Catatan Redaksi – Di sebuah lapak durian sederhana, lima orang datang dengan harapan sama, yaitu membawa pulang kenikmatan legit sang raja buah. Mereka memilih dari keranjang yang sama, membayar harga yang sama, bahkan membeli dari pedagang yang sama. Namun saat durian-durian itu dibuka di rumah masing-masing, takdir memperlihatkan wajah beragam, ada yang manis sempurna, ada yang masih mentah, ada yang isinya hanya separuh, dan ada yang sebagian busuk. Peristiwa sehari-hari ini ternyata menyimpan percikan kebijaksanaan tentang hidup yang sering kita lupakan.
Seorang ibu paruh baya yang mendapat durian kurang bagus hanya menghela napas ringan, lalu tersenyum. “Ini masih bisa diolah jadi ketimus atau dodol,” katanya pada dirinya sendiri. Di rumah sebelah, seorang bapak justru berbagi durian manisnya pada tetangga. “Biar sama-sama merasakan manisnya rezeki,” ujarnya. Sementara di tempat lain, seorang pemuda kesal karena duriannya ternyata mentah. “Padahal sudah pilih yang bagus,” gerutunya.
Dalam kesederhanaan momen ini, kita diingatkan, bahwa hidup memang sering tidak adil dalam pembagian “durian”-nya. Kita bisa sama-sama bekerja keras, berdoa, dan berusaha, namun hasil yang kita petik tak selalu setara. Yang satu dapat karir cemerlang, yang lain dapat usaha yang gagal; yang satu dapat rumah tangga harmonis, yang lain dapat hubungan yang retak. Seperti durian, kita hanya bisa memilih tempat membeli dan cara memilih, tapi kualitas isi sepenuhnya berada di luar kendali kita.
Namun justru di situlah letak pelajarannya, durian yang mentah mengajarkan kesabaran, yang busuk melatih keikhlasan, yang manis mendidik rasa syukur, dan yang sedikit isinya mengingatkan pada arti berbagi. Masalahnya bukan pada “durian” apa yang kita dapat, tapi pada “cara kita menyikapi durian” tersebut. Seperti petani durian yang tak marah saat panen buruk, dan tak sombong saat panen melimpah, maka kita pun perlu belajar menerima bahwa setiap musim kehidupan membawa pelajaran berbeda.
Untuk itu, lain kali ketika Anda mendapat “durian” nasib yang tak sesuai harapan, ingatlah, bahwa Tuhan tak pernah memberi durian yang tak bisa kita kunyah. Dia tahu batas kemampuan gigi dan hati setiap hamba-Nya. Yang terpenting bukanlah rasa duriannya, tapi kebijaksanaan yang kita petik dari setiap gigitan kehidupan, salam kebaikan.



