Menu ✖

Mode Gelap

Paylater dan Literasi Keuangan: Inklusi 80,51% tapi Literasi 66,46%, Ini Tantangannya

8 Jul 2026 · 18:36 WIB ·


					Inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51% di 2025, tapi literasi baru 66,46%. Perbesar

Inklusi keuangan Indonesia mencapai 80,51% di 2025, tapi literasi baru 66,46%.

JAKARTA, PortalJateng.id – Uang di dompet digital bukan lagi barang asing. Ponsel telah menjadi kantong kedua. Transaksi tanpa uang tunai semakin akrab.

Layanan pembiayaan digital atau yang lebih dikenal sebagai paylater ikut tumbuh. Masyarakat kini bisa membeli barang dengan cara dicicil, tanpa perlu mengantre di bank.

Tapi, seberapa paham kita dengan layanan yang kita gunakan?

Inklusi Naik, Literasi Masih Tertinggal

Berdasarkan Survei Nasional Literasi dan Inklusi Keuangan (SNLIK) 2025 yang dirilis OJK bersama BPS, indeks inklusi keuangan nasional mencapai 80,51%.

Artinya, lebih dari 8 dari 10 orang Indonesia telah mengakses layanan keuangan formal.

Namun, indeks literasi keuangan baru berada di 66,46% . Selisih 14,05% ini menjadi pekerjaan rumah yang besar.

Kepala OJK Provinsi Bali Parjiman mengingatkan bahwa akses yang meningkat perlu diimbangi pemahaman yang memadai.

“Meningkatnya akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital merupakan perkembangan yang positif. Namun, akses tersebut perlu diimbangi dengan pemahaman yang memadai agar masyarakat mampu mengenali manfaat, risiko, hak, dan kewajibannya sebagai konsumen,” ujar Parjiman.

Paylater: Kemudahan dan Tanggung Jawab

Direktur PT Commerce Finance, Anggie Setia Ariningsih, mengatakan bahwa layanan pembiayaan digital memiliki peran penting dalam memperluas akses keuangan.

“Seiring dengan berkembangnya kebutuhan finansial masyarakat dan ekonomi digital di Indonesia, layanan pembiayaan digital memiliki peran yang semakin penting dalam memperluas akses terhadap solusi keuangan yang mudah, aman, dan bertanggung jawab,” ujar Anggie.

Ia menekankan pentingnya transparansi dan edukasi.

“Di SPayLater, kami berkomitmen untuk terus menghadirkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan pengguna, sekaligus mengedepankan transparansi, edukasi, dan prinsip pembiayaan yang bertanggung jawab agar manfaat layanan keuangan digital dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh semakin banyak masyarakat,” tambahnya.

SPayLater sendiri adalah layanan dari PT Commerce Finance yang berizin dan diawasi oleh Otoritas Jasa Keuangan (OJK).

Yang Perlu Diperhatikan

Masyarakat perlu memperhatikan beberapa hal dalam memilih layanan pembiayaan digital:

  1. Pastikan berizin dan diawasi OJK
  2. Pahami transparansi informasi pembiayaan
  3. Jaga keamanan data pribadi
  4. Pastikan akses layanan pelanggan mudah

Direktur Eksekutif Asfintech Mercy Simorangkir menekankan pentingnya literasi sejak dini.

“Tujuan kami adalah memperkuat pemahaman mereka tentang pengelolaan keuangan pribadi, mengenalkan apa itu fintech, apa manfaat dan risikonya, serta kapan dan bagaimana layanan ini dapat dimanfaatkan secara tepat,” ujar Mercy.

Inovasi dan Pengakuan

SPayLater terus berinovasi. Layanan ini baru saja menerima penghargaan Best PayLater Service dalam kategori Financial Solution, Retail, and Education pada Selular Award 2026.

Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi atas upaya perusahaan dalam menghadirkan layanan pembiayaan digital yang mudah diakses, aman, dan relevan.

Kemudahan adalah anugerah. Tapi tanpa pemahaman, ia bisa menjadi jebakan.

Paylater memberi kita fleksibilitas. Kita bisa membeli sepatu, gadget, atau tiket liburan dengan cicilan ringan. Tapi ingat, setiap cicilan adalah janji yang harus ditepati.

Data SNLIK 2025 menunjukkan bahwa literasi keuangan masih tertinggal dari inklusi. Artinya, banyak orang yang menggunakan produk keuangan tanpa benar-benar memahaminya.

Inilah tantangan kita bersama: bukan hanya memudahkan akses, tapi juga mencerdaskan pengguna. Agar teknologi finansial benar-benar menjadi alat bantu, bukan jerat.

Selamat bagi SPayLater atas penghargaannya. Semoga inovasi terus hadir. Dan semoga kita semua menjadi pengguna yang bijak tidak hanya pandai menikmati kemudahan, tapi juga paham konsekuensi di baliknya.

Karena pada akhirnya, keuangan yang sehat adalah fondasi kehidupan yang tenang.

Artikel ini telah dibaca 0 kali

badge-check

Penulis

Bagikan ke WhatsApp Bagikan ke Facebook Bagikan ke Line Salin tautan artikel
Baca Lainnya

Petani Gagal Panen Terbantu Program Petani Gajian, Ini Harapan Mereka

22 Oktober 2026 - 06:39 WIB

Petani Gagal Panen Terbantu Program Petani Gajian, Ini Harapan Mereka

57 Perusahaan Vietnam Bakal Masuk Jateng, Ahmad Luthfi Bidik Peluang Kerja Baru

22 Oktober 2026 - 06:32 WIB

57 Perusahaan Vietnam Bakal Masuk Jateng, Ahmad Luthfi Bidik Peluang Kerja Baru

Warga Minta Pasar Murah Digelar Tiap Hari, Begini Respons Ahmad Luthfi

21 Oktober 2026 - 14:22 WIB

Warga Minta Pasar Murah Digelar Tiap Hari, Begini Respons Ahmad Luthfi

Ahmad Luthfi Minta KDMP Hidupkan Ekonomi Desa, Bukan Sekadar Bangun Gerai

20 Oktober 2026 - 18:46 WIB

Ahmad Luthfi Minta KDMP Hidupkan Ekonomi Desa, Bukan Sekadar Bangun Gerai

OJK Denda 2,1 Triliun Pihak Terkait Saham DSSA, BREN dan CUAN

17 Oktober 2026 - 14:52 WIB

Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menjatuhkan sanksi administratif berupa denda total Rp 2,1 triliun kepada pihak-pihak yang terlibat pelanggaran di pasar modal terkait saham PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN), dan PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN).

PGN Lihat Peluang Gas Bumi untuk Industri Olahan dan UMKM Trenggalek

16 Oktober 2026 - 14:54 WIB

PGN Lihat Peluang Gas Bumi untuk Industri Olahan dan UMKM Trenggalek
Trending di Ekonomi

Tinggalkan Komentar