UNGARAN, PortalJateng.id – Lapangan voli di RT 06 RW 08 Sitalang, Susukan, Ungaran Timur tidak berlaga bola pada Rabu pagi (27/5/2026).
Pukul 07.30, suasana sudah berbeda. Bapak-bapak dan ibu-ibu duduk melingkar. Di tengah, ada tumpeng nasi gudangan. Bukan untuk pesta. Ini adalah syukuran doa. Memohon kelancaran sebelum pisau pertama menyentuh leher hewan kurban. Doa dipanjatkan dengan sederhana. Tumpeng dipotong, lauk dibagikan. Suasana khidmat, tapi hangat.
Ini bukan ritual formal. Ini adalah cara warga Sitalang mengawali kerja batin sebelum kerja fisik. Setelah doa, lapangan voli itu berubah panggung. Ia menjadi tempat pemotongan hewan kurban yang dikerjakan oleh warganya sendiri. Bukan oleh juru sembelih profesional. Bukan oleh panitia yang digaji.
Tapi oleh bapak-bapak yang malam sebelumnya masih begadang menjaga dua ekor sapi dan 12 kambing dari niat jahat. Oleh ibu-ibu yang sejak subuh menyiapkan tenda, air, dan tempat duduk. Oleh anak muda yang dulu hanya sibuk dengan ponsel, kini ikut menarik kantong plastik berisi daging.
“Ini murni semua dilakukan oleh warga,” kata Aris Prastyo, ketua panitia Iduladha 1447 H Mushola An-Nur Sitalang.
Aris tidak berlebihan. Persiapan dilakukan jauh-jauh hari. Kerja bakti memotong rumput di lapangan. Pembuatan kubangan sedalam dua meter untuk sanitasi. Pemasangan tenda besar agar ibu-ibu tidak kepanasan saat membungkus daging. Semua bergerak. Tanpa diminta. Tanpa target. Hanya karena sadar, ini tanggung jawab bersama.
Sistem Jastip dan 23 Nama dalam Daftar Kurban Sitalang

Uniknya, sistem kurban di sini tidak kaku. Ada yang membeli hewan sendiri. Ada yang menitipkan (jastip) melalui panitia. Tapi tidak ada yang merasa lebih. Tidak ada yang pamer.
Daftar shohibul kurban tahun ini mencapai 23 nama. Dua ekor sapi dan 12 kambing terkumpul. Maulida Cahya Kumala, Dwi Lestari, Pak Didit (sang ketua RT sendiri), Pak Agus, Ibu Asylinda, hingga anak-anak muda seperti Rafif Dzaky Pratama semua tercatat. Ada yang lunas. Ada yang beli sendiri.
Aris mengaku tidak pernah kesulitan mengoordinasi. Cukup dengan grup WhatsApp, semuanya beres. “Kami buka pendaftaran lewat WA grup. Hewan kurban sudah diterima panitia semalam, kita jaga bersama di lapangan,” jelas Aris.
Penjagaan itu nyata. Bapak-bapak bersama – sama memastikan sapi dan kambing aman. Bukan karena takut dicuri, tapi karena hewan itu titipan yang harus dirawat dengan hormat.
Rasa Hangat yang Tak Butuh Banyak Rempah

Murdaningsih tidak pernah menghitung kilogram daging yang ia bawa pulang. Baginya, menerima kurban bukan sekadar soal meringankan dapur, ungkapnya dengan mata berkaca-kaca. Yang lebih terasa, tuturnya, adalah pengingat bahwa ia dan keluarganya masih diingat. Masih diperhatikan oleh tetangga, oleh saudara-saudara yang berbagi.
Ia mengolah daging itu dengan sederhana. Cukup garam dan sedikit bumbu. “Rasa yang sejati tidak butuh banyak rempah,” katanya polos. Lalu, dengan suara yang menggantung di udara, ia berbisik, “Rasa hangatnya bukan hanya dari kuah gulai, tapi dari kesadaran bahwa ada orang lain yang tulus memberi tanpa mengharap balasan.” Bagi Murdaningsih, itu bukan hanya daging, pesannya. Itu adalah isyarat halus, “Kamu tidak sendiri.”
Wisata Religi Tanpa Pamflet di Sitalang

Di tengah pemotongan, ada yang menarik. Warga sekitar yang tidak berkurban pun datang. Bukan untuk mengambil daging. Tapi untuk melihat. Untuk merasakan. Ada yang terheran-heran melihat warga Sitalang begitu kompak. Ada yang bertanya-tanya, “Kok bisa begitu ya?”
Didit Yulianto, Ketua RT 06 RW 08, tersenyum mendengar itu. Ia tidak pernah mengklaim lapangan kecilnya sebagai “destinasi wisata religi”. Tapi setiap tahun, orang datang. Bukan karena pamflet, tapi karena rasa ingin tahu yang lahir dari cerita yang menyebar dengan sendirinya.
“Apakah perlu didokumentasikan? Sangat perlu. Bukan untuk pamer, tapi untuk arsip kebaikan,” kata Didit.
Ia mengizinkan pendokumentasian, tapi dengan satu pesan. Jangan mengatur pose. Jangan menjadikan kebaikan sebagai konten yang menghilangkan esensi.
“Biarkan ia mengalir, biarkan ia menginspirasi tanpa harus dibesar-besarkan. Karena kebaikan yang lahir dari ketulusan akan selalu punya jalannya sendiri untuk sampai ke hati orang lain,” pungkas Didit. Lalu ia menambahkan, “Soal wisata religi? Biarlah orang menyebutnya apa saja. Yang penting, mereka yang datang pulang dengan membawa kesan, bukan oleh-oleh. Karena kesan itu akan terus hidup, sementara oleh-oleh akan habis dimakan.”
Sekolah Kehidupan yang Tak Tertulis dari Kurban

Didit tidak ingin anak-anak muda Sitalang hanya melihat kurban dari jumlah dagingnya.
“Lihatlah bagaimana orang tua kalian bekerja sama, saling menghormati, dan tidak saling menyakiti meskipun berbeda pendapat. Itulah pelajaran yang tidak akan kalian dapatkan dari buku atau medsos,” pesan Didit. Ia mengingatkan bahwa pemimpin sejati bukan yang paling pintar berpidato. Pemimpin sejati adalah yang bisa menjadi pelayan.
“Seperti saat ini bapak-bapak dan ibu-ibu bergotong royong menyembelih, membersihkan, dan membungkus daging untuk tetangga yang membutuhkan. Itu sekolah kehidupan yang tidak pernah tertulis, tapi sangat nyata,” tuturnya.
Sejak pukul 08.00 hingga 15.00 WIB, lapangan voli itu hidup. Suara takbir, suara pisau, suara tawa, dan suara kantong plastik yang diikat. Daging sapi dan kambing dikemas rapi, lalu dibagikan ke 55 kepala keluarga di lingkungan RT 06. Sisanya pergi ke tetangga wilayah lain dan tempat kos.
Perkiraan berat daging sapi sekitar 120-150 kg. Kambing rata-rata 45-50 kg. Tapi angka itu tidak penting. Yang penting, tidak ada yang pulang dengan tangan kosong. Tidak ada yang merasa sendirian.
Kurban di Sitalang tidak pernah menjadi ajang pamer atau lomba siapa paling besar. Ia menjadi lem yang merekatkan. Karena warga yang mampu menyumbang hewan, warga yang bisa membantu potong, warga yang sibuk di dapur, semuanya bergerak tanpa diminta.
Itu adalah kurban dalam bentuk lain, mengorbankan waktu istirahat, mengorbankan kenyamanan pribadi, untuk kebersamaan. Dan ketika lapangan voli kembali sunyi, yang tersisa bukanlah jejak darah atau potongan tulang. Melainkan kesadaran, bahwa kebaikan yang sejati tidak butuh kamera, tidak butuh pujian, tidak butuh status. Ia cukup dilakukan, lalu dirasakan oleh orang lain. Dan di situlah, ia abadi.



