Semarang – Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) meminta, agar pemerintah baru nantinya tidak hanya fokus pada program makan siang gratis. Melainkan fokus pula pada “Golden Periode” atau masa keemasan tumbuh kembang anak, yaitu 1000 hari pertama usia anak atau sejak usia kandungan hingga usia 2 tahun.
Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia (PP IDAI) Piprim Basarah Yanuarso, mengungkapkan, pada masa keemasan itu, otak anak mengalami perkembangan yang paling optimal. Sehingga, jika negara menginginkan generasi sekolah yang ber-IQ tinggi, nutrisinya harus tercukupi dimulai sejak ibu hamil sampai usia anak 2 tahun.
Menurutnya, pada masa keemasan ini terjadi optimalisasi nutrisi, stimulasi dan kebutuhan emosi, sehingga sangat bagus utk mencetak anak sekolah yang cerdas.
Sebaliknya, bila kita mengabaikan masa 1000 hari pertama tersebut dan hanya fokus pada saat anak sudah sekolah, akan terlambat untuk meningkatkan kecerdasan anak. Karena, ibarat kapasitas mesin yang seharusnya bisa 3000 cc tetapi terlanjur hanya terisi 1000 cc, demikian pula akibat kurangnya asupan nutrisi, otak anak akan sulit untuk diupgrade agar bisa melaju cepat.
“Maka tolong, kalau pemerintah fokus di usia sekolah, tolong fokus pula di 1000 hari pertama usia anak. Karena kunci kalau kita ingin bonus demografi ini bagus, gizi anak pada masa keemasan harus diperhatikan. Makan siang gratis itu bagus, tetapi kalau anak di 1000 hari pertamanya bermasalah, ini tidak bisa dikatrol lagi,” ungkap Piprim di sela Kongres Nasional Ilmu Kesehatan Anak (KONIKA) Ke-19 yang digelar di hotel Padma Semarang mulai 29 September – 1 Oktober 2024.
Piprim menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak anti terhadap program makan siang gratis. Hanya saja bila kemudian program tersebut mengabaikan masa keemasan yang sangat penting, mungkin itu perlu dievaluasi kembali.
Ketua IDAI Jawa Tengah, Fitri Hartanto, menambahkan, masa keemasan adalah masa yang paling penting bagi perkembangan otak anak, karena sampai usia 2 tahuns yang terjadi adalah sel-sel otaknya sangat responsif dan sangat sensitif 80 persen. Setelah 2 tahun sampai 5 tahun terjadi penurunan yang drastis tinggal 15 persen, lalu setelah usia 5 tahun hanya tinggal 5 persen.
“Usia anak sekolah setelah 5 tahun sesitifitas otaknya hanya 5 persen, mau diapa-apain juga susah. Diberi asupan apapun tidak akan banyak meningkatkan kecerdasan. Sebaliknya kalau kita memberi gizi terbaik di usia di bawah 2 tahun yang sensitifitasnya 80 persen, akan luar biasa. Nutrisi langsung ditangkap oleh tubuh sangat sensitif, langsung direspon dan dibangun sirkuit oleh otak yang lebih baik. Jadi itu harapan kami untuk mewujudkan anak-anak Indonesia yang luar biasa,” tandas Fitri.
Lebih jauh, Fitri membandingkan dengan makan siang gratis yang diterapkan di luar negeri. Dimana program makan siang gratis di luar negeri bagus, karena masa keemasan di 1000 hari pertama anak, sudah bagus, sehingga dilanjutkan dengan makan siang gratis.
“Tetapi kondisi negara kita berbeda, karena angka stunting atau kekurangan gizi pada anak masih cukup tinggi,” terangnya.
Menurutnya, ada istilah yang salah dalam upaya mengatasi stunting di daerah, yaitu istilah Pemberian Makanan Tambahan (PMT) lokal. Padahal istilah yang benar seharusnya Pemberian Protein Hewani (PPH) lokal. Karena kalau PMT lokal keluarnya kacang ijo, pisang goreng, kerupuk, biskuit, arem-arem dan lain-lain, yang kurang dapat memicu pertumbuhan.
“Jadi kata kunci stunting adalah protein hewani lokal apapun protein itu. Bisa bekicot, tutut, kepiting, udang, kepompong, belalang, ikan. Itu adalah protein hewani yang sangat baik untuk mencegah stunting,” terang Fitri.
“Mengapa? Karena di dalam tubuh kita ada suatu saklar pertumbuhan bernama emtorsi. Kalau saklar ini dionkan, anak itu terpicu untuk menjadi tinggi, otaknya besar, imunitasnya bagus dan tulangnya bagus. Tumbuh kembangnya bagus. Tetapi saklar ini butuh kadar asam amino essensial yang cukup tinggi dalam darah. Asam amino essensial itu hanya ada pada protein hewani, bukan pada tahu tempe meskipun juga protein, apalagi nagasari, pisang goreng atau bubur kacang ijo,” pungkas Fitri.



