Senin, 27 April 2026
30 C
Semarang

450 Paket Sembako Murah untuk Warga: Paroki Bongsari Wujudkan Toleransi Ramadan

bakti-sosial-sembako-paroki-bongsari-ramadan-2026

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Sabtu pagi (7/3/2026), halaman Aula Grha Argya Gereja St. Theresia Bongsari tak hanya dipenuhi umat Kristiani. Puluhan warga Muslim dari sekitar Bojongsalaman tampak mengantre dengan kupon di tangan. Mereka datang untuk menebus paket sembako murah yang disediakan paroki dalam rangka menyambut Idul Fitri 1447 H.

Sebanyak 450 paket sembako disiapkan dengan mekanisme tebus murah, dari harga pasar Rp170 ribu per paket, warga cukup membayar Rp70 ribu. Selisihnya menjadi subsidi dari paroki sebagai wujud kepedulian di tengah kenaikan harga bahan pokok.

“Ini bentuk nyata toleransi dan kasih. Bulan puasa kali ini bertepatan dengan masa puasa umat Kristiani, jadi kami ingin berbagi kebahagiaan dengan saudara-saudara yang akan merayakan Idul Fitri,” ujar Cicil Indra, Kabid Pelayanan Kemasyarakatan Paroki St. Theresia Bongsari, di sela kegiatan.

Gereja Berjuang untuk yang Lemah dan Kecil

Cicil menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan program rutin tahunan setiap Ramadan. Namun tahun ini memiliki makna khusus karena bertepatan dengan masa puasa umat Kristiani menjelang Paskah.

“Tema aksi puasa kami adalah Gereja berjuang menghadirkan masyarakat bahagia dan sejahtera. Ini sesuai arah dasar Keuskupan Agung Semarang yang berfokus pada perwujudan gereja yang inspiratif dan menyejahterakan, khususnya bagi yang lemah, kecil, miskin, tersingkir, dan difabel,” terangnya.

Ia menambahkan, kenaikan harga bahan pokok menjadi perhatian serius. “Harapannya, aksi tebus murah ini bisa sedikit meringankan beban saudara-saudara kita yang akan merayakan hari raya.”

Antusiasme Warga Melampaui Kuota

Kerja sama dengan RT/RW setempat dilakukan untuk mendistribusikan kupon agar tepat sasaran. Namun antusiasme warga ternyata melampaui perkiraan.

“Karena keterbatasan kuota, ada beberapa warga yang tidak kebagian kupon. Apalagi jangkauan wilayahnya cukup luas di luar lingkup gereja. Tapi kami tetap berusaha melayani sebisa mungkin,” kata Cicil.

Pantauan di lokasi, warga yang membawa kupon tampak tertib mengantre. Sebagian lain datang tanpa kupon, namun tetap dilayani petugas dengan tambahan paket seadanya.

Salah satu penerima manfaat, Ibu Susi (45) , warga Bojongsalaman, mengaku bersyukur bisa mendapatkan paket sembako murah.

“Saya dapat info dari Pak RT, kebetulan dapat kupon. Isinya beras, minyak, gula, sirup, dan kebutuhan pokok lain. Kalau beli di pasar bisa lebih mahal, ini lumayan banget buat persiapan Lebaran,” tuturnya sumringah.

Ia mengapresiasi inisiatif gereja yang peduli pada warga sekitar meski berbeda keyakinan. “Saya senang, tetangga-tetangga pada datang. Ini jadi contoh kalau beda agama bukan halangan untuk saling bantu,” imbuhnya.

Romo Synesius: Baik Berkupon atau Tidak, Semua Kita Layani

Kepala Paroki Gereja St. Theresia Bongsari, Romo Synesius Suyitna SJ, turun langsung memantau jalannya acara. Ia menyapa warga satu per satu, sesekali menerima jabat tangan hangat dari para penerima manfaat.

“Niat kita adalah berbagi, jadi baik yang berkupon atau tidak, semua kita layani dengan sepenuh hati. Tadi banyak juga warga dari luar daerah yang datang tanpa kupon, otomatis kita tetap layani. Ini membuktikan bahwa antusiasme warga sangat baik,” ujarnya pada PortalJateng.id.

Romo Synesius menegaskan bahwa kegiatan sosial seperti ini menjadi wujud nyata kehadiran gereja di tengah masyarakat.

“Gereja tidak hanya untuk umat Katolik, tapi untuk semua. Kami ingin membangun hubungan antar umat beragama yang lebih mesra, selaras dengan nilai-nilai Pancasila. Semoga ke depan kolaborasi seperti ini terus terjalin,” harapnya.

Paroki St. Theresia Bongsari sendiri telah lama dikenal aktif dalam berbagai kegiatan sosial kemasyarakatan, termasuk bakti sosial rutin setiap Ramadan. Tahun ini, semangat yang diusung sejalan dengan fokus pastoral Keuskupan Agung Semarang yang mengedepankan kehadiran gereja yang inspiratif dan menyejahterakan.

Catatan Redaksi

Di balik 450 paket sembako yang ditebus murah, ada pesan besar tentang gotong royong lintas iman yang tak pernah pudar. Ketika harga pangan meroket, gereja membuka pintu, warga sekitar datang dengan kupon, dan semua dilayani tanpa memandang agama.

Romo Synesius dan tim tak sekadar membagikan sembako, tapi juga menebar pesan bahwa berbagi tidak perlu menunggu sama, cukup dengan saling menghormati.

Antusiasme warga yang melebihi kuota jadi catatan penting, bahwa kebutuhan warga sekitar terhadap akses pangan murah masih tinggi. Harapannya, kolaborasi serupa bisa terus diperluas, bukan hanya oleh Paroki Bongsari, tapi juga oleh institusi lain. Karena pada akhirnya, yang membuat Ramadan dan Paskah bermakna bukan sekadar ritual, tapi kehadiran nyata untuk sesama.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru