KUDUS – Kabupaten Kudus masih berjuang melawan dampak banjir besar. Hujan deras yang tak henti telah menyebabkan sungai meluap dan tanggul jebol, merendam lebih dari 4.600 rumah dan mengganggu kehidupan sekitar 14.000 jiwa per Januari 2026.
Data terbaru menunjukkan skala kerusakan yang meluas, tidak hanya pada pemukiman warga tetapi juga pada infrastruktur transportasi vital.
Banjir menyebar ke beberapa kecamatan dengan tingkat kerusakan yang mengkhawatirkan:
· Kecamatan Mejobo menjadi wilayah terparah. Ratusan rumah di enam desa, termasuk Jojo dan Mejobo, terendam akibat luapan sungai.
· Kecamatan Gebog dilanda banjir bandang. Desa Kedungsari dan Rahtawu mengalami arus air sangat deras yang dilaporkan menghanyutkan mobil dan ternak milik warga.
· Kecamatan Jati masih terkepung genangan, termasuk akses menuju terminal induk.
· Kecamatan Undaan, khususnya Desa Wonosoco, terdampak limpasan air dari pegunungan, diduga diperparah oleh kondisi hutan yang gundul.
Dampak paling terasa selain pada rumah warga adalah lumpuhnya sistem transportasi. Sebanyak 65 titik akses jalan dilaporkan tergenang, mengakibatkan gangguan lalu lintas yang signifikan.
Titik kritis yang paling mengganggu arus logistik dan mobilitas warga adalah Jalur Pantura Kudus–Pati. Genangan panjang lebih dari 400 meter tercatat di Pertigaan Ngembal dan Barat Perempatan Kerawang, memicu kemacetan parah.
Menanggapi kondisi ini, Kasat Lantas Polres Kudus, AKP Royke Noldy Darean, S.I.K., memberikan konfirmasi dan himbauan langsung.
“Untuk hari ini, Senin (12/1/2026), kondisi jalan utama penghubung Pati-Kudus masih tergenang air di beberapa titik. Kami mengimbau seluruh pengendara untuk selalu waspada, berhati-hati, dan mengutamakan keselamatan,” tegas Royke.
Selain jalur utama, titik rawan lain yang menjadi perhatian adalah Jl. Kudus–Pati (Singocandi) yang sempat terendam dan Jembatan Tambak Lulang yang menjadi titik pantauan kritis terhadap luapan sungai.
Penyebab utama bencana ini adalah luapan Sungai Wulan dan Sungai Rahtawu, yang diperburuk oleh sistem drainase yang tidak memadai. Kombinasi ini dengan curah hujan tinggi menghasilkan banjir besar yang merusak.
Pihak berwenang terus mengimbau warga untuk tetap waspada. Potensi hujan susulan masih tinggi, terutama dari wilayah pegunungan Muria, yang dapat menghambat pemulihan dan memicu genangan baru.
Di balik angka 4.668 rumah dan 14.000 jiwa, terdapat ribuan kisah pilu warga yang kehilangan tempat tinggal, mengungsi, dan harus memulai kembali dari nol. Banjir ini menggenangi lebih dari sekadar lantai rumah, ia juga mengganggu mata pencaharian, pendidikan, dan layanan kesehatan.
Bencana ini kembali menegaskan urgensi mitigasi dan kesiapsiagaan jangka panjang di daerah rawan. Normalisasi sungai, rehabilitasi tanggul, perbaikan drainase, dan reboisasi di hulu adalah pekerjaan rumah kolektif yang tidak bisa ditunda lagi setelah air surut.
Untuk saat ini, bantuan dan solidaritas untuk saudara-saudara kita yang terdampak adalah kebutuhan yang paling mendesak. Sementara upaya tanggap darurat dan pemulihan infrastruktur berjalan, kewaspadaan dan kepatuhan terhadap himbauan tetap menjadi kunci keselamatan bersama.



