan lingkungan keluarga.
Selain mendorong akses buku di transportasi umum, Nawal menekankan bahwa tantangan literasi saat ini tidak lagi sekadar kemampuan bebas aksara (baca-tulis), melainkan mencakup literasi digital dan kemampuan berpikir kritis dalam menyaring informasi bohong (hoax).
Ia juga menyoroti pentingnya transformasi perpustakaan daerah agar tidak lagi terkesan kaku, sepi, atau penuh larangan. Perpustakaan diharapkan bisa bertransformasi menjadi ruang publik yang interaktif, terintegrasi dengan kafe, co-working space, hingga wadah kreativitas anak muda.
“Literasi bukan tentang siapa yang paling banyak membaca, tetapi siapa yang menjadikan pengetahuan sebagai kekuatan untuk melakukan perubahan dan kemanfaatan serta kemaslahatan bagi masyarakat,” tegas Nawal.
Melalui ajakan ini, ia berharap indeks literasi dan kegemaran membaca di Jawa Tengah dapat terus meningkat secara signifikan, serta menjadikan kebiasaan membaca sebagai bagian dari gaya hidup masyarakat sehari-hari.
Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah, Rahmah Nur Hayati dalam sambutannya mengatakan, festival literasi ini bertujuan menghidupkan kembali minat membaca, menulis, dan berpikir kritis masyarakat, sekaligus memperkuat kolaborasi ekosistem literasi daerah.
Festival ini merangkul berbagai kalangan. Mulai dari anak usia dini, pelajar, santri, penyandang disabilitas, hingga penggiat literasi, seniman, dan instansi pemerintah. Sejumlah institusi turut berpartisipasi aktif, seperti Dinas Kearsipan Kabupaten/Kota se-Jateng, Bank Indonesia, Bank Jateng, hingga jajaran penerbit nasional dan komunitas literasi perguruan tinggi.
Salah satu acara yang menarik perhatian masyarakat adalah bedah buku bersama penulis ternama Tere Liye, workshop penguatan literasi bersama Bunda Literasi Provinsi Jawa Tengah, pertunjukan monolog, serta seminar literasi santri.
Selain itu juga digelar berbagai lomba kreasi pelajar. Meliputi lomba band akustik SMA/SMK. Hari kedua diisi debat mahasiswa dan pentas ekspresi budaya. Sedangkan hari terakhir, akan ditutup dengan lomba mewarnai, mendongeng bersama Kak Kempo, serta kompetisi drum band anak TK.***



