SEMARANG – Di balik seragam cokelatnya, ada hati yang tak pernah lelah menabur spiritualitas. Kompol Pujiono, S.H., M.M., bukan sekadar Kasat Tahti Polrestabes Semarang yang baru. Ia adalah polisi pendakwah dengan gaya khas, ceria, humoris, dan mampu menyentuh hati tanpa menggurui.
Rabu sore (25/2/2026) di Lobby Polrestabes Semarang, suasana buka puasa bersama insan pers dan anak yatim berubah hangat ketika pria kelahiran Banyumas 29 September 1973 ini berbicara di hadapan puluhan insan pers dan anak yatim. Bukan pidato resmi, tapi tausiyah yang membumi dengan logat Ngapak khas yang membuat siapa pun tersenyum, namun merenung.

Perjalanan Kompol Pujiono sebagai pendakwah dimulai tahun 2005, saat masih bertugas di Polwil Banyumas. Namun namanya mulai dikenal luas sejak 2012, ketika ia hadir di layar televisi lokal melalui acara “Inyong Bae Polisi”. Gaya ceramahnya yang ceria, humoris, dan menggunakan bahasa Banyumasan yang khas membuatnya mudah diterima masyarakat lintas kalangan.
“Seperti yang saya lakukan sejak tahun 2005, mengisi pengajian dari panggung ke panggung, dengan metode 20 persen tausiyah, 40 persen praktik, 40 persen dialog. Kalau bisa, mengaji itu tidak hanya teori, tetapi dijalani bersama,” ujarnya usai acara.

Metode itu ia praktikkan langsung. Di setiap kesempatan, ia tak hanya bicara soal sedekah, tapi mengajak hadirin untuk melakukannya bersama. Seperti sore itu, ketika ia mengajak anak-anak yatim maju kedepan dan memberi mereka bingkisan sarung dan uang, menyentuh mereka dengan kehangatan.
“Supaya hati ini luluh,” katanya sederhana.
Filosofi pengabdiannya pun tak biasa. Ia percaya polisi harus menyatu dengan masyarakat, bukan hanya tokoh agama, tapi juga kelompok yang sering terpinggirkan, masyarakat kurang mampu, anak jalanan, bahkan mantan pelaku kejahatan.
“Polisi hadir. Biasanya kita yang datang atau diundang. Di acara apa saja. Peringatan keagamaan, pernikahan, sunatan, kematian, haul, sedekah bumi. Kami hadir di tengah mereka,” tuturnya, menggambarkan prinsip yang dipegang teguh.
Jejak Pengabdian Dari Banyumas hingga Semarang

Jejak pengabdian Kompol Pujiono tersebar di berbagai wilayah. Tahun 2022, saat menjabat Wakapolres Purbalingga, ia tercatat menjadwalkan 40 kegiatan pengajian dalam satu bulan, tersebar di Banyumas, Purbalingga, Banjarnegara, Cilacap, Brebes, hingga Kebumen. Bukan sekadar seremonial, tapi dialog langsung dengan warga.
Oktober 2025, ia hadir dalam acara nikah massal di Pekalongan dengan status Wakapolres Pekalongan Kota. Di mana pun bertugas, ia tak pernah lepas dari peran sebagai pendakwah.
Hingga Rabu, 14 Januari 2026, rotasi jabatan di Polrestabes Semarang membawanya ke posisi baru, Kasat Tahti. Dalam serah terima yang dipimpin langsung Kapolrestabes Semarang Kombes Pol M. Syahduddi, Kompol Pujiono resmi menggantikan Kompol Poniman.
Sebagai Kasat Tahti, tugasnya sesuai Perkap 23/2010 adalah menyelenggarakan perawatan tahanan, pembinaan rohani, mengamankan barang bukti, serta melaporkan kondisi tahanan. Peran yang sejalan dengan passion-nya, membina spiritual, termasuk bagi mereka yang tengah menjalani masa hukuman.
Sinergi Polisi-Pers Merawat Informasi, Menjaga Kepercayaan
Di sela acara buka puasa, Kompol Pujiono menyempatkan diri berbincang dengan insan pers. Bukan sekadar basa-basi, tapi pesan mendalam tentang peran media di tengah derasnya arus informasi.
“Saya dan bapak-ibu sekalian tidak akan bisa melihat kenyataan jika tidak ada informasi yang kredibel. Pers dan Polisi itu mitra. Tugasnya berbeda, tapi tujuannya sama, masyarakat tenteram, informasi terang, tidak termakan berita yang belum diverifikasi,” ujarnya.
Ia mengajak insan pers untuk bersama-sama membangun peradaban informasi yang sehat. Bukan saling intervensi atau mengendalikan, tapi bersinergi menjaga agar publik tercerahkan.
“Publik harus tercerahkan, jangan sampai mentah-mentah dalam menerima kabar,” tegas pria yang akrab disapa Pak Pujiono ini.
Jika ditelisik lebih dalam, pesannya memiliki lapisan makna
Pujiono menambahkan, saat inergi itu diwujudkan dalam tindakan nyata, yang terjadi adalah polisi melindungi proses jurnalistik yang sehat, membantu verifikasi informasi, pers membudayakan verifikasi, memeriksa sumber, tak mudah menyebar kabar buruk, bersama-sama membangun komunikasi yang transparan.
Dan tentu saja semua ikhtiar itu hanyalah wasilah, perantara. Pengendali utama, pemilik alam semesta, tetaplah Allah. Seperti ajaran para wali, manusia hanya wayang, Sang Maha Dalang yang menggelar lakon.
“Kita ikhtiar sinergi, kita jaga informasi, kita verifikasi berita. Tapi setelah itu, kita serahkan kembali kepada yang punya urusan, kepada Gusti Allah. Karena hanya Dia yang bisa memberi petunjuk dan melindungi kita semua dari fitnah informasi,” demikian inti pesan spiritualnya.
Berbagi dengan Anak Yatim Praktik Sedekah yang Menyentuh
Acara yang dihadiri puluhan awak media dan anak-anak Yayasan Darul Falah Al Hasyimiyah ini ditutup dengan pemberian santunan. Kompol Pujiono, yang sejak dulu terkenal dengan metode “praktik sedekah” di setiap pengajiannya, mengajak para pejabat utama untuk turut menyatu menabur keikhlasan.
“Kunci surga itu cinta kepada orang miskin dan anak yatim. Tidak perlu kata-kata, kita langsung praktikkan saja,” ujarnya dengan logat Ngapak yang membuat suasana semakin akrab.
Anak-anak yatim itu tampak antusias. Senyum mereka merekah, sesekali tertawa mendengar guyonan Kompol Pujiono. Di ruang lobi Polrestabes yang biasanya terasa formal, sore itu berubah menjadi ruang kehangatan yang tak terlupakan.
Catatan Redaksi
Kompol Pujiono adalah potret langka, polisi yang tak hanya menegakkan aturan, tapi juga merawat jiwa. Di tengah institusi yang kerap dipandang kaku dan prosedural, ia hadir dengan wajah lain, humanis, bersahaja, dan penuh kehangatan.
Yang menarik, perannya sebagai Kasat Tahti justru memperkuat misi spiritualnya. Membina tahanan bukan sekadar pekerjaan, tapi panggilan untuk mengingatkan bahwa setiap manusia punya kesempatan kembali ke jalan yang benar. Dan ia melakukannya dengan cara yang tak menekan, lewat dialog, lewat canda, lewat keteladanan.
Pesannya kepada insan pers juga relevan di era banjir informasi. Bahwa verifikasi adalah ibadah. Bahwa kecepatan tak boleh mengorbankan kebenaran. Bahwa polisi dan media, dengan tugas berbeda, sejatinya berjalan pada rel yang sama, yaitu mencerahkan publik dan menjaga kepercayaan.
Di akhir, ia mengingatkan kita semua untuk tak lupa pada Yang Maha Mengatur. Bahwa sinergi, ikhtiar, dan kerja keras hanyalah perantara. Hasil akhir, kita serahkan pada-Nya. Sikap pasrah yang justru meneguhkan, bahwa sehebat apa pun manusia, tetap ada tangan tak terlihat yang mengendalikan semesta.
Selamat bertugas di Semarang, Kompol Pujiono. Semoga kehangatan yang dibawa dari Banyumas, Purbalingga, hingga Pekalongan, bisa terus menular, di ruang tahanan, di ruang redaksi, dan di hati setiap orang yang ditemuinya. Karena polisi sejati bukan hanya penegak hukum, tapi juga penjaga nurani.



