Rabu, 8 Juli 2026
29.1 C
Semarang

Kisah Santunan Anak Yatim Musholla An-Nur Sitalang | Indahnya Berbagi Muharram 1448 H

Di bawah langit Muharram, dua puluh anak menemukan bahwa mereka tidak sendiri. Sebuah cerita tentang memberi yang ternyata lebih banyak menerima.

Berita Terkait

UNGARAN TIMUR, PortalJateng.id – Malam baru saja menegakkan tubuhnya ketika suara azan Isya berbaur dengan angin Sitalang yang dingin, Senin (6/7/2026). Di Musholla An-Nur, RT06 RW08, Susukan, Ungaran Timur, langkah-langkah kecil mulai berdatangan.

Ada yang digandeng ibunya. Ada yang berjalan berdua dengan adik. Ada yang datang sendiri dengan sandal jepit yang mulai menipis di bagian tumit.

Dua puluh anak. Dua puluh cerita. Dua puluh pasang mata yang malam itu akan melihat bahwa bulan Muharram bukan hanya tentang tahun baru kalender hijriah. Melainkan tentang harapan yang dibungkus dalam sebuah amplop.

Pertemuan yang Disengaja

Santunan anak yatim Sitalang Musholla An-Nur

Mengapa hari Senin? Jawabannya sederhana namun sarat perhitungan, setiap Senin malam, Musholla An-Nur memang sudah rutin menggelar mujahadah.

Maka ketika Takmir memutuskan untuk mengadakan santunan anak yatim dan piatu, hari Senin adalah pilihan yang lahir dari kearifan. Efisiensi waktu, efisiensi tenaga, dan efisiensi rasa agar yang berdoa dan yang disantuni bertemu dalam satu ruang yang sama.

“Kami ingin anak-anak ini tidak hanya datang dan pulang membawa amplop. Kami ingin mereka merasakan bahwa mereka adalah bagian dari keluarga besar kami. Bahwa setiap Senin malam, tempat ini juga milik mereka,” ujar H. Wahyu Andri Widodo, Ketua Takmir Musholla An-Nur, dengan suara tenang.

Panitia yang Berlari di Atas Waktu

Di balik suksesnya acara, ada cerita tentang orang-orang yang nyaris kehabisan napas. Paul Hendrik, salah satu panitia, mengingat bagaimana mereka harus menyiasati waktu yang sempit dan jadwal yang bertabrakan.

“Tantangan terbesar kami sebenarnya bukan soal uang, tapi soal waktu. Mayoritas panitia bekerja. Ada yang pulang sore, ada yang baru bisa bergerak setelah maghrib. Tapi justru di situlah keindahannya, kami belajar bahwa niat yang tulus akan selalu menemukan jalannya sendiri,” ungkap Paul.

Ia bercerita tentang malam-malam ketika grup WhatsApp panitia berubah menjadi ruang rapat virtual yang tak kenal lelah. Tentang sistem “jemput bola” yang mereka terapkan, mendatangi donatur satu per satu, bukan sekadar menunggu. Tentang transparansi pengelolaan dana yang mereka jaga mati-matian agar kepercayaan tidak retak.

Hasilnya? Donasi terkumpul sebesar Rp5.700.000. Angka yang bagi sebagian orang mungkin biasa saja, tapi bagi Panitia Musholla An-Nur, setiap rupiahnya adalah kepercayaan yang harus dipertanggungjawabkan di dunia dan di akhirat.

Pelukan yang Berbentuk Amplop

Santunan anak yatim Sitalang Musholla An-Nur

Momen paling sunyi dan paling gaduh terjadi bersamaan. Sunyi karena ketika doa dibacakan, seluruh ruangan menunduk dalam kekhusyukan yang nyaris sempurna. Gaduh karena setelahnya, hati-hati kecil itu berdentum-dentum penuh rasa yang sulit dinamai.

Prosesi penyerahan santunan adalah puncak yang mengubah angka menjadi air mata. Bukan air mata kesedihan. Melainkan air mata yang susah dibedakan antara haru, syukur, dan doa yang meluncur diam-diam dari bibir para panitia.

“Sulit sekali melukiskan sorot mata mereka malam itu. Ada binar yang tidak bisa dibeli dengan uang. Saya yang seharusnya mengajar mereka, justru belajar banyak dari cara mereka mensyukuri hal-hal kecil,” ujar Ust. Abdussalam, S.Ag. , penceramah yang malam itu menyampaikan tausiyah tentang hikmah Muharram dan keutamaan menyantuni anak yatim.

Lihatlah. Seorang anak menggenggam amplopnya begitu erat, seperti menggenggam janji yang tidak ingin dilepaskan. Ada yang membawanya dengan kedua tangan, menempel di dada, seolah amplop itu adalah benda paling berharga yang pernah ia miliki. Ada yang langsung menyerahkannya kepada ibu yang berdiri di sampingnya, sebuah gestur yang berbicara lebih keras dari kata-kata, “Ini untuk kita, Bu.”

Dan ada yang tidak mau memberikan amplop itu kepada siapa pun. Bukan karena pelit. Tapi karena bagi mereka, amplop itu adalah bukti bahwa seseorang, di luar sana, memikirkan mereka. Amplop itu adalah pelukan yang bisa dipegang.

Dapur yang Tidak Pernah Padam

Santunan anak yatim Sitalang Musholla An-Nur

Sebuah acara tidak pernah berdiri sendiri. Ia adalah panggung kecil yang di atasnya berkumpul orang-orang besar yang tidak ingin dikenal.

Bapak Parno, warga RT06 Sitalang, masih mengingat bagaimana ibu-ibu di lingkungannya tiba-tiba muncul membawa camilan tanpa diminta.

“Saya lihat sendiri, Bu Eva datang bawa baskom isi kue lumpur. Saya tanya, ‘Pesen, Bu?’ Beliau cuma ketawa, ‘Ora, iki gawe anak-anak. Ojo mbayar, yo.’ Siapa yang tidak terharu? Di tengah ekonomi yang serba susah, masih ada yang mau memberi tanpa hitungan,” kenang Bapak Parno dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.

Solidaritas itu meluas ke mana-mana. Warga Kuncen, Kebonpolo, bahkan jamaah Masjid Bunpolo turut menyumbang. Ada yang secara ekonomi hidup di garis yang tipis antara cukup dan kurang, tapi justru dari merekalah pelajaran paling mahal tentang memberi itu berasal.

Muharram yang Tidak Berhenti di Sini

Santunan malam itu memang telah usai. Tapi Musholla An-Nur bukanlah tempat yang hanya setahun sekali menyala.

Setiap malam Selasa Pahing dan Legi, taklim kitab Riyadus Sholihin menjadi nadi yang menjaga Musholla ini tetap hidup. Ada pula rutinan malam Selasa, PHBI, dan bulan depan, Maulid Nabi sudah menanti.

“Kami sadar, kebutuhan mereka tidak berhenti semalam ini saja. Untuk program lanjutan khusus anak yatim, memang belum ada. Tapi kami akan menjaga api ini tetap menyala. Setiap Muharram, insyaallah, santunan ini akan terus ada,” kata H. Wahyu Andri Widodo.

Lebih dari itu, acara ini sesungguhnya adalah pesan kepada masyarakat luas, bahwa menyantuni anak yatim bukanlah sekadar kewajiban teologis. Ia adalah latihan untuk tetap menjadi manusia.

Dan malam itu, di Musholla An-Nur, dua puluh anak menjadi guru yang mengajarkan bagaimana caranya.

Menjelang acara berakhir, Ust. Abdussalam memimpin doa yang diaminkan oleh seluruh hadirin. Doa untuk anak-anak. Doa untuk para donatur. Doa untuk lingkungan yang tetap memelihara gotong royong di zaman yang semakin individual.

“Semoga Allah membalas setiap kebaikan Bapak, Ibu, Saudara sekalian. Uang ini akan kami salurkan dengan amanah. Tapi sejujurnya, yang Bapak Ibu berikan malam ini jauh lebih besar dari angka. Bapak Ibu telah memberi mereka alasan untuk tersenyum,” ucap panitia dalam rilis terima kasihnya.

Di luar Musholla, malam semakin dingin. Tapi dua puluh anak itu pulang dengan sesuatu yang hangat di dalam dada.

Amplop di tangan mereka mungkin akan habis isinya untuk membeli buku, seragam, atau kebutuhan sekolah. Tapi ingatan tentang malam itu, malam ketika mereka menjadi tamu istimewa, malam ketika doa-doa dilangitkan untuk mereka, malam ketika orang-orang yang tidak mereka kenal datang membawa cinta akan tinggal lebih lama.

Jauh lebih lama.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru