SEMARANG – PT Bangun Cipta Karya Indonesia (BCKI), anak usaha pengembang properti Fasindo, menggandeng PT Handyman Smart Teknologi untuk memperluas penerapan teknologi smart home pada proyek hunian di Semarang, Jawa Tengah. Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi BCKI meningkatkan daya saing produk properti sekaligus membuka peluang ekspansi pasar bagi Handyman.
Kerja sama tersebut menyasar kebutuhan hunian modern yang tidak hanya mengandalkan kualitas bangunan, tetapi juga dilengkapi fitur keamanan, otomatisasi, dan kemudahan pengoperasian perangkat rumah tangga.
Direktur PT Bangun Cipta Karya Indonesia, Laindra Winarto, mengatakan, penerapan teknologi rumah pintar menjadi salah satu opsi untuk meningkatkan nilai tambah hunian yang dikembangkan perusahaan.
“Bagi BCKI, kualitas hunian tidak hanya dilihat dari konstruksi bangunan, tetapi juga dari kenyamanan, keamanan, dan kemudahan bagi penghuninya. Melalui kerja sama dengan Handyman Smart Teknologi, kami berkomitmen menghadirkan inovasi smart home sebagai nilai tambah untuk menghasilkan hunian modern yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,” ujar Laindra dalam acara kerja sama BCKI dan Handyman di Semarang, Rabu (21/10/2026).
BCKI saat ini menangani tujuh proyek perumahan di Semarang yang tersebar di sejumlah kawasan, antara lain Mangunharjo, Ketileng, Bandardowo, Bangetayu, Ngaliyan, dan Mijen. Perusahaan juga memiliki proyek di Cikarang dan Cirebon.
Dengan portofolio proyek tersebut, BCKI membuka peluang untuk menerapkan teknologi rumah pintar sesuai karakteristik hunian dan segmen konsumen yang dibidik. Perusahaan sebelumnya telah mulai menggunakan perangkat smart door lock atau kunci pintu pintar.
Laindra mengatakan, pertimbangan biaya menjadi salah satu aspek dalam keputusan pengembang mengadopsi teknologi tersebut.
“Awalnya kami berpikir biaya smart home akan mahal. Ternyata masih bisa terjangkau sehingga kami mulai menerapkannya,” katanya.
Menurut Laindra, penambahan fitur rumah pintar perlu mempertimbangkan kebutuhan konsumen dan struktur harga jual. Dengan demikian, teknologi dapat menjadi nilai tambah produk tanpa menimbulkan beban biaya yang berlebihan bagi pengembang maupun pembeli.
Handyman perluas penetrasi pasar

Bagi Handyman Smart Teknologi, kerja sama dengan BCKI menjadi salah satu peluang untuk memperluas jangkauan bisnis di Jawa Tengah. Perusahaan sebelumnya telah memasang sistem rumah pintar di sejumlah proyek properti di Surabaya dan kota lainnya.
Direktur Operasional PT Handyman Smart Teknologi, Jeffry Candra Suwono, menilai Semarang memiliki peluang pengembangan pasar rumah pintar seiring meningkatnya kebutuhan konsumen terhadap hunian yang praktis dan aman.
“Kebutuhan masyarakat terhadap hunian sekarang sudah berubah. Orang tidak hanya cari tempat tinggal yang nyaman, tapi juga yang aman dan praktis. Di proyek BCKI ini, kami masuk membawa sistem otomatisasi dan proteksi keamanan yang mudah dipakai sehari-hari oleh siapa saja di rumah, bahkan oleh anggota keluarga yang awam teknologi sekalipun lewat smartphone,” ujar Jeffry.
Handyman menawarkan tiga kategori solusi, yakni home control, access control, dan security. Solusi home control memungkinkan penghuni mengendalikan perangkat seperti lampu, televisi, pendingin ruangan atau AC, serta tirai. Adapun access control mencakup kunci pintu pintar, sedangkan kategori security meliputi CCTV, sensor, dan alarm.
Sejumlah perangkat yang kompatibel dapat dikendalikan melalui aplikasi di ponsel. Sistem tertentu juga mendukung pengaturan otomatis berdasarkan jadwal dan perintah suara, bergantung pada fitur serta kompatibilitas perangkat.
Jeffry mengatakan, teknologi rumah pintar kini tersedia dalam berbagai rentang harga sehingga penerapannya tidak harus terbatas pada hunian kelas atas.
“Di pasaran, perangkat smart home ada yang harganya mahal dan ada juga yang cukup terjangkau. Bahkan, perangkat tertentu tersedia dengan harga sekitar Rp 1 juta,” katanya.
Meski demikian, harga perangkat tersebut tidak serta-merta mencerminkan biaya keseluruhan sistem rumah pintar. Total investasi akan bergantung pada jenis perangkat, jumlah titik pemasangan, kebutuhan instalasi, serta fitur yang dipilih.
Biaya dan kemudahan instalasi jadi pertimbangan
Selain harga, kemudahan pemasangan dan layanan purnajual menjadi aspek yang ditawarkan Handyman. Sejumlah perangkat menggunakan konsep plug and play, sehingga dapat dipasang tanpa renovasi besar, sepanjang sesuai dengan kondisi instalasi dan spesifikasi teknis rumah.
Perusahaan juga menyediakan layanan customer support untuk membantu pengguna memahami pengoperasian perangkat serta kebutuhan penambahan fitur. Garansi diberikan sesuai ketentuan yang berlaku.
Pengendalian perangkat yang kompatibel dapat dilakukan melalui aplikasi Handyman Pro yang tersedia bagi pengguna Android dan iOS.
Bagi pengembang, fleksibilitas penerapan menjadi salah satu pertimbangan dalam menentukan jenis teknologi yang akan ditawarkan. Fitur dasar seperti kunci pintu pintar dapat diprioritaskan pada proyek tertentu, sedangkan hunian dengan kebutuhan lebih lengkap dapat dilengkapi sistem otomatisasi dan keamanan yang terintegrasi.
Laindra mengatakan, BCKI akan mempertimbangkan karakteristik proyek, segmen harga, serta kebutuhan konsumen dalam mengembangkan penerapan teknologi tersebut.
“Dengan adanya smart home, kami berharap bisa memberikan nilai tambah pada bangunan yang dikembangkan BCKI. Konsumen memiliki banyak pilihan, sehingga kami perlu menghadirkan keunggulan untuk meningkatkan daya saing,” kata Laindra.
Ke depan, kerja sama kedua perusahaan membuka peluang penerapan teknologi rumah pintar pada proyek-proyek berikutnya. Bagi BCKI, strategi ini diarahkan untuk memperkuat daya saing produk hunian, sementara Handyman berpeluang memperluas penetrasi pasar melalui kolaborasi dengan pengembang properti.











