Kamis, 1 Oktober 2026
37.8 C
Semarang

Produksi Jagung Tembus 3,7 Juta Ton, Jateng Perkuat Ketahanan Pangan Nasional

Berita Terkait


SUKOHARJO
– Jawa Tengah tak hanya mengandalkan padi untuk mempertahankan posisinya sebagai salah satu lumbung pangan nasional. Produksi jagung yang mencapai jutaan ton per tahun kini menjadi kekuatan lain yang terus digenjot, sekaligus menopang kebutuhan pangan dan industri pakan.

Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, mengatakan, produksi jagung Jateng pada 2025 mencapai sekitar 3,7 juta ton. Sementara hingga September 2026, produksinya telah mencapai 2,68 juta ton.

“Jadi di Jawa Tengah tetap meneguhkan sebagai lumbung pangan nasional, tidak hanya padi tetapi juga jagung,” kata Ahmad Luthfi saat Panen Raya Jagung di lahan Gapoktan Krido Dharmo, Desa Karanganyar, Kecamatan Weru, Kabupaten Sukoharjo, Kamis (1/10/2026).

Besarnya produksi tersebut membuat Jateng menjadi salah satu daerah penting dalam pasokan jagung nasional.

Berdasarkan Angka Tetap BPS 2025, produksi jagung Jateng mencapai 3,7 juta ton pipilan kering dengan kadar air 28 persen, atau sekitar 17,02 persen dari produksi nasional. Angka itu menempatkan Jateng sebagai produsen jagung terbesar kedua secara nasional.

Bagi Luthfi, menjaga capaian tersebut bukan semata soal meningkatkan produksi. Pemerintah harus memastikan petani memiliki lahan, air, pupuk, benih, hingga dukungan alat dan mesin pertanian yang memadai.

Persoalan air menjadi salah satu perhatian utama. Sebab, produktivitas lahan sangat bergantung pada kepastian pasokan air, terutama ketika petani harus berproduksi di tengah perubahan musim.

“Masyarakat petani itu tidak akan bertanya tersier, sekunder, primer punya siapa. Prinsipnya airnya harus sampai (lahan pertanian),” tegas Luthfi yang memimpin Jawa Tengah bersama Wagub Taj Yasin.

Menurut Luthfi, sumber air untuk pertanian dapat diperkuat melalui berbagai skema, mulai sumur dalam, sumur dangkal, jaringan irigasi hingga embung. Pemerintah juga memastikan ketersediaan pupuk agar petani tidak menghadapi kendala saat memasuki musim tanam.

Ia optimistis produksi pangan Jateng masih dapat ditingkatkan. Salah satu indikasinya, panen jagung tetap berlangsung meski sebagian wilayah memasuki musim kemarau. Sementara memasuki musim penghujan, luas tanam diperkirakan kembali meningkat.

Kepala Dinas Pertanian dan Perkebunan Jawa Tengah, De Fransisco Da Silva Tavares, mengatakan, panen di Sukoharjo menjadi bagian dari strategi menjaga produksi jagung Jateng.

Hingga saat ini, capaian produksi berada di kisaran 72 persen dari target 3,7 juta ton. Sukoharjo menjadi salah satu daerah yang ikut menopang produksi tersebut.

“Produksi kita sekarang sudah sekitar 72 persen dari target. Ini terus kita dorong sampai akhir tahun,” kata Frans, sapaan akrabnya.

Menurut dia, peningkatan produksi tidak cukup hanya dilakukan dari sisi budidaya. Infrastruktur pertanian, mekanisasi, benih, hingga penanganan pascapanen juga perlu diperkuat agar hasil panen memberikan nilai ekonomi yang lebih besar bagi petani.

Salah satunya melalui rehabilitasi jaringan irigasi tersier. Tahun ini, lebih dari 300 paket penanganan jaringan irigasi tersier dilakukan di berbagai wilayah Jawa Tengah.

Pemerintah juga memberikan dukungan alat dan mesin pertanian untuk membantu petani sejak pengolahan lahan, penanaman, panen hingga pascapanen.

Dari sisi benih, Pemprov Jateng memberikan stimulan benih jagung hibrida melalui APBD untuk lahan seluas 3.200 hektare. Sementara dukungan APBN yang telah terealisasi melalui kontrak mencapai 87.867 hektare di 21 kabupaten dan dua kota.

Dukungan tersebut menjadi penting karena jagung tidak hanya berkaitan dengan pendapatan petani, tetapi juga memiliki mata rantai ekonomi yang panjang.

Frans menyebut harga jagung pipilan saat ini berada di kisaran Rp 7.000-Rp 7.500 per kilogram, meski harga dipengaruhi kadar air.

“Harganya juga bagus. Saat ini jagung pipilan sudah sampai Rp7.000 lebih, bahkan Rp7.500. Tapi kadar air memengaruhi,” ungkapnya.

Jagung memiliki pasar yang relatif kuat karena menjadi salah satu bahan baku utama industri pakan. Karena itu, menurut Frans, peningkatan produksi harus diikuti dengan pengelolaan pascapanen dan penyerapan hasil yang baik.

Dengan demikian, petani tidak hanya didorong untuk menghasilkan jagung dalam jumlah besar, tetapi juga memperoleh nilai tambah dari hasil panennya.

Produksi jagung Jateng sempat terdampak kondisi musim pada Agustus dan September 2026. Namun, luas tanam diperkirakan kembali meningkat pada Oktober hingga November.

Dijelaskan, berdasarkan data Pemprov Jateng, produksi jagung hingga Oktober 2026 diperkirakan mencapai sekitar 3,09 juta ton, dengan perkiraan luas panen pada Oktober sekitar 47,5 ribu hektare.

Capaian tersebut menunjukkan bahwa jagung semakin menjadi bagian penting dari strategi ketahanan pangan Jateng.

Di tengah kebutuhan jagung yang tidak hanya berasal dari konsumsi pangan tetapi juga industri pakan, menjaga produksi berarti menjaga mata rantai yang lebih luas.

Mulai dari lahan petani, harga hasil panen, industri pakan, hingga ketersediaan pangan masyarakat. Jagung Jateng telah menjadi salah satu penyangga lumbung pangan daerah sekaligus bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional.*

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru