Selasa, 16 Juni 2026
29.3 C
Semarang

Malam 1 Suro 2026: Saatnya Mengoreksi Diri, Bukan Menyalahkan Orang Lain

Catatan Redaksi: Revolusi Diam dari Hati, Perubahan Dimulai dari Bawah

Berita Terkait

SEMARANG, PortalJateng.id – Malam ini, langit tidak berbicara. Bulan diam saja. Bintang -bintang enggan bersuara.

Hanya detak jam yang terus berdetak. Mengingatkan bahwa angka tahun akan berganti.

Namun kita tahu pergantian angka tidak pernah cukup untuk mengganti hati.

Antara Ritual dan Kesadaran

Malam 1 Suro, di mana budaya dan keyakinan kerap berjumpa dalam riuh ritual.

Ada yang menggelar sesaji. Ada yang bertapa di sendang. Ada pula yang hanya diam dalam gelap merenungi sisa usia.

Tapi yang lebih banyak lagi mungkin hanya menjalani malam ini sebagai kebiasaan. Tanpa pernah bertanya, Apa sebenarnya yang berganti?

Gemah Ripah yang Mulai Luntur

Kita hidup di negeri yang gemah ripah loh jinawi. Tanahnya subur. Lautnya kaya. Udaranya dulu sejuk.

Tapi entah sejak kapan, kemakmuran hanya menjadi cerita dari mulut ke mulut.

Kesenjangan menganga. Kepercayaan merenggang.

Mereka yang seharusnya menjadi teladan justru sibuk menghitung keuntungan pribadi.

Setengah windu sekali, kita diramaikan oleh pesta demokrasi. Janji -janji mulia diteriakkan dari panggung ke panggung.

Visi dan misi setebal buku diumbar dengan senyum paling manis. Biayanya melambung tinggi luar biasa tinggi.

Ratusan triliun menguap. Untuk apa? Untuk sebuah harapan yang setelah lima tahun, seringkali hanya tinggal harapan.

Bukan maksud kami pesimis. Tapi coba lihat, janji kemerdekaan hakiki bagi rakyat kecil, janji harga pupuk murah, janji sekolah gratis, janji obat murah, janji lapangan kerja.

Lalu setelah lima tahun? Realisasinya seringkali hanya setengah hati. Atau bahkan, tidak pernah sampai.

Dan kita? Kita lelah. Tapi tidak berdaya. Sebab kita hanya rakyat.

Malam Suro: Bukan Pesta, Tapi Cermin

Maka pada malam 1 Suro ini, kami tidak ingin ikut-ikutan merayakan tahun baru dengan pesta kembang api. Atau ziarah kubur massal yang hanya jadi tradisi tanpa ruh.

Kami justru ingin mengajak diri kami sendiri dan sesiapa yang sudi membaca untuk bercermin.

Bukan ke cermin kaca. Tapi ke cermin yang lebih jujur, cermin nurani.

Lihatlah. Jika pemimpin yang kita pilih lima tahun sekali masih saja sibuk mengeruk kekayaan negeri ini demi keluarganya, demi kroninya, demi kelompoknya jangan marah dulu.

Tanyakan pada diri sendiri, apakah aku sudah memilih dengan hati nurani, atau hanya karena uang, karena tekanan, karena gengsi, atau karena teriak-teriak di media sosial?

Jika pejabat yang duduk di kursi empuk itu tega mencuri uang rakyat sementara anak-anak di pelosok masih kelaparan jangan menyalahkan mereka sepenuhnya.

Coba tanya diri, apakah aku sudah melaporkan kecurangan ketika melihatnya? Atau aku memilih diam karena takut?

Menyelam ke Dalam Relung Hati

Suro mengajarkan kita tentang air yang tenang.

Air yang tenang bukan berarti mati. Ia justru menyimpan kedalaman yang tidak terlihat dari permukaan. Di dalamnya ada kehidupan, ada misteri, ada kebersihan yang sesungguhnya.

Demikian pula dengan hati. Jika kita terus teriak di permukaan, kita tidak akan pernah bisa menyelami apa yang sebenarnya rusak di dalam.

Malam 1 Suro adalah waktu yang tepat untuk menyelam. Bukan ke sendang atau sungai. Tapi menyelam ke dalam relung hati yang paling dalam.

  • Apa yang sudah aku sumbangkan untuk negeri ini, selain keluh kesah?
  • Apa yang sudah aku lakukan untuk mengubah keadaan, selain menjadi hakim yang keras menghakimi?
  • Apa yang sudah aku tanam, selain kebencian pada mereka yang berkuasa?

Karena perubahan tidak akan datang dari istana yang gelap itu. Perubahan hanya akan datang ketika kita berubah.

Ketika kita tidak lagi menjadi penonton yang pasif, tapi aktor yang bergerak — meskipun hanya dalam lingkup kecil: keluarga, tetangga, lingkungan, komunitas.

Revolusi Diam dari Hati

Kami tidak sedang berbicara tentang revolusi berdarah. Tidak. Kami hanya berbisik tentang revolusi diam: revolusi di dalam hati.

  • Mengembalikan amanah kepada yang berhak, meskipun kecil.
  • Menjujung kejujuran dalam perkataan dan perbuatan, meskipun pahit.
  • Menolak segala bentuk ketamakan, meskipun menggiurkan.
  • Mengedepankan kebersamaan, meskipun kita berbeda pilihan.

Seandainya setiap kepala keluarga di negeri ini bersikap adil pada anak-anaknya, akankah ada generasi yang tumbuh menjadi pemimpin korup?

Seandainya setiap guru mengajarkan kejujuran dengan keteladanan, bukan sekadar teori, akankah ada pejabat yang berani mencuri?

Perubahan tidak harus dari atas. Perubahan bisa dimulai dari bawah, dari meja makan, dari tempat tidur, dari kamar sempit tempat kita merenung dan mengakui, Aku juga banyak salah.

Selamat Datang, Suro

Maka, selamat datang, tahun baru Hijriah. Selamat datang, Suro.

Jangan kau harap kami akan berpesta pora dengan gemerlap yang semu. Karena yang kami butuhkan malam ini bukan gemerlap, tapi kesunyian.

Kesunyian untuk bertanya pada diri sendiri, Apa yang sudah aku perbuat? Ke mana aku akan melangkah?

Jika semua orang mengoreksi dirinya sendiri bukan menyalahkan tetangga, bukan menghakimi pemimpin, bukan mencaci orang yang beda pilihan maka negeri yang gemah ripah loh jinawi ini akan pulih dengan sendirinya.

Karena kesadaran kolektif lebih kuat dari pada janji-janji politik.

Tuhan tidak akan mengubah keadaan suatu kaum, sampai mereka mengubah keadaan diri mereka sendiri. Itu bukan sekadar ayat, itu janji yang paling pasti.

Apakah kita akan menunggu jatuhnya korban lebih banyak lagi? Atau kita mulai dari sekarang, dari malam yang sunyi ini?

Doa di Penutup Malam

Kami tutup dengan doa sederhana:

Semoga kesadaran itu lahir, tidak harus dari penderitaan.
Semoga keadilan itu tegak, tidak harus dari amarah.
Semoga negeri ini pulih, dimulai dari hati kita masing-masing.

Selamat merenung, selamat mengoreksi diri.

Karena hanya dengan itu, rahmat akan turun. Bukan sekadar untuk kita, tapi untuk semesta.

Redaksi
Malam 1 Suro 2026

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru