Selasa, 10 Februari 2026
30 C
Semarang

Lonjakan Penumpang KAI Dorong Wisata Semarang, Sinergi Transportasi-Pariwisata Kunci Keberlanjutan

“Kedekatan stasiun dengan wisata di Kota Semarang menjadikan kereta api sebagai moda transportasi yang praktis dan efisien"

Berita Terkait

SEMARANG – Layanan kereta api terbukti menjadi pengungkit utama pariwisata Kota Semarang selama periode libur Natal 2025 dan Tahun Baru 2026. Data menunjukkan peningkatan signifikan volume penumpang di dua stasiun utama, yang beriringan dengan melonjaknya kunjungan wisatawan ke destinasi andalan seperti Kota Lama Semarang.

Manager Humas KAI Daop 4 Semarang, Luqman Arif, mengungkapkan bahwa kedekatan lokasi stasiun dengan kawasan wisata menjadi faktor penentu. “Kedekatan stasiun dengan wisata di Kota Semarang menjadikan kereta api sebagai moda transportasi yang praktis dan efisien,” ujarnya dalam rilis resmi, Jumat (9/1/2026).

Data Konkret Peningkatan Penumpang dan Kunjungan

Pernyataan tersebut didukung oleh angka-angka riil. Selama periode puncak Nataru (18 Desember 2025 – 4 Januari 2026), Stasiun Semarang Tawang mencatat 293.302 penumpang, meningkat 23% dari tahun sebelumnya. Sementara itu, Stasiun Semarang Poncol juga mengalami kenaikan 11% dengan 240.050 penumpang.

Peningkatan akses transportasi ini berkorelasi langsung dengan geliat pariwisata. Berdasarkan data Disporapar Jawa Tengah, Kota Lama Semarang menjadi destinasi utama dengan 508.673 kunjungan, menyumbang peningkatan umum kunjungan wisata sebesar 1,89% di Jawa Tengah.

“Kondisi ini menunjukkan bahwa angkutan kereta api memiliki peran penting dalam mendukung pergerakan wisatawan selama libur panjang,” tambah Luqman.

Pencapaian ini tentu merupakan kinerja yang patut diapresiasi bagi KAI Daop 4 Semarang. Komitmen untuk memastikan kesiapan operasional selama peak season telah membuahkan hasil konkret dalam mendukung ekonomi pariwisata lokal.

Namun, momentum positif ini memunculkan pertanyaan tentang keberlanjutan sinergi di luar masa libur. Beberapa hal perlu menjadi perhatian bersama:

  1. Beyond Peak Season, Strategi dan layanan yang optimal selama Nataru perlu dipertahankan dan diadaptasi untuk periode normal. Apakah fasilitas penunjang, ketersediaan armada, dan konektivitas last-mile dari stasiun sudah memadai untuk menarik wisatawan weekend atau weekday?
  2. Kualitas Pengalaman yang Holistik: Kesuksesan tidak boleh diukur hanya dari angka penumpang dan kunjungan. Kualitas pengalaman perjalanan kereta api, kebersihan dan keamanan kawasan wisata, serta pelayanan UMKM di sekitar destinasi adalah bagian dari rantai nilai yang menentukan apakah wisatawan akan kembali.
  3. Mitigasi Dampak Over-Tourism: Lonjakan pengunjung yang sangat tinggi ke Kota Lama berpotensi menimbulkan tekanan pada daya dukung lingkungan dan warisan cagar budaya. Sinergi harus mencakup perencanaan pengelolaan wisatawan yang bijak.

Harapan Dari Ko-eksistensi Menuju Kolaborasi Mendalam

Agar tidak sekadar menjadi klaim pencapaian satu pihak, momentum ini harus menjadi fondasi kolaborasi yang lebih dalam dan struktural.

Luqman menutup pernyataannya dengan harapan sinergi yang memperkuat posisi Semarang. Harapan ini perlu diperkuat dengan langkah nyata, seperti:

· Perencanaan Terintegrasi: KAI, Pemkot Semarang, dan Disporapar perlu duduk bersama merancang paket wisata berbasis kereta api yang berkelanjutan, lengkap dengan transportasi penghubung dan digital signage.
· Pengembangan Produk Bersama: Menciptakan bundling tiket kereta dengan atraksi wisata, diskon di merchant sekitar, atau tur berpemandu yang dimulai dari stasiun.
· Komunikasi Krisis Bersama: Membuat protokol komunikasi bersama untuk mengantisipasi gangguan operasional kereta api yang bisa berdampak pada rencana perjalanan wisatawan.

Peningkatan angka selama Nataru adalah bukti awal bahwa kereta api dan pariwisata adalah dua sisi mata uang yang saling menguatkan. Tantangan sesungguhnya adalah mengubah kesuksesan musiman ini menjadi sebuah ekosistem pariwisata- transportasi yang tangguh, inklusif, dan berkelanjutan sepanjang tahun. Pencapaian KAI adalah pemicu, kolaborasi semua pemangku kepentinganlah yang akan menentukan akhir ceritanya.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru