Semarang – Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah mendorong industri makanan dan minuman (mamin) di wilayah tersebut untuk mulai menggunakan garam lokal sebagai bahan baku. Langkah ini diambil guna mengurangi ketergantungan terhadap garam impor yang selama ini masih digunakan oleh pelaku industri.
Kepala Kantor Perwakilan BI Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, menyampaikan bahwa kualitas garam lokal, khususnya dari daerah Jepara dan Kebumen, dinilai cukup baik dan layak ditingkatkan untuk kebutuhan industri.
“BI sudah melakukan business matching dengan sejumlah pelaku industri seperti PT Dua Kelinci dan produsen garam meja Garam Cap Kapal serta sejumlah perusahaan lainnya, untuk menjalin kemitraan langsung dengan petani garam lokal di Jepara dan Kebumen,” ujarnya, dalam acara Capacity Building & Media Briefing BI Provinsi Jawa Tengah pada Jumat (20/6), di Jakarta.
Dalam upaya tersebut, BI Jawa Tengah juga telah menggelar kegiatan capacity building terkait optimalisasi produksi dan pasca panen garam di beberapa wilayah penghasil garam di Jawa Tengah.
Rahmat menambahkan, dalam acara Forum Perumusan Analisis dan Rekomendasi Kebijakan (Pusaka) yang digelar baru-baru ini, Kedutaan Besar Australia di Jakarta menunjukkan ketertarikan terhadap potensi garam lokal, khususnya di Jepara.
“Mereka bahkan berniat mencarikan investor untuk membantu peningkatan kualitas garam di sana,” ungkapnya.
Menurutnya, penggunaan garam lokal sebagai substitusi impor sangat penting, terutama di tengah kondisi global yang tidak stabil dan berisiko mengganggu rantai pasok. “Transportasi impor bisa memakan waktu lama, jadi kita butuh alternatif dari dalam negeri. Ini juga untuk memperkuat ketahanan pasok industri,” jelas Rahmat.
Selain mendorong substitusi garam impor, BI juga akan mendorong pengembangan bahan baku lain seperti esens makanan yang masih sangat tergantung dari luar negeri.
“Industri makanan dan UMKM kita sulit bersaing dengan produk dari Thailand dan Malaysia kalau bahan bakunya masih impor. Masa kita tidak bisa buat kripik atau kukis sendiri dan kalah di pasar dalam negeri?” pungkasnya.



