SEMARANG – Di tengah hiruk-pikuk tugas penegakan hukum dan keamanan, Polrestabes Semarang menunjukkan wajah lain yang tak kalah penting, hadir sebagai solusi atas persoalan konkret warga. Kapolrestabes Semarang, Kombes Pol M. Syahduddi, meninjau langsung Jembatan Merah Putih Presisi di Kelurahan Jabungan, Kecamatan Banyumanik, Jumat (20/2/2026), memastikan infrastruktur vital itu rampung dan siap dimanfaatkan masyarakat.
Jembatan sepanjang kurang lebih 50 meter yang menghubungkan RW 01 dan RW 02 ini bukan sekadar bangunan fisik. Ia adalah urat nadi bagi sekitar 500 kepala keluarga yang selama bertahun-tahun mengandalkan akses tersebut untuk aktivitas sehari-hari. Ketika jembatan lama putus diterjang banjir besar, kehidupan warga seperti terhenti. Anak-anak kesulitan ke sekolah, warga sakit harus memutar jauh untuk mencapai Puskesmas Pembantu Jabungan, dan roda ekonomi melambat.

Kini, setelah pembangunan dinyatakan rampung 100 persen, senyum warga kembali merekah.
Tinjauan Langsung Bukti Keseriusan
Peninjauan yang dilakukan Jumat pagi (20/2/2026) pukul 10.00 WIB itu berlangsung hangat. Kapolrestabes tak datang sendiri. Ia didampingi jajaran inti, mulai Kasat Reskrim AKBP Andika Dharma Sena, Kapolsek Banyumanik Kompol Hengky Prasetyo, personel Polsek Banyumanik, hingga Lurah Jabungan Sarwono. Tak ketinggalan, warga dan para siswa setempat turut menyambut antusias.
Kehadiran orang nomor satu di Polrestabes Semarang itu menjadi simbol bahwa negara hadir tidak hanya saat ada masalah, tetapi juga saat warga membutuhkan uluran tangan untuk bangkit dari keterpurukan.
“Pembangunan ini merupakan wujud implementasi arahan Bapak Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya peran Polri dalam mendukung percepatan pembangunan infrastruktur demi kesejahteraan masyarakat,” ujar Kombes Pol M. Syahduddi di lokasi.

Ia menegaskan bahwa Polri tidak hanya hadir dalam aspek penegakan hukum, tetapi juga mengambil bagian aktif dalam membantu pemulihan dan pembangunan fasilitas publik yang berdampak langsung bagi kehidupan warga.
Jembatan Yang Menyatukan Antara RW 01 dan RW 02
Sebelum jembatan ini berdiri kokoh, warga RW 01 dan RW 02 Jabungan harus menempuh perjalanan memutar yang cukup jauh hanya untuk saling mengunjungi atau mengakses layanan publik. Anak-anak yang bersekolah di TK dan SDN Jabungan kerap terlambat karena rute yang panjang. Warga yang hendak berobat ke Puskesmas Pembantu Jabungan harus ekstra hati-hati dan mengeluarkan biaya lebih untuk transportasi.
Jembatan Merah Putih Presisi mengubah semuanya. Dengan panjang sekitar 50 meter, infrastruktur ini kini menjadi penghubung utama yang memangkas jarak tempuh secara signifikan. Mobilitas warga kembali lancar, keselamatan terjamin, dan aktivitas ekonomi bergerak normal.
Lurah Jabungan, Sarwono, mengungkapkan rasa syukurnya atas selesainya pembangunan jembatan.
“Kami sangat berterima kasih kepada kepolisian yang telah membantu mewujudkan impian warga. Jembatan ini bukan hanya soal akses, tapi juga soal harapan. Anak-anak kami bisa sekolah dengan tenang, warga sakit bisa cepat sampai ke puskesmas,” katanya.
Antusiasme Warga Dari Proses Hingga Pemanfaatan
Antusiasme warga terlihat sejak awal proses pembangunan. Gotong royong mewarnai setiap tahap, dari pembersihan lahan hingga peresmian. Kehadiran kepolisian sebagai penggagas dan pendamping proyek dinilai meringankan beban masyarakat yang sebelumnya harus merogoh kocek sendiri untuk biaya pembangunan.
Seorang warga RW 02, Mbah Karto (65), tak kuasa menahan haru saat jembatan yang dinanti-nantinya akhirnya bisa digunakan.
“Dulu kalau mau ke sawah di seberang, saya harus mutar jauh. Sekarang tinggal jalan sebentar. Terima kasih Pak Polisi, semoga berkah,” ujarnya dengan mata berkaca-kaca.

Para siswa SDN Jabungan yang turut hadir dalam peninjauan juga tak bisa menyembunyikan kegembiraan. Mereka kini bisa berangkat sekolah lebih pagi dan pulang lebih cepat, dengan rasa aman karena jembatan yang kokoh dan lebar.
Semangat Presisi: Polri yang Humanis dan Responsif
Kombes Pol M. Syahduddi menegaskan bahwa pembangunan Jembatan Merah Putih Presisi adalah wujud nyata dari semangat Presisi (Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan) yang diusung Polri.
“Kami ingin menunjukkan bahwa Polri dekat dengan masyarakat. Tidak hanya ketika ada kejahatan, tapi juga dalam suka dan duka. Ketika warga kesulitan akses, kami hadir. Ketika anak-anak butuh jembatan untuk ke sekolah, kami bergerak,” tegasnya.
Ia berharap jembatan ini tidak hanya memperkuat konektivitas wilayah, tetapi juga mempererat kedekatan antara Polri dan masyarakat.
“Semoga fasilitas ini benar-benar memberi manfaat, khususnya bagi anak-anak yang setiap hari menempuh perjalanan ke sekolah serta masyarakat yang membutuhkan akses layanan kesehatan,” imbuhnya.
Dampak Ekonomi dan Sosial yang Nyata
Keberadaan Jembatan Merah Putih Presisi diprediksi membawa dampak ekonomi yang signifikan. Akses yang lebih mudah antar-RW akan memacu aktivitas jual beli, memudahkan distribusi hasil pertanian warga, dan membuka peluang usaha baru di sekitar jembatan.
Dari sisi sosial, jembatan ini menyatukan kembali dua komunitas yang sempat terpisah. Silaturahmi antarwarga RW 01 dan RW 02 kembali mengalir deras, acara-acara kemasyarakatan bisa dihadiri lebih banyak orang, dan rasa kebersamaan semakin menguat.
Kegiatan peninjauan berakhir sekitar pukul 10.45 WIB dalam situasi aman, tertib, dan kondusif. Namun, jejak yang ditinggalkan Jembatan Merah Putih Presisi akan terasa jauh lebih lama, mungkin selamanya, bagi warga Jabungan.
Catatan Redaksi
Di tengah anggapan umum bahwa polisi hanya bekerja saat ada kejahatan, hadirnya Jembatan Merah Putih Presisi di Kelurahan Jabungan menjadi tamparan manis bagi stereotip tersebut. Kombes Pol M. Syahduddi dan jajaran membuktikan bahwa institusi kepolisian bisa menjadi agen pembangunan yang menyentuh langsung kebutuhan dasar warga.
Jembatan sepanjang 50 meter ini mungkin kecil jika dibandingkan dengan mega proyek infrastruktur pemerintah. Namun bagi 500 kepala keluarga di Jabungan, nilainya tak terhingga. Ia bukan sekadar beton dan besi yang membentang di atas sungai. Ia adalah akses menuju pendidikan bagi anak-anak, jalan menuju kesembuhan bagi yang sakit, dan penghubung rezeki bagi para petani dan pedagang.
Yang lebih mengesankan, pembangunan ini dilakukan dengan semangat gotong royong dan pendampingan penuh dari kepolisian. Bukan proyek yang dikerjakan kontrakor besar dengan anggaran miliaran, melainkan kerja bersama yang melibatkan warga, perangkat kelurahan, dan Polri. Inilah infrastruktur yang benar-benar berakar pada kebutuhan masyarakat.
Arahan Presiden Prabowo tentang peran Polri dalam percepatan pembangunan infrastruktur menemukan wujudnya di sini. Bukan sekadar instruksi di atas kertas, tapi aksi nyata di lapangan. Polri menunjukkan bahwa tugas menjaga keamanan tidak selalu identik dengan senjata dan penjagaan, tapi juga dengan membangun jembatan yang menyatukan.
Kini, ketika anak-anak Jabungan melintasi jembatan ini setiap pagi menuju sekolah, mereka tidak hanya melangkah di atas jembatan, tetapi juga di atas harapan. Harapan bahwa negara, melalui institusinya, benar-benar peduli pada mimpi-mimpi kecil mereka. Dan bagi warga yang setiap hari melewatinya, Jembatan Merah Putih Presisi akan selalu mengingatkan bahwa polisi adalah sahabat, bukan sekadar aparat.
Semoga semangat Presisi yang humanis dan responsif ini menular ke seluruh jajaran kepolisian di mana pun. Karena pada akhirnya, pembangunan sejati adalah ketika masyarakat merasakan langsung manfaatnya dalam kehidupan sehari-hari.



