DEMAK, PortalJateng.id – AI (kecerdasan buatan) bukan lagi teknologi masa depan. Ia sudah hadir di ruang redaksi, membantu menulis berita, bahkan membuat konten video.
Tapi, siapa yang bertanggung jawab jika AI salah? Siapa yang memverifikasi fakta?
Ikatan Jurnalis Televisi Indonesia (IJTI) Korda Muria Raya menggelar FGD di Lantai 2 Hotel Amantis Demak, Kamis (11/6/2026). Tema yang diangkat, “Jurnalisme Positif di Era AI, Menjaga Integritas Informasi di Tengah Disrupsi Digital”.
Kegiatan yang dipandu moderator Syamsul Arifin, wartawan senior TV One dan juga dihadiri Ketua IJTI Pengda Jateng, Teguh Hadi Prayitni ini digelar bertepatan dengan Muskorda IJTI Korda Muria Raya ke-4. Sekitar 70 lebih peserta memenuhi hampir seluruh kursi. Suasana hangat dan antusias.
Bupati Demak: Jurnalisme Kritis yang Membangun
dr. Hj. Eisti’anah, S.E. , Bupati Demak, hadir langsung membuka acara. Ia menyampaikan pesan tegas.
“Jurnalisme positif bukan berarti tidak kritis. Justru kritis yang membangun, yang berorientasi pada solusi, itulah yang kita butuhkan di era banjir informasi ini,” ujar Bupati Eisti’anah.
Ia berharap insan pers di Demak dan Muria Raya menjadi garda terdepan.
“Berita yang mencerdaskan, bukan sekadar ramai di media sosial. Karena dari sinilah demokrasi kita sehat,” tambahnya.
Sekjen IJTI: AI Bukan Musuh, Tapi Jurnalis yang Malas Belajar
Usmar Almarwan , Sekretaris Jenderal IJTI (mewakili Ketua Umum), menegaskan bahwa AI bukan ancaman.
“AI bukan musuh jurnalis. Tapi jurnalis yang tidak mau belajar, itulah yang akan tertinggal,” tegas Usmar.
IJTI mendorong seluruh jurnalis televisi menguasai teknologi. Tapi, kode etik tidak boleh ditinggalkan.
“Integritas adalah harga mati. Tidak bisa ditawar. Di era AI, justru sentuhan manusiawi, verifikasi, dan keberpihakan pada kebenaran menjadi nilai jual yang tidak bisa digantikan mesin,” papar Usmar.
Dewan Pers: Literasi AI Wajib bagi Jurnalis
Muhammad Jazuli, Anggota Dewan Pers, mengungkapkan fakta mengejutkan.
“Dewan Pers menerima banyak laporan tentang konten hasil AI yang disalahgunakan. Termasuk deepfake dan berita hoaks,” ujar Jazuli.
Karena itu, literasi AI bagi jurnalis bukan lagi opsional. Ia wajib.
“Kami mendorong setiap redaksi memiliki pedoman internal tentang penggunaan AI. Jurnalisme positif adalah jurnalisme yang tetap memegang fakta, verifikasi, dan keberimbangan. Apapun alat yang digunakan,” tegas Jazuli.
Ketua IJTI Muria Raya: Jurnalis TV Harus Jaga Akurasi
Iwhan Miftakhudin , Ketua IJTI Korda Muria Raya yang juga jurnalis Kompas TV, menyoroti tantangan di wilayahnya.
“Di Muria Raya, tantangan jurnalis televisi tidak hanya soal kecepatan, tapi juga akurasi,” ujar Iwhan.
FGD ini diharapkan menjadi momentum menyamakan persepsi.
“AI bisa membantu kerja jurnalistik, asalkan etika tetap di atas segalanya. Jurnalis positif adalah jurnalis yang tidak hanya melaporkan masalah, tapi juga ikut mengawal solusi,” pungkas Iwhan.
Kesimpulan FGD: Jurnalisme Positif Butuh Kolaborasi
Forum sepakat bahwa AI adalah alat, bukan ancaman. Jurnalis harus melek teknologi, tapi tidak meninggalkan kode etik.
Verifikasi, keberimbangan, dan keberpihakan pada kebenaran tetap menjadi fondasi utama
Literasi AI bagi jurnalis dan masyarakat harus terus digencarkan. Pedoman internal di setiap redaksi tentang penggunaan etis AI juga diperlukan.
Jurnalisme positif yang kritis, membangun, dan berorientasi solusi menjadi kebutuhan mendesak di tengah disrupsi digital.
Kolaborasi antara pers, pemerintah, akademisi, dan platform digital harus diperkuat. Tujuannya, menjaga ekosistem informasi yang sehat.
AI bisa menulis. AI bisa membuat video. AI bisa menyebarkan informasi dalam hitungan detik.
Tapi AI tidak punya hati nurani. AI tidak bisa merasakan sakitnya korban hoaks. AI tidak bisa menangis saat membaca berita duka.
Jurnalisme bukan sekadar menyampaikan informasi. Ia adalah amanah untuk menyuarakan kebenaran, membela yang lemah, dan menjaga martabat manusia.
Di era AI, peran jurnalis justru semakin penting. Bukan karena mereka bisa lebih cepat, tapi karena mereka bisa lebih manusiawi.
FGD di Hotel Amantis Demak ini menjadi pengingat: teknologi boleh maju, tapi integritas tidak boleh mundur.
Selamat bagi IJTI Korda Muria Raya yang telah sukses menyelenggarakan Muskorda ke-4 dan FGD ini. Semoga jurnalisme positif terus tumbuh di Bumi Muria.
Karena di tengah banjir informasi, yang paling dibutuhkan bukanlah kecepatan, tapi kejujuran.



