Sabtu, 16 Mei 2026
29 C
Semarang

Bus Naik-Turunkan Penumpang di Pinggir Jalan, Pedagang Terminal Bawen Resah

Pedagang dan agen tiket Terminal Bawen tutup kios serentak, Rabu (13/5/2026).

Berita Terkait

BAWEN, PortalJateng.id — Ada yang berbeda di Terminal Tipe A Bawen, Kabupaten Semarang, Rabu (13/5/2026) pukul 10.00 WIB. Puluhan kios yang biasanya buka sejak pagi, mendadak tutup. Para pedagang tidak sedang liburan atau sakit. Mereka sedang angkat bicara.

Penutupan kios secara serentak itu adalah bentuk protes. Bukan demo anarkis. Bukan mogok makan. Tapi solidaritas warga terminal yang merasa bingung, resah, dan tak mendapat kejelasan.

Sejak Senin (11/5/2026), pengelola terminal menutup akses pintu utama di Jalan Raya Yogyakarta-Ambarawa-Bawen-Semarang atau yang akrab disebut warga sebagai Jalur Bawah (Gedung B) . Akses itu adalah urat nadi bagi para pedagang dan agen tiket yang menggantungkan hidup dari lalu lalang penumpang dan bus.

Tanpa sosialisasi. Tanpa pemberitahuan. Tiba-tiba saja ditutup.

Titik Jumiati, Koordinator Perkumpulan Pekerja Terminal Tipe A Bawen (PPTB) Tiras Kabupaten Semarang, menjelaskan duduk persoalannya.

“Warga terminal yang terdiri dari pedagang makanan dan agen tiket bus resah dengan keputusan pengelola terminal. Karena dengan ditutupnya akses utama tersebut, penumpang tidak masuk terminal. Bus juga menaik-turunkan penumpang di pinggir jalan,” ujar Titik.

Terminal yang sudah sepi, tambah Titik, dengan penutupan akses ini menjadi semakin sepi. Otomatis pendapatan pedagang semakin menurun.

“Kami tidak menerima sosialisasi. Tahu-tahu akses ditutup. Warga terminal jadi bingung. Kami berjualan di terminal ini dengan menyewa kios, jadi punya hak untuk bertanya,” tegasnya.

Ia bahkan menawarkan solusi yang sederhana namun bermakna:

“Kalau ingin terminal ramai, ayo diajak ngobrol. Bukan malah kami terus ditekan dengan penutupan akses ke terminal.”

Dari ratusan kios di Terminal Bawen, kini hanya 50 pedagang yang masih bertahan. Dan yang paling terpukul adalah pedagang di Gedung B, yang tidak dilewati bus. Sementara Gedung A masih sedikit ramai karena akses dari jalur Bawen-Salatiga masih terbuka.

Setiyanto, perwakilan agen tiket sekaligus Penasehat PPTB Tiras, menambahkan bahwa penutupan akses ini menjadi keluhan bersama bukan hanya pedagang dan agen, tapi juga sopir dan penumpang.

“Tidak pernah ada sosialisasi. Kami berniat menanyakan keputusan ini. Penutupan ini membuat kami prihatin. Terminal sepi, tapi yang lebih parah, situasi ini jadi berbahaya,” ujar Setiyanto.

Ia menjelaskan, dengan ditutupnya akses utama, bus harus memutar dulu ke jalur Bawen-Salatiga, melewati pertigaan Bawen. Itu artinya:

  • Risiko kecelakaan meningkat
  • Potensi kemacetan bertambah

“Pada situasi normal saja, pertigaan Bawen sudah jadi sumber kemacetan. Apalagi dengan penutupan akses, akan ada penumpukan kendaraan,” tegasnya.

Long weekend yang seharusnya menjadi berkah bagi pedagang karena banyak pemudik liburan justru menjadi petaka dengan kebijakan ini.

Imron, Kepala Terminal Tipe A Bawen, memberikan klarifikasi. Menurutnya, penutupan akses tersebut masih bersifat uji coba selama satu minggu dan rencananya akan dibuka kembali Senin depan.

“Penutupan karena ada program dari pusat terkait rencana pembangunan Gedung B Terminal Bawen. Perlu ada kajian terkait keselamatan, termasuk dampak negatif yang timbul,” jelas Imron.

Hasil evaluasi dan kajian penutupan akses ini nantinya akan dilaporkan ke pusat. Uji coba dilakukan minggu ini karena bertepatan dengan long weekend untuk melihat dampak kemacetan dan kendala lainnya.

Imron mengakui ada miss komunikasi. Namun ia bersikukuh bahwa sosialisasi sudah dilakukan ke bus yang setiap hari masuk terminal.

“Fokus kami adalah keamanan dan keselamatan, termasuk mobil pribadi di area terminal dan bus yang masuk,” ujarnya.

Pertemuan antara warga terminal dan Kepala Terminal Bawen beserta stafnya sempat berjalan alot. Suasana sempat memanas. Namun akhirnya tercapai kesepakatan.

Uji coba penutupan akses utama bawah Terminal Bawen yang semula dijadwalkan selama satu minggu penuh resmi dibuka kembali hari ini, seperti semula.

Kesepakatan ini adalah kemenangan kecil bagi para pedagang yang hanya ingin didengar. Bukan kemenangan dalam arti mengalahkan pengelola, tapi kemenangan bahwa dialog lebih baik daripada dipaksa.

Catatan Redaksi

Terminal adalah ruang publik. Ia milik bersama. Keputusan yang berdampak pada penghidupan puluhan pedagang dan agen tiket seharusnya tidak diputuskan secara sepihak, tanpa sosialisasi, tanpa melibatkan mereka yang paling terdampak.

Pedagang terminal bukanlah pengemis. Mereka membayar sewa kios. Mereka berkontribusi pada pendapatan daerah. Mereka berhak untuk bertanya, “Mengapa akses ini ditutup?”

Untungnya, kesepakatan tercapai. Akses dibuka kembali. Tapi ke depan, pengelola terminal perlu belajar: kebijakan yang baik adalah kebijakan yang lahir dari dialog, bukan dari kejutan.

PortalJateng.id mencatat: Terminal Bawen bisa dibangun megah. Tapi jika pedagangnya mati, penumpangnya lari, dan busnya enggan masuk maka terminal hanyalah gedung kosong yang mahal. Semoga kejadian ini jadi pelajaran bagi semua pihak.

Selamat berjualan kembali, para pedagang Terminal Bawen.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru