Jumat, 12 Juni 2026
29.1 C
Semarang

Ketua IJTI Jateng: Jurnalis Jangan Terjebak Pola Kesejahteraan Instan, Optimisme Senjata Utama

Teguh Hadi Prayitno: Industri Media Sedang Tidak Baik-Baik Saja, Mahasiswa Harus Perkaya Wawasan dari Sumber Manapun

Berita Terkait

DEMAK, PortalJateng.id – Suasana di Lantai 2 Hotel Amantis berubah menjadi ruang kelas kehormatan. Bukan untuk siswa sekolah, tapi untuk puluhan jurnalis, mahasiswa, dan pegiat media.

Ketua IJTI Pengda Jawa Tengah, Teguh Hadi Prayitno , tampil dengan gaya khasnya: tegas tetapi santai. Ia memaparkan materi tentang jurnalisme di era AI di hadapan peserta FGD IJTI Korda Muria Raya, Kamis (11/6/2026).

Tema yang diusung: “Jurnalisme Positif di Era AI, Menjaga Integritas Informasi di Tengah Disrupsi Digital”.

Teguh Hadi Prayitno: Jangan Terjebak pada Kesejahteraan Instan

Dalam paparannya, Teguh mengingatkan bahwa industri media saat ini sedang tidak baik-baik saja. Banyak jurnalis muda yang terjebak pada pola pikir ingin cepat enak, ingin cepat sejahtera, tanpa melalui proses perjuangan yang panjang.

“Mahasiswa jangan terjebak pada pola-pola kesejahteraan, enak, dan sebagainya. Karena semua butuh proses perjuangan,” tegas Teguh.

Ia menekankan bahwa optimisme diri adalah senjata paling ampuh di era disrupsi digital ini.

“Optimisme pada diri sendiri itu kuncinya. Jangan mudah menyerah. Jangan cepat putus asa hanya karena kondisi industri sedang sulit. Ikuti perkembangan teknologi, perkaya wawasan dengan membaca dan belajar dari sumber mana pun,” ujar Teguh.

Teguh juga mengingatkan bahwa jurnalis pemula harus terus belajar. Jangan hanya mengandalkan apa yang didapat di bangku kuliah. Dunia berubah cepat, dan jurnalis harus berubah lebih cepat.

“Perkaya wawasan. Baca buku. Ikuti seminar. Bergaul dengan orang-orang yang lebih berpengalaman. Jangan pernah berhenti belajar. Karena ilmu itu tidak akan pernah habis, tapi orang yang berhenti belajar akan tertinggal,” tambah Teguh.

Ahmad Hanafi Bertanya Soal Hoaks dan Kaidah Jurnalistik

Sesi tanya jawab berlangsung hangat. Banyak peserta mengacungkan tangan.

Salah satunya Ahmad Hanafi dari Lembaga Pers Mahasiswa UKM Broadcasting UNISFAT. Ia maju ke depan ketika dipanggil Teguh.

“Pak Teguh, bagaimana cara kita bersikap menghadapi hoaks yang semakin canggih berkat AI? Dan bagaimana cara membuat berita yang menarik dengan AI, tetapi tanpa mengesampingkan kaidah-kaidah jurnalistik?” tanya Ahmad Hanafi dengan nada kritis.

Teguh tersenyum. Ia mengapresiasi pertanyaan itu.

Teguh: Cek Fakta, Verifikasi, Jangan Asal Share

“Pertanyaan bagus. Kamu dapat uang untuk membeli paket data,” ujar Teguh sambil memberikan apresiasi kepada Ahmad Hanafi.

Ia kemudian menjawab dengan tegas.

“Hoaks yang dibuat dengan AI memang sulit dibedakan. Tapi jurnalis punya senjata: cek fakta dan verifikasi. Jangan asal share. Jangan asal percaya. Setiap informasi harus kita lacak sumbernya,” jelas Teguh.

Untuk membuat berita menarik dengan AI, Teguh menekankan bahwa AI hanya alat bantu.

“AI bisa membantu riset, transkrip, atau mencari data. Tapi menulis berita, memilih angle, dan memverifikasi fakta tetap harus dilakukan manusia. Kaidah jurnalistik tidak bisa digantikan oleh mesin. Apapun teknologinya, 5W+1H tetap wajib,” tegas Teguh.

Ia menutup dengan pesan optimisme.

“Jadi jangan takut AI. Pelajari, kuasai, gunakan untuk mempermudah kerja. Tapi jangan sampai kaidah jurnalistik terpinggirkan. Karena yang membedakan jurnalis dengan mesin adalah hati nurani dan tanggung jawab pada kebenaran. Dan yang terpenting, tetap optimis. Karena optimisme adalah senjata kita di masa sulit,” pungkas Teguh.

Industri media sedang tidak baik-baik saja. Banyak rekan jurnalis kehilangan pekerjaan. Banyak perusahaan media tutup. Tapi bukan berarti tidak ada harapan.

Teguh Hadi Prayitno mengingatkan, jangan terjebak pada pola pikir instan. Jurnalis muda harus siap berjuang, siap belajar, siap beradaptasi.

Optimisme adalah senjata. Bukan optimisme kosong, tapi optimisme yang dibarengi aksi nyata, membaca, belajar, mengikuti perkembangan teknologi, dan tidak pernah berhenti memperkaya wawasan.

Ahmad Hanafi dan puluhan mahasiswa lain yang hadir mendapat pelajaran berharga: bahwa menjadi jurnalis di era AI tidak mudah. Tapi dengan kerja keras, ketekunan, dan optimisme, mereka bisa bertahan dan bahkan bersinar.

Karena pada akhirnya, yang paling dibutuhkan publik bukanlah berita cepat, tapi berita benar. Dan itu hanya bisa dihasilkan oleh jurnalis yang punya integritas dan semangat belajar sepanjang hayat.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru