Rabu, 29 Juli 2026
29.6 C
Semarang

Mazda Resmikan Pabrik Perakitan Pertama di Indonesia, Investasi Tembus Rp400 Miliar

Berita Terkait

BOGOR – PT Eurokars Motor Indonesia (EMI), Agen Pemegang Merek (APM) Mazda di Indonesia, resmi mengoperasikan pabrik perakitan kendaraan pertamanya di Indonesia yang berlokasi di Citeureup, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, Senin (28/7/2026).

Pabrik yang diberi nama Mazda Indonesia Plant itu dibangun dengan investasi lebih dari Rp400 miliar. Fasilitas ini menjadi tonggak baru bagi Mazda setelah hampir satu dekade hadir di Indonesia di bawah pengelolaan Eurokars Motor Indonesia sejak 2017.

Peresmian pabrik dihadiri jajaran Kementerian Perindustrian RI, perwakilan Mazda Motor Corporation Jepang, serta manajemen Eurokars Group. Kehadiran fasilitas tersebut sekaligus menandai dimulainya produksi lokal Mazda di Indonesia dengan model pertama, Mazda CX-30.

Mazda Indonesia Plant berdiri di atas lahan hampir 65.000 meter persegi dan dirancang mengikuti standar manufaktur global Mazda. Pada tahap awal, pabrik memiliki kapasitas produksi lebih dari 10.000 unit per tahun melalui operasional dua shift, yang akan ditingkatkan seiring pertumbuhan pasar.

Presiden Direktur PT Eurokars Produksi Pratama sekaligus Chief Operating Officer PT Eurokars Motor Indonesia, Ricky Thio, mengatakan peresmian fasilitas tersebut bukan sekadar menghadirkan pabrik perakitan pertama Mazda di Indonesia, tetapi menjadi fondasi pengembangan bisnis perusahaan dalam jangka panjang.

“Hari ini merupakan tonggak penting dalam perjalanan Mazda di Indonesia. Peresmian Mazda Indonesia Plant bukan sekadar menghadirkan fasilitas perakitan pertama Mazda di Indonesia, tetapi juga menjadi fondasi bagi masa depan Mazda di Indonesia,” ujar Ricky.

Menurut dia, investasi tersebut juga menjadi bukti komitmen Mazda untuk menghadirkan standar manufaktur global sekaligus mendukung perkembangan industri otomotif nasional.

“Ke depan, Mazda Indonesia Plant akan menjadi fondasi bagi pengembangan manufaktur Mazda di Indonesia, mulai dari pengembangan model-model baru, peningkatan kapasitas produksi secara bertahap, hingga penguatan kolaborasi dengan industri pendukung nasional,” katanya.

Berbeda dengan fasilitas perakitan yang menggunakan lini produksi bersama, Mazda Indonesia Plant dibangun sebagai fasilitas khusus untuk kendaraan Mazda. Seluruh proses produksi, peralatan, hingga metode kerja dirancang sesuai standar global perusahaan.

Setiap kendaraan yang dirakit melalui serangkaian proses mulai dari penerimaan komponen Completely Knocked Down (CKD), perakitan, hingga pengujian kualitas. Seluruh aktivitas produksi dipantau secara digital menggunakan Manufacturing Execution System sehingga setiap kendaraan memiliki rekam jejak produksi yang dapat ditelusuri.

Sebelum dikirim ke konsumen, setiap unit juga harus melewati berbagai pengujian, seperti wheel alignment, dynamic test di lintasan khusus, water leak test, under body inspection, final inspection, hingga product audit untuk memastikan kualitas sesuai standar Mazda.

Senior Executive Officer ASEAN Business Office Mazda Motor Corporation, Toru Nakajima, mengatakan perusahaan mendukung penuh pengembangan fasilitas tersebut melalui transfer teknologi, sistem produksi, dan peningkatan kompetensi sumber daya manusia Indonesia.

“Kami percaya bahwa kualitas dibangun oleh manusia, disempurnakan melalui proses yang disiplin, dan dipertahankan melalui perbaikan yang berkelanjutan. Karena itu, setiap kendaraan yang dirakit di fasilitas ini harus menghadirkan kualitas, craftsmanship, performa, keandalan, dan pengalaman berkendara yang diharapkan pelanggan Mazda di Indonesia,” ujarnya.

Mazda juga menegaskan prinsip Quality Before Volume, yakni memastikan setiap kendaraan memenuhi standar kualitas global sebelum kapasitas produksi ditingkatkan. Pengawasan mutu dilakukan pada seluruh tahapan produksi melalui audit internal maupun evaluasi berkala oleh Mazda Motor Corporation.

Ke depan, Mazda Indonesia Plant dipersiapkan untuk merakit model-model Mazda lainnya, meningkatkan kapasitas produksi, memperbesar penggunaan komponen dalam negeri, serta membuka peluang ekspor sesuai perkembangan bisnis perusahaan.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru