SEMARANG, PortalJateng.id – Di tengah hiruk-pikuk pergerakan jutaan pemudik yang melintasi Tol Trans Jawa, Menteri Lingkungan Hidup Hanif Faisol Nurofiq memilih turun langsung ke lapangan. Bukan sekadar memantau arus lalu lintas, ia menyisir sejumlah rest area dari KM 57 hingga KM 429 untuk memastikan satu hal, kenyamanan pemudik tidak boleh dikorbankan oleh gunungan sampah.
“Ini adalah simpul pertemuan masyarakat, sehingga diharapkan bisa menjadi contoh penanganan sampah dan mengubah kebiasaan masyarakat,” ujar Hanif dalam keteranganya, Jumat (14/3/2026).

Aksi nyata menteri ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden untuk menjaga kenyamanan mudik, terutama dalam hal penanganan sampah. Ia mengkampanyekan gerakan “Mudik Minim Sampah” serta pentingnya memilah sampah sejak dari rumah hingga selama perjalanan.
Ancaman 72 Ribu Ton Sampah
Langkah Hanif tidak berlebihan. Berdasarkan data Kementerian Perhubungan, jumlah pergerakan masyarakat selama Lebaran 2026 diprediksi mencapai 143,91 juta orang. Kementerian Lingkungan Hidup memperkirakan mobilitas masif ini berpotensi menghasilkan timbulan sampah hingga 71.960 ton di berbagai fasilitas publik, termasuk rest area, terminal, stasiun, dan pelabuhan.
“Kalau idealnya penanganan sampah di terminal memang harus memiliki fasilitas. Namun demikian yang tidak kalah penting adalah pemilihannya,” tegas Hanif dalam keterangan terpisah.
Jasa Marga: Sampah Bukan Sekadar Urusan Angkut
Di sinilah program Jasa Marga sebagai pengelola rest area menemukan relevansinya. Jauh sebelum musim mudik tiba, PT Jasa Marga Persero Tbk telah memperkuat implementasi prinsip ESG (Environmental, Social, and Governance) dengan menyiapkan skema penanganan limbah secara sistematis.
Manajemen Jasa Marga menyadari bahwa lonjakan pemudik berpotensi meningkatkan volume sampah plastik dan rumah tangga secara signifikan. Penyediaan fasilitas tempat sampah terpilah serta penambahan personel kebersihan dilakukan secara masif.
Bahkan, saat Menteri Hanif meninjau pengelolaan sampah di Travoy Rest KM 88B Jalan Tol Cipularang pada akhir tahun lalu, Direktur Pengembangan Usaha Jasa Marga Ari Respati memaparkan berbagai upaya yang telah dilakukan, sistem pemilahan sampah anorganik, pembuatan pupuk dari sampah organik, optimalisasi tempat penampungan sementara, hingga kolaborasi dengan mitra untuk pengangkutan dan pengolahan sampah secara berkelanjutan.
“Jasa Marga menyambut baik kunjungan Menteri LH, tentunya langkah ini sebagai bentuk sinergi antara pemerintah dan Badan Usaha Jalan Tol dalam menghadirkan layanan jalan tol yang tidak hanya aman dan nyaman, tetapi juga ramah lingkungan,” ujar Ari.
Teguran dan Apresiasi
Dalam pemantauannya kali ini, Hanif tidak hanya memberikan apresiasi, tetapi juga teguran. Ia mengingatkan bahwa pengelolaan sampah adalah tanggung jawab penuh pengelola rest area, sesuai arahan Presiden. Akan ada evaluasi rutin setiap bulan.
“Pengelolaan sampah di rest area harus menjadi prioritas utama. Kami memberikan waktu sesegera mungkin untuk melakukan perbaikan karena sebelumnya sudah kami berikan sanksi paksaan pemerintah,” tambah Hanif.
Teguran ini merupakan yang kedua kalinya sejak Desember 2025. Saat itu, Hanif juga melakukan inspeksi di beberapa rest area yang sama dan memberikan rekomendasi perbaikan. “Jika tidak ada tindakan nyata, pada bulan April akan segera kita panggil untuk dimintai keterangan, serta nantinya akan memasuki tahap penyidikan,” tegasnya.
Komitmen yang Diakui
Di sisi lain, komitmen Jasa Marga dalam pengelolaan sampah patut diapresiasi. Pada Januari 2026, perusahaan pelat merah ini meraih Indonesia Green Awards (IGA) 2026 kategori “Mengembangkan Pengolahan Sampah Terpadu” atas implementasi Program Pengolahan Sampah di Rest Area Travoy KM 88B Jalan Tol Cipularang.
Direktur Utama Jasa Marga Rivan A. Purwantono menyampaikan bahwa penghargaan ini merupakan bentuk apresiasi atas konsistensi perusahaan dalam mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam operasional bisnis.
Edukasi dan Perubahan Perilaku
Yang menarik, kampanye “Mudik Minim Sampah” tidak berhenti pada imbauan. Sebagai langkah praktis, Kementerian Lingkungan Hidup membagikan fasilitas pilah sampah kepada masyarakat untuk mendorong perilaku ramah lingkungan. Di Rest Area 338A Pekalongan, Sabtu (14/3/2026), Hanif juga membagikan hampers Lebaran kepada para pemudik sebagai bentuk perhatian.
Jasa Marga pun terus melakukan kampanye masif melalui media sosial serta VMS (variable message sign) di sepanjang jalur tol untuk mengajak pemudik membawa kantong sampah sendiri. Langkah sederhana seperti membawa sampah kembali ke mobil hingga menemukan tempat pembuangan yang tepat sangat membantu tim kebersihan di lapangan.
Yang Perlu Dicermati Pemudik
Bagi pengguna jalan tol yang melintas di Trans Jawa, beberapa hal ini penting diketahui:
- Fasilitas pemilahan sampah tersedia di setiap rest area. Gunakan sesuai jenisnya.
- Estimasi timbulan sampah nasional mencapai 71.960 ton selama periode mudik .
- Target pemerintah: seluruh rest area wajib memiliki fasilitas pengolahan sampah mandiri paling lambat Mei 2026 .
- Komitmen Jasa Marga: pengelolaan sampah dilakukan dengan prinsip ekonomi sirkular, di mana sebagian sampah didaur ulang menjadi material bermanfaat .
- Sanksi tegas: bagi pengelola rest area yang tidak melakukan perbaikan, Kementerian Lingkungan Hidup siap memanggil dan memasuki tahap penyidikan
Catatan Redaksi
Momentum mudik tahun ini mengajarkan bahwa kenyamanan perjalanan tidak hanya diukur dari kelancaran lalu lintas atau ketersediaan bahan bakar. Ada dimensi lain yang tak kalah penting: kebersihan lingkungan dan kesadaran kolektif untuk tidak meninggalkan jejak sampah.
Aksi Menteri Hanif yang turun langsung ke rest area, bertegur sapa dengan pemudik, dan membagikan fasilitas pilah sampah adalah pengingat bahwa kebersihan adalah tanggung jawab bersama. Bukan hanya pengelola rest area, bukan hanya petugas kebersihan, tapi juga setiap individu yang singgah.
Di sinilah letak “kenyamanan” yang sesungguhnya: ketika ribuan ton sampah bisa dikelola dengan baik, ketika tempat sampat terpilah digunakan dengan sadar, dan ketika mudik tidak hanya meninggalkan kenangan manis di kampung halaman, tapi juga meninggalkan lingkungan tetap bersih di sepanjang jalur pulang.
Seperti pesan Hanif, “Kenyamanan mudik adalah hasil kolaborasi lintas sektor.” Dan kolaborasi itu, pada akhirnya, harus melibatkan kita semua.



