UNGARAN TIMUR – PortalJateng.id – Di sebuah kampung kecil bernama Sitalang, kemerdekaan tidak dirayakan dengan gemerlap panggung atau dentuman musik. Warga RT06 RW08, Kelurahan Susukan, Kecamatan Ungaran Timur, Kabupaten Semarang, memilih jalan berbeda, dengan panggung dari meja pingpong bekas, doa yang dipanjatkan dalam hening, dan kebersamaan yang tidak dipaksakan.
Minggu malam, 16 Agustus 2026, sekitar pukul 20.00 WIB, lapangan voli yang biasa digunakan untuk berolahraga berubah menjadi ruang kontemplasi. Sekitar 150 warga, dari anak-anak, pemuda, ibu-ibu, hingga sesepuh kampung, ada yang duduk di kursi plastik hingga lesehan di atas tikar sederhana. Mereka berkumpul bukan untuk berpesta, tetapi untuk merenung.
“Bukan berarti kami tidak suka hiburan. Tapi tahun ini, kami ingin mencoba memaknai kemerdekaan dengan cara yang berbeda. Lebih ke dalam. Lebih ke hati,” jelas Ajipasa Lukadinata, Ketua Panitia HUT RI ke-81 RT06 RW08, yang akrab disapa Pak Ajik, kepada PortalJateng.id.
Panggung Meja Pingpong Bekas: Simbol Kesederhanaan yang Bermartabat

Panggung yang digunakan malam itu bukanlah panggung megah dengan tata cahaya mewah. Ia hanyalah meja pingpong bekas yang sudah tidak terpakai, ditutup karpet merah sederhana, dan dihiasi pot-pot bunga pinjaman dari warga. Namun dari panggung sederhana itulah, lahir suasana yang justru semakin sulit ditemukan di banyak tempat, keheningan yang penuh makna.
“Inilah potret kemerdekaan yang tidak butuh sorotan. Kemerdekaan yang lahir dari hati yang tenang, bukan dari panggung yang ramai,” tambahnya dengan nada mantap.
Rangkaian acara dibuka dengan lantunan lagu Indonesia Raya, Hari Merdeka dan Mengheningkan Cipta yang dipimpin langsung oleh Didit Yulianto, Ketua RT06.
“Saya meminta warga berdiri, menundukkan kepala, dan mendoakan para pahlawan yang telah gugur,” ungkap Didit dengan suara bergetar.
“Malam ini, kita tidak butuh keramaian. Kita butuh keheningan untuk mengingat.”
Doa yang Dipanjatkan untuk Semua

Acara berlanjut dengan pembacaan Teks Proklamasi oleh Budi, seorang prajurit TNI yang bertugas di Makodam IV Diponegoro. Ia maju ke panggung dengan postur tegap, membacakan teks yang mengubah sejarah bangsa itu dengan suara lantang. Sementara itu, Herlambang Deo Maulana, Wakil Ketua Panitia yang juga pemain inti tim voli juara RT06, membacakan Teks Pancasila dengan penuh penghayatan.
Puncak malam tirakatan adalah doa bersama yang dipimpin oleh Wahyu Andre Widodo, salah seorang warga yang dikenal sebagai pribadi yang dekat dengan nilai-nilai spiritual. Di bawah langit Sitalang yang cerah, sekitar 150 pasang tangan menadah, memanjatkan syukur dan harapan.
“Kami tidak hanya mendoakan para pahlawan, tetapi juga lingkungan, warga, dan keberlanjutan nilai-nilai kebaikan di kampung kecil ini,” terang Haji Andre Widodo kepada PortalJateng.id. “Doa yang dipanjatkan berisi makna kemerdekaan. Harapannya diaminkan dan dilanjutkan di lingkungan RT06 tanpa melihat jabatan, materi, dan segalanya. Karena semua sama di hadapan Tuhan,” pungkasnya dengan penuh keyakinan.
Doa itu, menurut Haji Andre, bukan sekadar ritual. Ia adalah pengingat bahwa kemerdekaan yang sejati tidak hanya tentang bendera yang berkibar di tiang tinggi, tetapi juga tentang hati yang merdeka dari keinginan untuk selalu dipuji, selalu terlihat, dan selalu paling benar.
Renungan yang Menyejukkan Hati

Suasana semakin khusyuk saat Wahyu Elasworo membacakan naskah renungan kemerdekaan. Ia mengaku sempat gugup. Bolak-balik membetulkan kerah bajunya, seperti merasa gerah. Namun doa kecil mengantarnya naik ke panggung yang amat sederhana itu.
“Di awal sempat gugup. Tapi setelah membaca doa, semuanya mengalir,” kenangnya dengan senyum tipis.
Renungan yang dibacakannya mengajak warga untuk melihat kemerdekaan dari sudut yang lebih dalam, bahwa kemerdekaan bukanlah tentang kebebasan dari penjajahan fisik semata, tetapi juga tentang membebaskan diri dari ego, keserakahan, dan sikap saling acuh.
Hadiah Lomba dan Tepuk Tangan untuk Anak-Anak
Meskipun malam itu tidak ada hiburan, suasana tetap hangat. Puncak keceriaan terjadi saat pembagian hadiah lomba yang telah digelar pada 26 Juli 2026 lalu. Dua puluh tujuh anak yang mengikuti lomba dipanggil ke panggung satu per satu. Nama-nama seperti Nazwa, Kenzie, Hafiz, Aish, Humaira, Taskia, Hero, dan Ai disebutkan dengan penuh kebanggaan.
Yang membuat momen itu semakin istimewa adalah kehadiran Mustofa, seorang warga yang dengan tulus menyumbangkan hadiah tambahan untuk para pemenang dan bahkan untuk anak-anak yang tidak mendapat juara. Tidak ada yang pulang dengan tangan kosong.
Pelantikan Takmir Mushola: Menjaga Warisan Rohani
Di sela-sela acara, Abdusalam Tri Murdopo, Ketua RW08, menyampaikan sambutan sekaligus memimpin pelantikan Takmir Mushola AN-NUR RT06 Sitalang. Ia berharap pengurus baru dapat menjaga dan memakmurkan mushola sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kebersamaan warga.
“Kami berharap takmir baru dapat menjadi teladan dan penggerak nilai-nilai kebaikan di lingkungan kita,” harap Abdusalam dalam sambutannya.
Potong Tumpeng: Simbol Perjuangan Diteruskan

Prosesi potong tumpeng nasi kuning menjadi salah satu momen paling simbolis. Tumpeng kecil dipotong oleh Haji Bambang, sesepuh kampung, dan diserahkan secara simbolis kepada Didit Yulianto, Ketua RT06. Prosesi ini dimaknai sebagai perjuangan para pendahulu yang dilanjutkan oleh generasi berikutnya.
Makan Bersama: Hidangan Nasi Soto dan Kerupuk Gendar
Setelah rangkaian acara inti selesai, suasana berubah dari khusyuk menjadi hangat dan akrab. Warga mulai bergerak ke area belakang lapangan, tempat panitia telah menyiapkan hidangan makan bersama. Nasi soto dengan kuah segar, dilengkapi kecap manis, irisan jeruk nipis, sambal pedas, tempe goreng, perkedel kentang, dan kerupuk gendar buatan Ibu Naning, salah satu warga RT06, menjadi menu utama yang dinikmati bersama.
“Sotonya segar. Ini bukan sekadar makanan, ini adalah cinta yang dimasak untuk tetangga,” puji Eva salah seorang warga sambil tersenyum.
Eva menambahkan, “Makan bersama seperti ini yang membuat kampung kita terasa hidup. Bukan hanya di acara-acara besar, tapi di setiap momen kebersamaan. Terima kasih Ibu Naning, sudah bersusah payah memasak untuk kita semua,” tuturnya dengan hangat.
Sementara itu, Haji Andre Widodo tersenyum sambil menikmati semangkuk soto. “Rasanya beda kalau dimasak oleh tetangga sendiri. Ada rasa kekeluargaan yang tidak bisa dibeli di restoran mana pun,” ungkapnya sambil menyantap kerupuk gendar dengan lahap.
Kehadiran hidangan sederhana ini menjadi pengingat bahwa kemerdekaan juga dirayakan dalam hal-hal kecil, berbagi makanan, saling menyuapi, dan tertawa bersama di atas tikar. Ibu-ibu yang sibuk menyiapkan porsi, bapak-bapak yang menyantap dengan lahap, dan anak-anak yang berebut kerupuk gendar, semua menjadi bagian dari potret kebersamaan yang utuh.
Penutup: Kemerdekaan yang Tidak Butuh Sorotan
Malam itu, warga Sitalang memilih untuk merayakan kemerdekaan dengan cara yang sunyi. Mereka tidak meneriakkan kemerdekaan dengan panggung. Mereka merayakannya dengan diam, dengan doa, dan dengan kebersamaan yang tidak dipaksakan. Mereka menikmati nasi soto buatan Ibu Naning, saling berbagi cerita, dan tertawa bersama di bawah langit malam yang cerah.
“Kemerdekaan yang sejati bukan hanya tentang bendera yang berkibar di tiang tinggi, tetapi juga tentang hati yang merdeka dari keinginan untuk selalu dipuji, selalu terlihat, dan selalu paling benar,” pungkas Aji, Ketua Panitia, mengakhiri perbincangan dengan PortalJateng.id.
Di tengah dunia yang semakin bising, warga Sitalang justru memilih pulang ke hati. Mereka mengingatkan kita bahwa kemerdekaan tidak harus dirayakan dengan gegap gempita. Terkadang, ia hadir dalam bentuk yang paling sederhana, dalam hening doa, dalam tawa anak-anak yang menerima hadiah, dalam semangkuk nasi soto yang disantap bersama tetangga, dan dalam kerupuk gendar yang renyah di mulut.
Di kampung kecil bernama Sitalang, hati-hati yang merdeka sedang dirawat. Bukan dengan suara keras. Tapi dengan keheningan yang bermakna dan dengan hidangan yang dimasak dengan cinta.



