SEMARANG – PT Pelayaran Nasional Indonesia atau PT PELNI (Persero) terus mendorong optimalisasi aset perusahaan melalui pembukaan kemitraan komersial dengan berbagai pihak. Langkah ini dilakukan sebagai strategi untuk meningkatkan pendapatan sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap skema Public Service Obligation (PSO).
Terbaru, PELNI menjalin kerja sama dengan restoran Padang Pagi Sore yang resmi beroperasi di kawasan Kota Lama Semarang, Jumat (3/4/2026). Kehadiran tenant kuliner tersebut menjadi bagian dari upaya pemanfaatan aset darat milik perusahaan agar lebih produktif dan bernilai ekonomi.
Direktur Usaha Angkutan Penumpang PELNI, Nuraini Dessy W, mengatakan bahwa pengelolaan aset perusahaan memiliki karakteristik berbeda dengan bisnis kuliner atau food and beverage. Dari total sekitar 158 aset darat yang dimiliki, tidak seluruhnya dapat dikomersialkan karena sebagian digunakan untuk operasional kantor.
“Masih ada sekitar 14 persen aset yang belum optimal atau dalam kondisi idle. Melalui kemitraan komersial ini, kami membuka peluang seluas-luasnya bagi investor untuk bersama-sama mengembangkan aset tersebut,” ujarnya.
Ia menambahkan, pada tahun 2026 PELNI menargetkan lima lokasi utama sebagai fokus pengembangan aset, yakni di Belawan, Padang, Semarang, Balikpapan, dan Ternate. Di Semarang sendiri, selain kerja sama dengan Pagi Sore, perusahaan juga tengah melakukan renovasi sejumlah aset lainnya.
Salah satu gedung bernama Debraga saat ini dalam proses penjajakan kerja sama dan direncanakan menjadi kafe yang ditargetkan beroperasi dalam dua bulan ke depan. Selain itu, satu lokasi lain juga diproyeksikan mulai beroperasi dalam waktu dekat.
Menurut Nuraini, skema kemitraan yang ditawarkan cukup fleksibel. PELNI menyediakan aset, sementara mitra atau investor menanggung biaya renovasi dan pengembangan usaha. Model ini dinilai efektif mengingat keterbatasan anggaran perusahaan.
“Dengan skema ini, aset yang sebelumnya tidak produktif dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pendapatan perusahaan,” jelasnya.
Sementara itu, Vice President Usaha Komersial PELNI, Berryl A. Insanul Firdaus, menuturkan bahwa pihaknya juga mendorong keterlibatan pelaku usaha, termasuk UMKM, dalam pemanfaatan aset perusahaan.
“Kami ingin aset PELNI tidak hanya produktif secara bisnis, tetapi juga memberi dampak ekonomi bagi masyarakat, terutama UMKM yang membutuhkan lokasi usaha strategis,” katanya.
Meski demikian, kontribusi pemanfaatan aset terhadap total pendapatan perusahaan saat ini masih relatif kecil, yakni di bawah 10 persen dibandingkan bisnis utama pelayaran. Namun, tren peningkatan mulai terlihat sejak program optimalisasi aset dijalankan secara lebih terstruktur pada 2024 melalui inventarisasi dan pemetaan potensi, serta mulai menghasilkan kerja sama pada 2025.
Selain aset darat, PELNI juga mulai mengoptimalkan aset di kapal, seperti pemanfaatan ruang untuk tenant komersial dan pemasangan iklan di badan kapal sebagai sumber pendapatan tambahan.
Manager Pengusahaan Properti PELNI, Uli Octalinasda Sitinjak, menambahkan bahwa Semarang menjadi salah satu wilayah potensial dalam pengembangan aset, terutama karena daya tarik kawasan heritage seperti Kota Lama.
“Saat ini sudah ada dua gedung yang dimanfaatkan, masing-masing untuk coffee shop dan restoran. Ke depan, kami optimistis potensi ini akan terus berkembang,” ujarnya.***



