Semarang – Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Tengah memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah pada 2025 akan melampaui capaian 2024 yang sebesar 4,95 persen. Optimisme tersebut sejalan dengan kinerja ekonomi triwulan III-2025 yang tumbuh 5,37 persen (yoy), meningkat dari triwulan sebelumnya yang tumbuh 5,28 persen.
Kepala BI Provinsi Jawa Tengah, Rahmat Dwisaputra, mengatakan peningkatan ini ditopang oleh permintaan domestik yang tetap kuat di tengah dinamika perekonomian global.
“Pertumbuhan ekonomi Jawa Tengah tahun 2025 diprakirakan lebih tinggi dibanding tahun 2024, terutama didorong oleh permintaan domestik yang masih meningkat,” ujarnya dalam Media Briefing di Hotel Tentrem Semarang, pada Rabu (19/11).
Dari sisi pengeluaran, pertumbuhan ekonomi terutama ditopang oleh Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) yang tumbuh 6,71 persen (yoy). Hal itu sejalan dengan capaian realisasi investasi hingga triwulan III-2025 yang sudah mencapai 84,42 persen dari target tahunan.
Kinerja ekspor Jawa Tengah juga menunjukkan peningkatan meski mulai melambat, serta tetap mencatat surplus pada sektor nonmigas. Akselerasi konsumsi pemerintah turut memberikan dorongan seiring pelonggaran kebijakan efisiensi belanja.
Sementara itu dari sisi lapangan usaha, sektor Industri Pengolahan—dengan kontribusi 33,43 persen terhadap PDRB Jawa Tengah—tumbuh 5,96 persen (yoy). Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) serta alas kaki menjadi motor pertumbuhan, tercermin dari meningkatnya ekspor kedua komoditas tersebut.
Inflasi Berada dalam Rentang Sasaran
Inflasi Jawa Tengah pada Oktober 2025 tercatat 0,40 persen (mtm) atau 2,86 persen (yoy), masih dalam kisaran sasaran inflasi nasional 2,5±1 persen. Tekanan inflasi terutama berasal dari kelompok Perawatan Pribadi dan Jasa Lainnya, dipicu kenaikan harga emas perhiasan akibat harga emas dunia yang mencapai level tertinggi sepanjang sejarah.
Kelompok Makanan, Minuman, dan Tembakau juga memberikan andil inflasi, terutama dari komoditas telur ayam ras, daging ayam ras, dan cabai merah.
“Untuk menjaga inflasi tetap terkendali, BI dan Pemda melalui TPID Jawa Tengah terus memperkuat koordinasi, antara lain melalui normalisasi irigasi, pemberian bantuan benih, operasi pasar, Gerakan Pangan Murah, perluasan Champion Cabai dan Champion Beras, serta business matching antara BUMP, BUMD, dan perbankan,” ujar Rahmat.
Digitalisasi Pembayaran Perkuat Aktivitas Ekonomi
BI juga memperkuat momentum ekonomi melalui percepatan digitalisasi sistem pembayaran. Hingga September 2025, pengguna QRIS di Jawa Tengah mencapai 8,04 juta (tumbuh 12,34 persen yoy), dengan 4,2 juta merchant (tumbuh 23,25 persen yoy). Volume transaksi mencapai 846,3 juta dengan nilai Rp2,7 triliun.
Ekosistem digital semakin luas melalui perluasan QRIS Antarnegara (Jepang dan Korea), program QRIS TAP di transportasi publik, serta peningkatan Elektronifikasi Transaksi Pemerintah Daerah (ETPD) yang mencapai indeks 96,5 persen dan berstatus “Digital”.
Program Strategis BI
Rahmat menambahkan, sepanjang 2025, BI akan terus memperkuat sinergi dengan berbagai pemangku kepentingan melalui sejumlah program penting, antara lain: Wiwitan Tandur Pari dan perluasan Kios Pangan Pandawa Kita untuk stabilisasi harga, serta Pusaka Jateng dan CJIBF untuk perumusan rekomendasi kebijakan ekonomi dan investasi.
Selain itu pengembangan ekosistem digital melalui Agen LPG dan Ngebis Pake QRIS, Promosi pariwisata lewat JASIRAH Race dan QRIS Jelajah Indonesia, dan penguatan UMKM dan ekonomi syariah melalui FAJAR dan UMKM Gayeng.
“Dengan fondasi ekonomi yang kuat, ekosistem yang matang, serta sinergi antarlembaga yang solid, Jawa Tengah dinilai memiliki peluang besar untuk terus maju,” kata Rahmat.



