Senin, 25 Mei 2026
29 C
Semarang

Polwan Polrestabes Semarang Masak 600 Takjil dengan Dapur Lapangan, Bagikan ke Pengguna Jalan

polwan-polrestabes-semarang-masak-600-takjil-dapur-lapangan

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Aroma nasi goreng tercium hangat di Jalan Pahlawan, tepat di depan Polda Jawa Tengah, Kamis (19/3/2026) sore. Bukan dari warung atau gerobak, tapi dari mobil dapur lapangan milik Polrestabes Semarang. Di sana, puluhan Polwan sibuk mengaduk wajan, menyiapkan hidangan untuk ratusan pengguna jalan yang tengah dalam perjalanan menjelang waktu berbuka puasa.

Sebanyak 30 personel Polwan turun langsung memasak di lokasi, dipimpin oleh AKBP Teguh Setyastuti selaku Kabaglog, didampingi Kabagren AKBP Wiwiek Uniati. Mereka tak sendiri. Wakapolrestabes Semarang Kombes Pol. Wiwit Ari Wibisono turut hadir bersama para pejabat utama, menunjukkan bahwa kegiatan sosial ini mendapat dukungan penuh dari jajaran pimpinan.

Proses memasak berlangsung bertahap hingga menghasilkan 600 porsi nasi goreng. Setiap paket dilengkapi air mineral, dikemas rapi dalam tas plastik, siap dibagikan kepada siapa pun yang melintas.

600 Paket Habis dalam Satu Jam

Begitu proses pembagian dimulai, para pengendara, roda dua maupun roda empat, menyambut antusias. Personel kepolisian turun langsung ke jalan, menyapa, dan membagikan takjil dengan senyum. Suasana hangat dan penuh keakraban terlihat jelas. Dalam waktu sekitar satu jam, seluruh 600 paket takjil telah habis dibagikan.

Kasi Humas Polrestabes Semarang, Kompol Agung Setyo Budi, menjelaskan bahwa kegiatan ini adalah wujud nyata kepedulian Polri kepada masyarakat, terutama bagi mereka yang masih di perjalanan saat waktu berbuka tiba.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin berbagi kebahagiaan serta menghadirkan kehadiran Polri yang lebih humanis dan dekat dengan masyarakat. Diharapkan, apa yang kami lakukan ini dapat memberikan manfaat sekaligus mempererat hubungan antara kepolisian dan masyarakat,” ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan dapur lapangan ini juga menjadi sarana untuk menunjukkan kesiapan personel dalam berbagai situasi, tidak hanya dalam penanganan keadaan darurat, tetapi juga dalam kegiatan sosial kemasyarakatan.

Dapur Lapangan: Antara Kesiapsiagaan dan Kepedulian

Mobil dapur lapangan yang digunakan biasanya identik dengan situasi darurat, bencana alam, kerusuhan, atau operasi kemanusiaan. Tapi sore itu, fungsinya berbeda. Ia menjadi simbol kehangatan di bulan puasa.

“Ini menarik, biasanya lihat dapur lapangan pas bencana, sekarang malah bagi-bagi takjil,” celetuk Agil (34), seorang pengendara motor sambil menerima paket nasi goreng.

Kehadiran para pejabat utama di lokasi, termasuk Wakapolrestabes, menunjukkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar seremonial, tapi bentuk komitmen institusi untuk hadir di tengah masyarakat dengan cara yang lebih manusiawi. Kombes Pol. Wiwit Ari Wibisono yang diketahui menjabat sebagai Wakapolrestabes terlihat berbaur dengan warga, sesekali menyapa dan bersalaman

Catatan Redaksi

Bulan puasa memang selalu menghadirkan cerita-cerita hangat dari berbagai institusi. Tapi yang dilakukan Polrestabes Semarang ini punya nilai lebih, mereka tak sekadar berbagi, tapi juga menunjukkan kesiapan teknis personel. Memasak 600 porsi di dapur lapangan bukan pekerjaan mudah. Butuh koordinasi, kecepatan, dan tentu saja, ketepatan rasa.

“Ini juga latihan sih sebenarnya,” ujar salah satu Polwan sambil mengaduk nasi di wajan besar. “Kalau ada bencana, kami harus siap memasak ribuan porsi. Sekalian belajar, sekalian berbagi.”

Di tengah hiruk-pikuk arus mudik yang mulai memuncak, dengan one way diperpanjang hingga Salatiga dan ribuan kendaraan memadati GT Kalikangkung, kegiatan kecil di Jalan Pahlawan ini jadi pengingat bahwa kepolisian tak hanya bekerja di lapangan dengan tilang dan pengaturan lalu lintas. Mereka juga hadir dengan sisi lain, sisi yang lebih hangat, lebih dekat, dan lebih manusiawi.

Enam ratus paket mungkin tak banyak. Tapi senyum pengendara yang menerima, secuil rasa syukur saat berbuka, dan hangatnya interaksi antara polisi dan warga, itu adalah sesuatu yang tak ternilai.

Bagi para personel yang memasak dan membagikan takjil, kepuasan tak datang dari pujian. Datang dari melihat orang lain bisa berbuka dengan lahap meski masih di jalan. Dari melihat anak kecil yang tersenyum saat orang tuanya menerima bingkisan. Dari mendengar “terima kasih, Pak, Bu” yang tulus.

Di bulan yang suci ini, kebaikan memang tak perlu besar. Cukup tulus, dan ia akan sampai.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru