Rabu, 11 Februari 2026
29 C
Semarang

Penyesalan yang Menjadi Cermin: Refleksi Pribadi dan Harapan untuk Indonesia yang Lebih Baik

Berita Terkait

Catatan Redaksi – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan, kita sering menganggap penyesalan sebagai musuh yang harus dihindari. Kita menyembunyikannya, menyangkalnya, atau bahkan melarikan diri darinya. Namun, sesungguhnya penyesalan adalah cermin jiwa yang justru menunjukkan bahwa kita masih memiliki hati yang hidup dan keinginan untuk tumbuh menjadi lebih baik. Ia bukanlah akhir perjalanan, melainkan awal dari kesadaran yang membuka pintu perubahan. Seperti retakan pada vas yang diperbaiki dengan emas dalam seni kintsugi, penyesalan justru mengajarkan bahwa keindahan sering lahir dari pengakuan atas ketidaksempurnaan, bukan dari penyangkalan.

Dalam konteks yang lebih luas, bangsa Indonesia saat ini juga sedang menghadapi “penyesalan kolektif” atas berbagai persoalan yang mendera, mulai dari krisis moral, kesenjangan sosial, hingga kerusakan lingkungan. Sebagaimana penyesalan pribadi yang bisa menjadi kekuatan untuk berubah, penyesalan sebagai bangsa pun seharusnya tidak disikapi dengan menyalahkan masa lalu atau saling tuding, melainkan dijadikan cermin untuk membangun langkah-langkah perbaikan ke depan. Jika setiap individu bisa memaknai penyesalan sebagai pelajaran, maka secara kolektif kita pun bisa menciptakan masyarakat yang lebih bijak, empatik, dan bertanggung jawab.

Spiritualitas mengajarkan bahwa penyesalan adalah anugerah kesadaran dari Yang Maha Kuasa. Rasulullah SAW bersabda, “Orang yang bijak adalah yang mampu menghisab (mengevaluasi) dirinya sendiri dan beramal untuk kehidupan setelah kematian” (HR. Tirmidzi). Dalam konteks kebangsaan, “hisab” ini bisa kita artikan sebagai evaluasi jujur terhadap segala kekurangan dan kesalahan yang pernah terjadi, lalu diikuti dengan aksi nyata untuk memperbaiki diri dan lingkungan sekitar. Seperti pribadi yang bangkit dari penyesalan, Indonesia juga bisa tumbuh lebih kuat jika mau belajar dari masa lalu, merangkul kritik, dan bekerja sama menuju kemajuan.

Mari kita jadikan penyesalan, baik sebagai individu maupun sebagai bangsa, sebagai sahabat yang membimbing kita ke arah yang lebih baik. Dengan rendah hati mengakui kesalahan, dengan berani memperbaiki diri, dan dengan keyakinan bahwa setiap langkah perbaikan akan membawa dampak positif, kita bisa menciptakan perubahan yang bermakna. Sebab, penyesalan bukanlah bukti kelemahan, melainkan tanda bahwa hati kita masih berdetak, mendamba terwujudnya pribadi dan negeri yang lebih baik, lebih adil, dan lebih manusiawi.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru