Rabu, 29 April 2026
27.4 C
Semarang

Kapolrestabes Temui KASBI Jateng: Dialog Sebelum May Day

Buruh bebas demo, polisi siap amankan

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Di balik gegap gempita May Day yang tinggal menghitung hari, ada yang berbeda di Semarang tahun ini. Sebelum ribuan buruh turun ke jalan, kursi-kursi kayu di Sekretariat Kongres Aliansi Serikat Buruh Indonesia (KASBI) Jawa Tengah tidak diduduki oleh serikat pekerja saja.

Senin (27/4/2026) sore, suasana di Jalan Parang Kembang Raya, Tlogosari Kulon, Kecamatan Pedurungan, terasa istimewa. Ada dua kubu yang biasanya berhadapan di lapangan, pagi itu duduk berdampingan.

Kombes Pol Heri Wahyudi, S.I.K. , Kapolrestabes Semarang yang baru beberapa pekan menjabat, datang bersama jajarannya. Kabagops AKBP Asep Supiyanto, Kasatlantas AKBP Yunaldi, Kasatintelkam Kompol Rohmadi Hartono, serta Kapolsek Pedurungan Kompol Felix M.U., semua hadir. Bukan untuk menggerebek. Bukan untuk mengintimidasi.

Mereka datang untuk ngobrol.

Sore yang Hangat di Sekretariat KASBI

Di sisi lain meja, duduk Mulyono, Ketua KASBI Jawa Tengah, bersama perwakilan anggota dari Semarang dan Jepara. Awalnya mungkin ada kecanggungan. Tapi lambat laun, suasana mencair. Kopi disuguhkan. Senyum mengembang.

“Polri hadir tidak hanya sebagai penjaga keamanan, tetapi juga sebagai mitra dialog bagi seluruh elemen masyarakat, termasuk serikat buruh. Kami ingin memastikan bahwa setiap aspirasi dapat disampaikan secara aman, tertib, dan tetap dalam koridor hukum,” ujar Kombes Pol Heri Wahyudi di hadapan para pengurus KASBI.

Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi. Di balik meja pertemuan itu, ada pesan tersirat, Polisi tidak ingin menjadi penghalang. Polisi ingin menjadi pengayom.

May Day di Mata Polisi dan Buruh

May Day atau Hari Buruh Internasional selalu menjadi momen yang dinanti, juga diwaspadai. Ribuan pekerja turun ke jalan menyuarakan hak. Di sisi lain, aparat keamanan bersiap mengantisipasi potensi ricuh.

Tapi tahun ini, Kapolrestabes Semarang mengambil langkah berbeda. Sebelum spanduk dibentangkan, sebelum pengeras suara dinyalakan, ia memilih datang lebih dulu. Duduk. Mendengar. Berdialog.

Kunjungan ini sekaligus menjadi momentum perkenalan Heri Wahyudi sebagai Kapolrestabes Semarang yang baru. Ia ingin membuka ruang komunikasi yang lebih intensif dengan serikat pekerja bukan saat terjadi gejolak, tapi saat suasana masih tenang.

Perwakilan KASBI Jawa Tengah menyambut baik langkah ini. Mereka menyatakan komitmen untuk terus menjalin komunikasi dengan aparat kepolisian, demi terciptanya suasana yang aman dan tertib dalam setiap kegiatan buruh, khususnya pada momentum May Day mendatang.

Aspirasi Boleh, Ricuh Jangan

Dialog yang berlangsung hangat dan penuh keterbukaan itu membahas berbagai isu ketenagakerjaan. Tapi intinya sederhana, buruh bebas menyampaikan aspirasi, polisi siap mengamankan.

Kapolrestabes menegaskan bahwa pihaknya mengedepankan pendekatan responsif dan humanis dalam menghadapi dinamika penyampaian aspirasi di lapangan. Bukan water cannon dan tameng sejak awal. Tapi dialog. Pendekatan. Pencegahan.

“Ini langkah strategis dalam membangun komunikasi yang konstruktif antara kepolisian dan elemen serikat pekerja, guna menciptakan suasana yang aman dan kondusif,” ujar Heri Wahyudi.

Catatan Redaksi

May Day lahir dari perjuangan panjang buruh AS pada abad ke-19 untuk menuntut jam kerja yang manusiawi. Kini, lebih dari seabad kemudian, esensinya tetap sama, mendengarkan suara pekerja.

Yang terjadi di Sekretariat KASBI Jateng sore itu adalah pengingat bahwa demo dan dialog bukanlah dua hal yang bertentangan. Demo bisa berjalan damai jika dialog dibangun sejak awal. Aspirasi bisa tersampaikan tanpa anarkis jika aparat hadir sebagai pengayom, bukan lawan.

Kombes Pol Heri Wahyudi, yang sebelumnya bertugas sebagai Kapolres Grobogan sebelum dipercaya memimpin Polrestabes Semarang membawa pendekatan yang sama, humanis, dialogis, dan mengedepankan pencegahan. Kunjungannya ke KASBI Jateng adalah bukti bahwa ia serius menjalankan pendekatan itu.

Tentu, dialog saja tidak cukup. Yang lebih penting adalah tindak lanjut, apakah aspirasi yang disampaikan akan didengar oleh pengambil kebijakan? Apakah buruh akan merasa bahwa suaranya tidak sekadar didengar, tapi juga direspons?

Tapi setidaknya, langkah awal itu sudah diambil. Meja dialog sudah terbuka. Kopi sudah diseduh. Senyum sudah terbagi.

Kini, tinggal kita tunggu bagaimana May Day 2026 di Semarang nanti. Apakah akan berlangsung damai, tertib, dan penuh makna seperti yang diharapkan bersama.

PortalJateng.id mencatat, dialog tidak pernah menghilangkan perbedaan. Tapi ia bisa mencegah perbedaan itu berubah menjadi luka. Selamat menyampaikan aspirasi, para buruh. Dan selamat menjaga keamanan, aparat. Semoga May Day tahun ini menjadi momentum kebersamaan, bukan pertumpahan.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru