Menu ✖

Mode Gelap

Tanpa Gawai pun Bisa Coding: Kepala Sekolah di Semarang Buktikan Inovasi Pembelajaran dengan Metode Unplugged

12 Feb 2026 · 08:43 WIB ·


					Tanpa Gawai pun Bisa Coding: Kepala Sekolah di Semarang Buktikan Inovasi Pembelajaran dengan Metode Unplugged Perbesar

SEMARANG – Siapa bilang belajar coding harus menggunakan komputer dan jaringan internet canggih? Kepala SDN 02 Gajah Mungkur Semarang, Manek Intan Permatasari, membuktikan bahwa literasi digital dan pola pikir komputasional bisa ditanamkan sejak dini, bahkan tanpa gawai sama sekali.

Melalui program Cyber AI dengan metode unplugged coding, ia mengajak siswa berpikir logis, runtut, dan sistematis melalui permainan serta Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) bertema. Inovasi ini bermula dari pelatihan dua hari yang ia ikuti bersama Tanoto Foundation, organisasi filantropi pendidikan yang fokus pada peningkatan kualitas pembelajaran dasar di Indonesia.

Belajar Coding Tanpa Komputer, Siswa Justru Makin Antusias

Metode unplugged coding mengajarkan konsep pemrograman tanpa perangkat digital. Siswa diajak menyusun perintah, mengenali pola, dan memecahkan masalah melalui aktivitas konkret, seperti permainan papan, kartu bergambar, hingga simulasi gerak.

“Saya banyak belajar, ternyata tanpa gawai pun anak bisa bermain coding. Anak-anak seperti sedang bermain, tapi sebenarnya mereka sedang belajar berpikir komputasional. Mereka belajar memberi perintah yang benar, runtut, dan logis,” ujar Manek Intan saat ditemui di ruang kerjanya, Rabu (11/2).

Ia menambahkan bahwa tantangan zaman menuntut guru untuk kreatif. Namun menurutnya, kreativitas tak selalu butuh biaya besar.

“Kita punya media untuk membuat anak senang belajar. Coding tanpa komputer ini adalah bukti bahwa inovasi bisa dimulai dengan modal kemauan dan LKPD yang kreatif,” tegasnya.

Dari Kepala Sekolah ke Seluruh Guru: Menular Lewat Komunitas Belajar

Manek Intan tak menyimpan sendiri metode ini. Lewat komunitas belajar di sekolah, ia secara aktif menularkan ilmu kepada rekan-rekan guru. Sri Lestari, salah satu guru di SDN 02 Gajah Mungkur, mengaku baru paham setelah mendapatkan penjelasan langsung dari kepala sekolahnya.

“Ternyata cara berpikir komputasional itu bisa diintegrasikan ke semua mapel. Selama ini saya hanya sedikit menyelipkan, misalnya di materi teks prosedur Bahasa Indonesia. Padahal, kita bisa merancang pembelajaran yang lebih utuh,” kata Sri.

Antusiasme siswa pun terasa nyata. Manek Intan menirukan celoteh murid-muridnya: “Bu, besok ada kegiatan kayak robot lagi enggak?” Sebuah pertanyaan sederhana yang jadi indikator keberhasilan, bahwa pembelajaran yang menyenangkan itu mungkin, dan tak selalu butuh layar.

Tanoto Foundation: Mitra Inovasi Pendidikan Dasar

Program pelatihan Cyber AI yang diikuti Manek Intan merupakan bagian dari inisiatif Tanoto Foundation, organisasi filantropi yang didirikan Sukanto Tanoto dan Tinah Bingei Tanoto pada 2001. Berpusat di Jakarta, lembaga ini aktif di Indonesia, China, Singapura, dan Amerika Serikat.

Bidang pendidikan menjadi salah satu fokus utamanya, melalui program PINTAR, Tanoto Foundation melatih guru, memperkuat infrastruktur sekolah, dan mendorong inovasi pembelajaran di tingkat dasar. Pendekatan unplugged coding yang kini menjalar di SDN 02 Gajah Mungkur adalah salah satu buah dari ekosistem pelatihan tersebut.

Catatan Redaksi

Inovasi tak selalu lahir dari laboratorium canggih atau anggaran raksasa. Kadang ia hadir dari ruang guru yang mau belajar, dari kepala sekolah yang tak pelit ilmu, dan dari anak-anak yang bertanya, “Besok main robot lagi, Bu?”

Di tengah hiruk-pikuk wacana digitalisasi pendidikan yang kerap terjebak pada pengadaan barang, SDN 02 Gajah Mungkur mengingatkan kita pada hakikat literasi, bukan tentang gawai, tapi tentang cara berpikir.

Coding tanpa komputer adalah metafora yang jujur, bahwa kemajuan tak harus menunggu infrastruktur sempurna. Ia bisa dimulai dari kreativitas yang berpijak pada realitas. Dan ketika seorang kepala sekolah memilih membagikan ilmunya, bukan menyimpannya sebagai prestasi pribadi, di sanalah pendidikan benar-benar terjadi.

Tertawalah pada anggapan bahwa inovasi selalu mahal. Tapi jangan berhenti membuktikan sebaliknya.

Artikel ini telah dibaca 4 kali

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Line Salin tautan artikel
Baca Lainnya

35 Calon Komisioner KI Jateng Ikuti Psikotes, Hasilnya Jadi Bahan Pertimbangan

22 Oktober 2026 - 19:39 WIB

35 Calon Komisioner KI Jateng Ikuti Psikotes, Hasilnya Jadi Bahan Pertimbangan

BCKI Gandeng Handyman, Garap Pasar Smart Home di Semarang

22 Oktober 2026 - 15:38 WIB

Direktur PT Bangun Cipta Karya Indonesia, Laindra Winarto (tengah kanan) dan Direktur Operasional PT Handyman Smart Teknologi, Jeffry Candra Suwono (tengah kiri), dalam penandatangan perjanjian kerja sama Smart Home di Semarang, Rabu (21/10/2026).

Hari Santri, Taj Yasin Dorong Pengabdian Nyata untuk Kesejahteraan Warga

22 Oktober 2026 - 15:06 WIB

Hari Santri, Taj Yasin Dorong Pengabdian Nyata untuk Kesejahteraan Warga

Gugatan Penghapusan Kredit Dinilai Keliru, Dika Dituntut Ganti Rugi Korban

22 Oktober 2026 - 09:03 WIB

Gugatan Penghapusan Kredit Dinilai Keliru, Dika Dituntut Ganti Rugi Korban

Ahmad Luthfi: Semangat Resolusi Jihad Harus Berlanjut Melawan Kemiskinan

22 Oktober 2026 - 08:12 WIB

Ahmad Luthfi: Semangat Resolusi Jihad Harus Berlanjut Melawan Kemiskinan

Porprov Jateng 2026 Libatkan Ribuan Atlet, UMKM hingga Hotel Berpeluang Untung

21 Oktober 2026 - 18:23 WIB

Porprov Jateng 2026 Libatkan Ribuan Atlet, UMKM hingga Hotel Berpeluang Untung
Trending di Daerah

Tinggalkan Komentar