Sabtu, 18 April 2026
29 C
Semarang

Rakinem Tenggelam di Sungai Gondel Blora, Ditemukan 1 Km dari Lokasi Hilang

Diduga, Rakinem terpeleset, jatuh ke sungai, lalu tenggelam dan terbawa arus

Berita Terkait

BLORA, PortalJateng.id – Pilu menyelimuti Desa Gondel, Kecamatan Kedungtuban, Kabupaten Blora. Rakinem (51), seorang ibu rumah tangga yang sehari-hari tinggal bersama suaminya di tepian Sungai Gondel, ditemukan meninggal dunia setelah dilaporkan tenggelam, Kamis (2/4/2026) siang.

Peristiwa nahas itu bermula sehari sebelumnya, Rabu (1/4/2026) sekitar pukul 11.00 WIB. Saat itu, Rakinem dan suaminya pergi ke pinggir sungai yang berjarak sekitar 50 meter dari rumah mereka. Mereka bermaksud buang air besar di sungai tersebut, sebuah kebiasaan yang mungkin sudah lama dilakukan karena keterbatasan fasilitas.

Namun, di tengah perjalanan, sang suami teringat bahwa kompor di rumah ternyata masih dalam keadaan menyala. Ia pun memutuskan kembali ke rumah untuk mematikannya. Beberapa saat kemudian, saat ia kembali ke pinggir sungai, Rakinem sudah tidak ada di tempat.

“Korban dan suami pergi ke sungai untuk buang air, tapi si suami memutuskan kembali ke rumah untuk mematikan kompor karena posisi kompor masih menyala. Namun saat kembali ke sungai, ia tidak mendapati lagi istrinya,” terang Kepala Kantor SAR Semarang, Budiono.

Di lokasi kejadian, sang suami hanya menemukan bekas pijakan kaki di tanah di sekitar bibir sungai. Diduga, Rakinem terpeleset, jatuh ke sungai, lalu tenggelam dan terbawa arus. Tanpa sempat berteriak atau meminta tolong. Tanpa sempat sang suami menyadari.

Pencarian Dua Hari, Terhambat Bambu dan Dasar Sungai tak Menentu

Kejadian itu langsung dilaporkan ke balai desa, lalu diteruskan ke instansi terkait hingga ke Basarnas Unit Siaga SAR Rembang. Tim SAR gabungan pun bergerak cepat. Sejak hari pertama, mereka melakukan penyisiran di sepanjang aliran Sungai Gondel.

Namun pencarian tidak mudah. Budiono mengakui bahwa tim menghadapi sejumlah kendala di lapangan. Bambu-bambu yang tumbuh lebat di aliran sungai menyulitkan proses penyisiran. Selain itu, kedalaman dasar sungai yang tidak menentu juga menjadi tantangan tersendiri bagi tim penyelam.

Hingga malam tiba, korban belum ditemukan. Tim SAR gabungan memutuskan untuk menghentikan sementara pencarian dan melanjutkannya esok hari.

Ditemukan 1 Kilometer dari Lokasi Awal

Memasuki hari kedua pencarian, Kamis (2/4/2026), tim SAR gabungan kembali melanjutkan upaya. Mereka menggunakan perahu karet dan menyisir langsung di sepanjang aliran sungai. Sekitar pukul 11.50 WIB, tepat sehari setelah kejadian, korban akhirnya ditemukan.

Rakinem sudah tidak bernyawa. Tubuhnya mengapung di sungai, sekitar 1 kilometer dari lokasi awal ia dilaporkan hilang.

“Siang tadi tim berhasil menemukan korban sudah dalam keadaan meninggal dunia, ditemukan 1 kilometer dari lokasi awal kejadian, dan langsung dibawa ke rumah duka,” imbuh Budiono.

Setelah korban dievakuasi, operasi pencarian resmi ditutup. Budiono menyampaikan terima kasih kepada seluruh unsur SAR yang terlibat. “Terima kasih atas seluruh unsur SAR yang terlibat sehingga korban segera ditemukan. Dengan ditemukannya korban, maka operasi SAR ini resmi kami tutup,” pungkasnya.

Catatan Redaksi

Rakinem adalah warga biasa. Ia tinggal di desa, di tepian sungai yang airnya mungkin mengalir tenang. Kesehariannya mungkin diisi dengan memasak, merawat rumah, dan menemani suami. Namun takdir berkata lain. Sebuah kompor yang lupa dimatikan, hal sepele yang sering kita alami, menjadi rantai pertama tragedi ini.

Sang suami pulang demi keselamatan rumah. Ia berpikir, sebentar saja. Tapi dalam hitungan menit itu, istrinya raib ditelan sungai.

Ini bukan berita tentang kejahatan atau korupsi. Ini tentang kecelakaan domestik yang merenggut nyawa. Tentang keluarga yang kehilangan karena rentetan kecil, lupa, terpeleset, arus, dan keterbatasan waktu.

Bagi kita yang tinggal di perkotaan dengan fasilitas memadai, cerita buang air besar di sungai mungkin terdengar asing. Tapi bagi sebagian masyarakat desa, itu masih menjadi realitas. Sungai bukan hanya pemandangan, tapi juga “kamar mandi”, “toilet”, bahkan sumber air bersih.

Tragedi Rakinem menjadi pengingat bahwa keselamatan di sekitar air bukan hanya urusan pelaut atau perenang. Siapa pun bisa terpeleset. Siapa pun bisa tenggelam. Terutama jika sendirian, tanpa ada yang melihat atau menolong.

Kepada keluarga Rakinem, turut berduka cita. Semoga almarhumah husnul khatimah dan keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan.

Kepada kita yang membaca, mungkin ini saatnya lebih waspada. Perhatikan lingkungan sekitar. Jangan anggap remeh tepian sungai, selokan, atau bahkan bak mandi. Karena nyawa, sekuat apa pun, bisa hilang dalam sekejap.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru