Sabtu, 5 September 2026
24.2 C
Semarang

International Students Gathering 2026, FISIP Undip Pererat Interaksi Mahasiswa Lintas Negara

Berita Terkait


SEMARANG
 – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar International Students Gathering 2026, Jumat (4/9). Kegiatan ini menjadi ajang bagi mahasiswa internasional dan sivitas akademika FISIP Undip untuk saling mengenal, berbagi pengalaman, serta memperkuat interaksi lintas budaya.

Dekan FISIP Undip Prof Teguh Yuwono mengatakan, kegiatan tersebut merupakan tahun kedua FISIP Undip menggelar welcoming bagi mahasiswa internasional. Kegiatan ini bertujuan menciptakan suasana kampus yang nyaman sehingga mahasiswa asing merasa seperti berada di rumah.

“Jadi, ini tahun kedua kita melakukan welcoming mahasiswa internasional yang bertujuan untuk menciptakan suasana dan kondisi supaya para mahasiswa asing kita itu seperti di rumah, living like a home di FISIP,” katanya.

Ia mengatakan, mahasiswa internasional di FISIP Undip berasal dari berbagai negara, antara lain Rusia, Jerman, Belanda, Jepang, Korea, Malaysia, Vietnam, Madagaskar, Kamboja, hingga negara-negara di Afrika.

Jumlah mahasiswa asing di FISIP Undip tahun ini mencapai hampir 90 hingga 100 mahasiswa. Mayoritas merupakan mahasiswa baru, dengan sekitar 90 persen di antaranya baru mengikuti perkuliahan di Undip.

“Ini adalah sebuah new tradition, tradisi baru di FISIP. Interaksi kita hari ini sangat strong. Jadi, kita membangun tidak hanya sekadar budaya lokal dan budaya nasional, tetapi juga budaya internasional,” ujarnya.

Prof Teguh mengatakan, para mahasiswa internasional tidak hanya mengikuti perkuliahan, tetapi juga berinteraksi dalam suasana kekeluargaan melalui kegiatan bersama, termasuk berbagi budaya, makan, dan belajar bersama.

Ia menambahkan, FISIP Undip terus mendorong lingkungan akademik berstandar internasional. Saat ini, FISIP memiliki lima departemen dengan kelas internasional serta program pertukaran yang menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar.

“Yang saya syukuri adalah Fakultas FISIP ini sekarang standarnya sudah internasional, world class level. Jadi, yang kita lakukan hari ini adalah mengintroduksi program-program yang biasa dilakukan di luar negeri,” katanya.

Menurut Prof Teguh, suasana kampus yang nyaman penting bagi mahasiswa internasional agar dapat menjalani perkuliahan dengan lebih baik sekaligus mendorong terjadinya pertukaran budaya.

“Kita menciptakan suasana kampus like a home, kampus seperti di rumah. Sehingga mereka enjoy, tidak stres, tidak panik, tidak ketakutan, feel like a home,” ujarnya.

Ia juga berharap keberadaan mahasiswa internasional dapat memperkuat posisi Semarang sebagai salah satu destinasi pendidikan. FISIP Undip, kata dia, tidak hanya mengejar pemeringkatan internasional, tetapi juga ingin memberikan kontribusi yang lebih luas bagi masyarakat internasional.

Salah satu mahasiswa internasional yang mengikuti program pertukaran di FISIP Undip adalah Alissa Nikolenko dari Bochum University of Applied Sciences, Jerman. Ia mengaku senang menjalani perkuliahan di FISIP Undip dan mendapat banyak bantuan sejak pertama tiba di Indonesia.

“Saya merasa sangat senang. Sangat membantu, sejak hari pertama saya dijemput oleh pihak universitas dari bandara hingga sekarang. Saya juga mendapat banyak bantuan untuk menyesuaikan diri dengan mata kuliah dan semester yang saya jalani,” ujarnya.

Alissa mengikuti program pertukaran selama enam bulan atau satu semester. Ia mengambil bidang Administrasi Bisnis karena memiliki keterkaitan dengan jurusannya di Jerman, yakni International Business Management.

Selama berada di Indonesia, Alissa ingin mendapatkan pengalaman mengenai bisnis di Asia Tenggara, khususnya Indonesia. Ia juga ingin mengenal budaya dan masyarakat Indonesia lebih dekat serta belajar berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia.

“Saya berharap setelah enam bulan di sini, saya bisa berbicara bahasa Indonesia dengan cukup baik sehingga dapat dipahami oleh orang lain. Saya juga ingin belajar mengenai pertukaran budaya dan mengenal masyarakat Indonesia lebih dekat,” tuturnya.

Selama sekitar satu bulan tinggal di Semarang, Alissa mulai mencoba berbagai pengalaman baru, termasuk kuliner lokal. Salah satunya adalah bubur ayam yang menurutnya berbeda dengan bubur yang biasa ia kenal di Jerman atau Eropa.

Selain kuliner, ia juga tertarik mempelajari karakter masyarakat Indonesia. Menurutnya, masyarakat Indonesia lebih hangat dan suka membantu.

“Menurut pengalaman saya, orang Indonesia lebih hangat dan lebih suka membantu. Saya ingin beradaptasi dengan hal tersebut dan menjadikannya sebagai salah satu bagian dari karakter saya,” katanya.***

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru