Kamis, 16 April 2026
30.9 C
Semarang

Ngaji Jurnalistik IJTI: Menjaga Etika dan Nurani di Tengah Gempuran AI

Sebelum bicara kebenaran, etika lebih dulu.

Berita Terkait

JAKARTA – Di tengah derasnya arus digital dan kecerdasan buatan yang kian merasuk ke berbagai sendi kehidupan, Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) memilih untuk berhenti sejenak, merenung. Bukan sekadar mengikuti teknologi, tapi bertanya, di mana letak manusia di dalamnya?

Mengusung tema “Menjaga Etika, Kebenaran dan Nurani di Era AI”, IJTI menggelar Ngaji Jurnalistik di Hall Dewan Pers, Jakarta, Jumat (27/2/2026). Acara yang dikemas dalam suasana Ramadan ini menjadi ruang refleksi bagi para jurnalis televisi untuk kembali ke fitrah, bahwa profesi ini bukan sekadar menyampaikan informasi, tapi juga menjaga moral dan nurani.

“Pers Harus Survive, Tapi Etika Lebih Dulu”

Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, membuka diskusi dengan pernyataan yang menggedor kesadaran. Menurutnya, disrupsi adalah hukum alam yang tak terelakkan. Pers harus mampu bertahan di tengah perubahan. Namun satu hal yang tak boleh ikut tergerus, yaitu etika.

“Di tengah disrupsi, pers harus survive, itu hukum alam. Tapi yang harus tetap dijaga adalah etika. Etika kaitannya dengan hati dan rasa. Sebelum bicara kebenaran, etika lebih dulu,” ujar Komaruddin di hadapan para jurnalis yang hadir.

Pernyataan ini menjadi pondasi diskusi yang kemudian berlanjut ke sesi panel menghadirkan sejumlah narasumber, Dahlan Dahi (Ketua Komisi Digital dan Sustainability Dewan Pers), Yunes Herawati (perwakilan Bappenas), Heru Tjatur (Kabid Teknologi AMSI), dan Usman Almarwan (Sekretaris Jenderal IJTI).

Jurnalisme Manusia vs Mesin Empati yang Tak Bisa Digantikan

Sekjen IJTI, Usmar Almarwan, menegaskan bahwa teknologi hanyalah alat. Ia bisa mempercepat kerja, menganalisis data, bahkan menulis berita dalam hitungan detik. Tapi satu hal yang tak akan pernah dimiliki AI, yaitu nurani.

“Teknologi hanyalah alat. Ia bisa mempercepat kerja, tetapi tidak memiliki nurani. Jurnalisme adalah profesi berbasis nurani dan kebenaran,” tegas Usmar.

Menurutnya, tantangan terbesar jurnalis saat ini bukan sekadar mampu mengoperasikan teknologi, tapi memastikan bahwa setiap informasi yang disebarluaskan tetap menjunjung tinggi etika. Pemanfaatan AI yang tidak sesuai aturan, kata dia, bisa membuat jurnalisme menjadi “dingin”, kehilangan empati, kehilangan keberpihakan pada kaum rentan, dan kehilangan integritas. Padahal, justru itulah ciri khas jurnalisme manusia yang tak bisa ditiru mesin.

Bukan Sekadar Diskusi, Tapi Aksi Berbagi

Ngaji Jurnalistik ini tak hanya berisi diskusi. Di penghujung acara, IJTI juga menyalurkan santunan untuk 20 anak yatim dari As Suhaimiyah, Kebon Sirih, Jakarta. Kehadiran anak-anak ini menjadi pengingat bahwa di balik hiruk-pikuk teknologi dan kecepatan informasi, masih ada ruang untuk kehangatan dan kebersamaan.

Herik Kurniawan, Ketua Umum IJTI, menyampaikan bahwa kegiatan ini merupakan perpaduan antara penguatan kapasitas jurnalis dan kepedulian sosial.

“Selain berbagi pengetahuan untuk jurnalis televisi, kita juga berbagi kebahagiaan dengan warga sekitar. Ramadan adalah momen istimewa untuk mempererat silaturahmi melalui tradisi berkumpul seperti buka puasa bersama,” ujar Herik.

Suasana hangat terasa saat para jurnalis duduk bersama anak-anak yatim, berbincang, dan melepas penat sejenak dari rutinitas liputan yang menuntut kecepatan.

Catatan Redaksi

Di era di mana algoritma bisa menulis berita dalam hitungan detik, pertanyaan mendasar justru muncul dari dalam diri, apa yang tersisa dari jurnalisme jika nurani dilepas ke mesin?

Ngaji Jurnalistik IJTI kali ini seperti oase di tengah padang gurun digital. Bukan anti-teknologi, bukan pula romantisme masa lalu. Tapi pengingat bahwa kecepatan tanpa etika adalah bencana. Bahwa AI bisa menulis, tapi tak bisa merasakan. Bisa menganalisis, tapi tak bisa berempati. Bisa menyajikan data, tapi tak bisa menangis melihat ketidakadilan.

Pesan Komaruddin Hidayat menggema, “Sebelum bicara kebenaran, etika lebih dulu.” Karena kebenaran tanpa etika bisa jadi keangkuhan. Tapi etika tanpa kebenaran? Itu omong kosong.

Di bulan yang suci ini, para jurnalis diajak bukan hanya puasa dari makan dan minum, tapi juga puasa dari tergesa-gesa, puasa dari melupakan nurani. Karena pada akhirnya, jurnalisme yang bermartabat lahir bukan dari mesin tercanggih, tapi dari hati yang paling jernih.

Selamat bertugas, kawan-kawan jurnalis. Tetaplah manusia di tengah gempuran mesin. Karena di tangan kitalah masa depan jurnalisme, bukan sekadar cepat, tapi juga bermakna.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru