Jumat, 8 Mei 2026
31.9 C
Semarang

Nila Salin Jateng: Inovasi Ikan Tawar yang Menaklukkan Air Payau, dari Pati untuk Indonesia

Berita Terkait

PATI – Di tengah deru ombak pesisir Pati, Jawa Tengah, sebuah inovasi perikanan terlahir, ikan nila salin. Bukan nila biasa, melainkan varietas unggul hasil rekayasa genetik yang mampu bertahan di air payau, yang menjadi jawaban atas tantangan budidaya di wilayah pesisir yang selama ini didominasi tambak udang.

Bermula dari riset panjang Balai Perikanan Budidaya Air Payau (BPBAP) Jepara sejak 2018, nila salin dikembangkan melalui seleksi genetik ketat selama enam generasi. Ikan ini mampu hidup optimal di salinitas 15-20 ppt (parts per thousand), level yang biasanya hanya cocok untuk ikan laut.

“Kami memilih strain nila unggul yang menunjukkan toleransi tertinggi terhadap salinitas, lalu memperkuatnya melalui breeding berkelanjutan,” jelas Dr. Arif Wibowo, peneliti utama BPBAP Jepara.

Keunikan nila salin terletak pada tiga hal utama:

  1. Tekstur daging lebih padat akibat aktivitas metabolisme yang intens di lingkungan payau
  2. Rasa gurih alami tanpa bau tanah (off-flavor)
  3. Kandungan mineral dari lingkungan hidupnya

Sugito (42), pembudidaya pionir asal Pati, membagikan pengalamannya: “Dari tebar benih sampai panen hanya 4-5 bulan. Hasilnya? Ikan konsumsi 300-400 gram per ekor dengan produktivitas 10 ton per hektar”, ulasnya.

Ditambahkan Sugito, bahwa proses budidayanya terstruktur yang meliputi :

· Persiapan tambak: 7-10 hari untuk pengapuran dan pemupukan
· Penebaran benih: Padat tebar 15-20 ekor/m²
· Pemeliharaan: Pemberian pakan protein 28-30% tiga kali sehari
· Panen: Sistem parsial untuk optimasi hasil

H. Riswanto, Ketua HNSI Jateng, mengungkapkan antusiasmenya, “Harga nila salin mencapai Rp 25.000-30.000 per kg, 25% lebih tinggi dari nila biasa. Ini meningkatkan pendapatan nelayan secara signifikan”, jelasnya.

Potensi pasarnya pun terus berkembang, tidak hanya memenuhi kebutuhan lokal tetapi juga merambah hotel berbintang dan ekspor ke Singapura.

Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng menargetkan pengembangan 500 hektar tambak nila salin hingga 2026. “Ini bukan sekadar program, tetapi transformasi ekonomi biru yang berkelanjutan,” tegas Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng, Budi Santoso.

Dengan segala keunggulannya, nila salin tak hanya menjadi kebanggaan Pati, tetapi bukti nyata inovasi perikanan Indonesia yang mampu menjawab tantangan zaman sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru