Minggu, 17 Mei 2026
31.7 C
Semarang

Misa Kenaikan Yesus di Bongsari, 40 Umat Berkebutuhan Khusus Dilibatkan dalam Liturgi

Romo Synesius Suyitna, SJ: "Tidak Meninggalkan, Justru Hadir dengan Cara Baru"

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Kamis (14/5/2026) pagi itu, langit Semarang tidak terlihat istimewa. Namun di Gereja Paroki St. Theresia Bongsari, ada yang naik, namun sekaligus merendah.

Sebanyak 900 umat, termasuk 40 Umat Berkebutuhan Khusus (UBK) , berkumpul dalam Misa Kenaikan Yesus Kristus.

Ini bukan sekadar ritus. Ini adalah pernyataan tegas, surga tidak eksklusif bagi yang sempurna jasmani.

Surga bisa dirasakan di sela-sela kursi roda. Di balik lantunan kidung yang keluar dengan tertatih. Dan di tangan yang saling menggenggam walau tak kuasa bertepuk.

Kenaikan Yesus ke surga sering dimaknai sebagai “kepergian”. Namun bagi Pastor Kepala Gereja St. Theresia Bongsari, Romo Synesius Suyitna, SJ , ini adalah momen pembalikan logika duniawi.

“Tidak meninggalkan, justru hadir dengan cara baru,” ujar Romo Synesius pada PortalJateng.id.

Romo Synesius Suyitna.SJ saat mengikuti pertemuan sosialisasi

Dalam tradisi Gereja Katolik, Allah selalu hadir menyertai umat-Nya.

Lalu bagaimana merasakan “kehadiran nyata” Tuhan dalam keseharian yang kadang terasa hampa?

Menurut Romo Synesius, jawabannya sederhana, saat merenungkan Kitab Suci, saat berdoa, saat menerima sakramen, terutama Ekaristi, atau saat mengalami kebaikan dari sesama.

Lewat hal-hal kecil itu yang sering diabaikan, Allah hadir. Bukan sebagai konsep abstrak. Tapi sebagai kekuatan hidup yang bisa diraba, walau tak bisa dilihat.

Di tengah masyarakat yang kerap abai dengan kepastian hukum, iman sering terombang-ambing. Romo Synesius tidak menampik ini.

“Di tengah realitas yang berat, menjadi korban situasi dan ketidakpedulian sesama (juga para penanggungjawab) memang tidak mudah,” akunya.

Maka, bekal yang ditawarkan bukanlah mantra sakti. Tapi dua hal kuno yang selalu relevan, komunitas dan kepedulian.

“Jangan sibuk sendiri sampai terasing dan merasa berjuang sendiri. Allah hadir berkarya lewat orang-orang di sekitar kita,” tegasnya.

Ia mengingatkan ungkapan klasik St. Benediktus, “Ora et labora” (berdoa dan bekerja).

Doa tanpa kerja adalah lamunan. Kerja tanpa doa adalah keangkuhan.

Acara pertemuan sosialisasi komunitas UBK St. Lidwina.

Kehadiran Tuhan di masa depan yang tak pasti, pada akhirnya, juga diwujudkan lewat tangan-tangan kita yang saling menopang. Lewat tetangga yang tidak pelit sapaan. Lewat komunitas yang tidak alergi dengan kerumitan.

Momen paling membekas dalam misa itu bukanlah khotbah yang menggema di pengeras suara. Melainkan ketika 40 umat berkebutuhan khusus dilibatkan dalam tugas liturgi.

Ini adalah bentuk paling sederhana dari Amanat Agung, saling mengasihi tanpa syarat.

“Menerima dan mengajak UBK dalam tugas liturgi merupakan bentuk sederhana dari kesaksian mewujudkan amanat Yesus,” ujar Romo Synesius.

Pesan lain dari perayaan ini, tegasnya, adalah ajakan untuk teguh dalam iman. Namun iman yang hidup tidak cukup hanya di dalam hati. Ia harus menjelma menjadi perbuatan nyata.

“Siap dan rela terlibat mewujudkan kebaikan, keadilan, dan kerukunan yang menjadi kebutuhan setiap orang,” papar Romo Synesius.

Romo Synesius menyinggung Ajaran Sosial Gereja yang secara konsisten memihak pada yang terpinggirkan, tertindas, dan diperlakukan tidak adil.

“Di situ, masing-masing dengan situasi dan caranya, umat Katolik bisa mempraktikkan apa artinya menjadi saksi Kristus,” tambahnya.

Bukan dengan suara lantang. Tapi dengan kehadiran yang setia di tempat-tempat yang paling sepi.

Semua agama sejatinya menuju satu tujuan yang sama.

Menyembuhkan kerinduan manusia kepada Tuhannya. Dan menyadarkan bahwa beragama adalah melayani, bukan dilayani.

Kenaikan Yesus di sini bisa diterjemahkan secara universal, setiap kebaikan yang kita lakukan adalah “kenaikan” kecil menuju Yang Ilahi.

Setiap pelukan pada yang terluka adalah doa yang tak perlu diucapkan. Setiap ketegasan membela yang terpinggirkan adalah injil yang tidak perlu dijilid.

Kristen punya ora et labora. Islam punya hablumminallah wa hablumminannas. Bedanya istilah, sama tujuannya, yaitu menyembah Tuhan dengan cara berlaku adil pada sesama.

Romo Synesius menutup dengan meneguhkan janji yang diyakini umat Kristen, “Aku akan menyertai kamu sampai akhir zaman.”

Janji ini, dalam bahasa hati, berlaku untuk semua manusia yang berbuat baik.

“Jika kita punya komunitas, tetangga, orang-orang selingkungan yang saling peduli, kita akan punya kekuatan. Punya harapan,” pungkas Romo Synesius.

Maka, meski misa sudah berlalu tanggal 14 Mei 2026, pesannya tidak basi.

Karena kepastian di dunia memang langka. Tapi kepedulian adalah kepastian kecil yang bisa kita buat setiap hari.

Dan Tuhan, dalam bentuk apapun Dia disembah, pasti tersenyum di sana.

Selamat merenung. Karena kita semua yang duduk di bangku gereja, yang bersujud di masjid, atau yang duduk sunyi di kamar sekalipun, pada dasarnya sedang dalam satu perjalanan yang sama, pulang.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru