Menu ✖

Mode Gelap

Perbankan Jawa Tengah Tetap Tumbuh di Tengah Tantangan, DPK dan Kredit Meningkat Tipis per Juli 2025

2 Okt 2025 · 11:22 WIB ·


					Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah, Hidayat Prabowo. Perbesar

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah, Hidayat Prabowo.

Semarang – Sektor perbankan di Jawa Tengah menunjukkan pertumbuhan yang positif meskipun dalam tekanan perlambatan ekonomi global dan ketidakpastian domestik. Hingga Juli 2025, Dana Pihak Ketiga (DPK) di wilayah ini tumbuh sebesar 1,78 persen  secara tahunan menjadi Rp469,23 triliun. Sementara itu, penyaluran kredit meningkat 1,44 persen (yoy) dengan nilai total sebesar Rp420,96 triliun.

Kepala Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Provinsi Jawa Tengah, Hidayat Prabowo, menyampaikan, perbankan di Jawa Tengah secara umum masih mampu menjaga fungsi intermediasinya di tengah berbagai tantangan.

“Kinerja perbankan di Jawa Tengah masih relatif stabil. Meskipun aset mengalami sedikit kontraksi, namun penyaluran kredit tetap tumbuh dan DPK juga meningkat. Ini menandakan kepercayaan masyarakat terhadap perbankan masih tinggi,” ujarnya melalui keterangan pers pada Selasa (30/9) di Semarang.

Hanya saja total rasio kredit bermasalah atau rasio Non Performing Loan (NPL) pebankan di Jawa Tengah pada Juli 2025 sebesar 6,01 persen dengan nominal Rp.25,29 triliun, masih harus menjadi perhatian.

Total aset perbankan secara keseluruhan di Jawa Tengah mengalami kontraksi tipis sebesar -0,09 persen (yoy), turun menjadi Rp579,51 triliun. Perbankan konvensional atau Bank Umum masih menjadi penopang utama sektor ini, dengan total aset mencapai Rp528,42 triliun, meskipun tercatat terkontraksi 0,16 persen (yoy).

Bank Umum di Jawa Tengah berhasil menghimpun DPK sebesar Rp429,68 triliun atau tumbuh 1,85 persen (yoy). Kredit yang disalurkan juga meningkat sebesar 1,70 persen (yoy) menjadi Rp383,13 triliun. Rasio NPL terjaga 4,77 persen dengan nominal Rp.18,27 triliun. Rasio Loan to Deposit Ratio (LDR) yang mencapai 89,17 persen menjadi indikator bahwa bank umum tetap menjaga kinerja intermediasinya secara sehat dan proporsional.

“Untuk menjaga kualitas aset, kami terus melakukan pengawasan secara intensif kepada bank. Kami juga mewajibkan perbankan untuk membentuk Cadangan Kerugian Penurunan Nilai (CKPN) yang memadai, agar risiko kredit dapat diminimalisir,” tegas Hidayat.

Sementara itu, Bank Perkreditan Rakyat dan BPR Syariah (BPR/S) juga mencatatkan pertumbuhan positif. Aset BPR/S naik sebesar 0,69 persen (yoy), seiring dengan pertumbuhan DPK sebesar 1,04 persen menjadi Rp39,55 triliun. Kredit yang disalurkan oleh BPR/S mencapai Rp37,83 triliun, mencerminkan peran BPR/S yang masih aktif dalam mendukung pembiayaan skala mikro dan UMKM di daerah.

Namun kualitas kredit BPR/S bulan Juli masih menjadi perhatian karena rasio kredit bermasalah atau rasio Non Performing Loan (NPL) sebesar 18,55 persen dengan nominal Rp7,02 triliun.

Adapun perbankan syariah di Jawa Tengah menjadi salah satu segmen yang mencatatkan pertumbuhan signifikan. Aset perbankan syariah naik 10,90 persen (yoy), disertai pertumbuhan DPK sebesar 10,45 persen menjadi Rp38,63 triliun. Pembiayaan syariah juga tumbuh 10,82 persen (yoy) dengan total Rp34,49 triliun. Meski demikian, rasio Non Performing Financing (NPF) tercatat sebesar 5,04 persen dengan nominal Rp.1,74 triliun yang turut menyumbang 6,87 persen terhadap total NPL perbankan di provinsi ini.

Melihat kinerja perbankan di wilayahnya, Hidayat Prabowo tetap optimistis bahwa tren positif ini akan berlanjut hingga akhir tahun, terutama dengan adanya potensi pemulihan sektor riil dan konsumsi domestik.

“Kami berharap perbankan bisa lebih agresif namun tetap prudent dalam menyalurkan kredit, khususnya kepada sektor-sektor produktif yang mendorong pertumbuhan ekonomi daerah,” tutupnya.

Artikel ini telah dibaca 1 kali

badge-check

Penulis

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Line Salin tautan artikel
Baca Lainnya

Petani Gagal Panen Terbantu Program Petani Gajian, Ini Harapan Mereka

22 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Petani Gagal Panen Terbantu Program Petani Gajian, Ini Harapan Mereka

57 Perusahaan Vietnam Bakal Masuk Jateng, Ahmad Luthfi Bidik Peluang Kerja Baru

22 Oktober 2026 - 06:32 WIB

57 Perusahaan Vietnam Bakal Masuk Jateng, Ahmad Luthfi Bidik Peluang Kerja Baru

Warga Minta Pasar Murah Digelar Tiap Hari, Begini Respons Ahmad Luthfi

21 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Warga Minta Pasar Murah Digelar Tiap Hari, Begini Respons Ahmad Luthfi

Ahmad Luthfi Minta KDMP Hidupkan Ekonomi Desa, Bukan Sekadar Bangun Gerai

20 Oktober 2026 - 18:46 WIB

Ahmad Luthfi Minta KDMP Hidupkan Ekonomi Desa, Bukan Sekadar Bangun Gerai

OJK Denda 2,1 Triliun Pihak Terkait Saham DSSA, BREN dan CUAN

17 Oktober 2026 - 14:52 WIB

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda total Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak yang terlibat pelanggaran di pasar modal terkait saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

PGN Lihat Peluang Gas Bumi untuk Industri Olahan dan UMKM Trenggalek

16 Oktober 2026 - 14:54 WIB

PGN Lihat Peluang Gas Bumi untuk Industri Olahan dan UMKM Trenggalek
Trending di Ekonomi

Tinggalkan Komentar