Minggu, 15 Februari 2026
29 C
Semarang

Stasiun Tuntang “Glow Up”: Nongkrong Sejarah Ala Korea di Atas Perahu Rawa Pening

"Stasiun Tuntang bukan cuma stasiun, tapi situs sejarah nasional. Kami angkat nilai sejarah jadi pengalaman wisata yang menarik dan edukatif"

Berita Terkait

SEMARANG – Stasiun Tuntang, stasiun heritage berusia seabad lebih, kini punya spot nongkrong anyar yang instagenic banget, wisata perahu ala Korea yang meluncur di perairan Rawa Pening. Wahana ini resmi dibuka sebagai bagian dari strategi menghidupkan destinasi sejarah lewat pengalaman yang lebih kekinian dan aesthetic.

Wahana hasil kolaborasi CSR PT KAI dan pengelolaan KAI Wisata ini menawarkan tur selama 20 menit dengan tarif Rp 15.000 per orang (kapasitas 5 orang per perahu), beroperasi pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Konsepnya dirancang untuk ngedrag generasi muda dan wisatawan mancanegara yang doyan konten feed Instagram.

“Stasiun Tuntang bukan cuma stasiun, tapi situs sejarah nasional. Kami angkat nilai sejarah jadi pengalaman wisata yang menarik dan edukatif,” ujar VP Corporate Secretary KAI Wisata, Otnial Eko Pamiarso dalam rilis resminya Selasa (13/01/2026).

Corporate Branding KAI Wisata, Riesta Junianti, menambahkan, “Ini bagian dari strategi experience-based tourism yang lagi hits”, katanya.

Stasiun Tuntang sendiri punya backstory yang dalem. Dibangun 1871 dan beroperasi 1873, bangunan bergaya “chalet NIS” ini pernah jadi stasiun utama untuk Salatiga. Sempat nonaktif, lalu reborn sebagai bagian dari kawasan Museum Ambarawa dan bahkan jadi lokasi syuting serial “Gadis Kretek” Netflix. Rencananya, stasiun ini akan dikembangkan jadi museum lokomotif diesel.

Antusiasme datang dari pengunjung seperti Tri Mulyani (34), warga Solo yang sengaja ajak keluarga menikmati petualangan sejarah.

“Akhirnya ada inovasi, seru banget bisa merasakan sejarah sambil naik perahu dengan view kayak gini. Anak-anak juga jadi excited,” ujar Tri.

Namun, ia menyelipkan catatan penting. “Saya harap pengelola tetep prioritaskan keselamatan pengunjung, terutama buat anak-anak. Terus, jangan cuma fokus jualan tiket aja, tapi perawatan tempat dan kebersihan airnya juga harus konsisten. Biar nggak cuma rame di awal, tapi bisa jadi destinasi favorit yang well-maintained untuk tahun-tahun ke depan”, pungkasnya penuh antusias.

Pesan Tri relevan, mengingat data kualitas air Sungai Tuntang di belakang stasiun yang fluktuatif, terutama pada musim kemarau dengan indikator pencemaran organik yang tinggi.

Hadirnya wisata perahu ini adalah langkah konkret rebranding sebuah cagar budaya. Stasiun Tuntang tak lagi cuma jadi bangunan tua yang dikunjungi sekadarnya, tetapi destinasi hidup yang menawarkan multi-experience, belajar sejarah, hunting foto aesthetic, dan rekreasi keluarga.

Langkah ini patut diapresiasi sebagai upaya mendemokratisasi akses sejarah dengan kemasan yang relatable. Tantangannya ke depan adalah menjaga keseimbangan antara komersialisasi dan konservasi, serta memastikan inovasi tidak menggerus kekhasan heritage, dan bahwa keuntungan yang didapat reinvestasikan untuk perawatan jangka panjang. Karena sejatinya, warisan sejarah paling keren itu bukan cuma yang instagramable, tapi yang bisa dinikmati dengan aman dan lestari oleh generasi-generasi selanjutnya.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru