SEMARANG – Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) yang digagas Gubernur Jawa Tengah, Ahmad Luthfi, dan wakilnya Taj Yasin Maimoen (Gus Yasin), menjadi sorotan dalam penilaian Penghargaan Pembangunan Daerah 2026.
Kementerian PPN/Bappenas menyebut program layanan kesehatan jemput bola itu sebagai inovasi unggulan yang tidak hanya menjangkau masyarakat hingga pelosok desa, tetapi juga layak direplikasi oleh daerah lain di Indonesia.
Apresiasi tersebut mengiringi capaian Jawa Tengah yang mencatat pertumbuhan ekonomi di atas rata-rata nasional serta penurunan angka kemiskinan dan pengangguran. Hal itu dinilai sebagai bukti keberhasilan pembangunan yang terintegrasi.
Apresiasi tersebut disampaikan dalam Forum Group Discussion (FGD) Penilaian Tahap II Penghargaan Pembangunan Daerah (PPD) Tingkat Provinsi Tahun 2026 yang digelar di Kantor Bappeda Provinsi Jawa Tengah, Kamis (25/6/2026).
Perencana Ahli Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional (PPN)/Bappenas, Taufik Hanafi, menilai, Jawa Tengah berhasil menjalankan berbagai program yang selaras dengan trisula pembangunan yang menjadi fokus pemerintah pusat, yakni pertumbuhan ekonomi, pengentasan kemiskinan, dan peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).
Menurutnya, program Speling menjadi salah satu inovasi yang layak menjadi contoh bagi daerah lain karena mampu menghadirkan layanan kesehatan spesialis secara langsung kepada masyarakat hingga tingkat desa.
“Strategi keberlanjutan ini perlu dibagikan agar bisa direplikasi di daerah lain,” kata Taufik.
Selain Speling, ia juga mengapresiasi berbagai program di sektor pendidikan dan ketenagakerjaan, seperti pengembangan sekolah vokasi dan Balai Latihan Kerja (BLK), yang dinilai mendukung peningkatan kualitas SDM dan penyerapan tenaga kerja.
“Kalau kami lihat, apa yang dilakukan Gubernur Jawa Tengah dalam kerja-kerjanya sudah mencakup ketiga aspek pembangunan itu secara terintegrasi,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan Kepala Biro Perencanaan, Organisasi, dan Tata Kelola Kementerian PPN/Bappenas, Ahmad Dading Gunadi. Ia menilai capaian pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah yang berada di atas rata-rata nasional menunjukkan kinerja pembangunan yang positif dan perlu dijaga keberlanjutannya.
Dading juga menyoroti keberhasilan program Speling yang telah menjangkau masyarakat di berbagai wilayah pedesaan. Menurutnya, program tersebut menjadi inovasi yang memberikan dampak nyata bagi pelayanan kesehatan masyarakat.
“Speling ini sangat bagus dengan jangkauan capaian yang luar biasa. Program ini baru di pemerintahan Gubernur Ahmad Luthfi,” katanya.
Selain itu, ia mengungkapkan bahwa pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di Jawa Tengah menjadi yang tertinggi secara nasional.
Sementara itu, akademisi Fakultas Arsitektur, Perencanaan, dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung (ITB), Ridwan Sutriadi, menilai Jawa Tengah memiliki strategi pembangunan yang kuat, terutama dalam pengembangan wilayah, mitigasi perubahan iklim, dan perencanaan tata ruang.
Ia juga mengapresiasi komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dalam mendukung berbagai program strategis dan prioritas nasional.
Dalam paparannya, Gubernur Ahmad Luthfi menyampaikan sejumlah capaian pembangunan daerah. Pada triwulan I tahun 2026, pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah mencapai 5,89 persen, lebih tinggi dibanding rata-rata nasional sebesar 5,61 persen.
Di sisi lain, angka kemiskinan pada September 2025 turun menjadi 9,39 persen dari sebelumnya 9,58 persen. Indeks Pembangunan Manusia (IPM) tahun 2025 tercatat sebesar 74,77 atau meningkat 1,20 poin dibanding tahun sebelumnya yang berada di angka 73,87.
Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) pada Februari 2026 juga turun menjadi 4,24 persen atau berkurang 0,09 poin dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Pada sektor investasi, realisasi investasi Jawa Tengah sepanjang 2025 mencapai Rp 110,02 triliun. Nilai tersebut terdiri atas Penanaman Modal Asing (PMA) sebesar Rp 50,86 triliun, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) Rp 37,64 triliun, serta investasi Usaha Mikro dan Kecil (UMK) sebesar Rp 21,52 triliun. Investasi tersebut tersebar dalam 105.078 proyek dan mampu menyerap 418.138 tenaga kerja.
“Untuk triwulan I tahun 2026, investasi yang sudah terealisasi mencapai Rp23,02 triliun dan mampu menyerap sekitar 92 ribu tenaga kerja,” ujar Ahmad Luthfi.
Ia menambahkan, Jawa Tengah juga mencatat sejumlah capaian dalam pelaksanaan program strategis nasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menjangkau lebih dari 9 juta penerima manfaat.
Sementara Program Tiga Juta Rumah direalisasikan melalui penanganan 20.253 unit Rumah Tidak Layak Huni (RTLH) pada 2025 dan penyaluran Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) sebanyak 3.844 unit pada 2026.
Selain itu, Program Sekolah Rakyat telah berjalan di 14 lokasi dengan jumlah 1.275 siswa, sedangkan Program Sekolah Garuda telah hadir di enam titik. Adapun Program Cek Kesehatan Gratis telah menjangkau 9,5 juta warga atau menjadi yang tertinggi secara nasional.
Di bidang ekonomi kerakyatan, sebanyak 8.523 Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih telah terbentuk di Jawa Tengah. Dari jumlah tersebut, 6.271 koperasi telah beroperasi.
Luthfi menegaskan, keberhasilan program Speling tidak terlepas dari kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, serta rumah sakit milik pemerintah maupun swasta.
“Speling ini kami kolaborasikan dengan kabupaten/kota dan seluruh rumah sakit, baik milik pemerintah daerah maupun swasta. Antusiasme masyarakat sangat luar biasa. Program ini juga kami integrasikan dengan Gerakan Pangan Murah,” katanya.***



