SEMARANG, PortalJateng.id – Ada kebanggaan berbeda yang disisipkan di sela kesibukan melayani ribuan penumpang setiap harinya. Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang baru saja mempersembahkan penghargaan kelas ASEAN untuk kategori Green Building (Large Category) dalam ajang ASEAN Energy Awards 2025 yang diselenggarakan di Kuala Lumpur, Malaysia.
Penghargaan yang digagas oleh ASEAN Centre for Energy (ACE) ini merupakan pengakuan tertinggi di kawasan Asia Tenggara terhadap inovasi, efisiensi energi, pemanfaatan energi terbarukan, serta penerapan teknologi berkelanjutan. Artinya, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang tidak hanya dinilai dari kemampuannya mengangkut penumpang, tetapi juga dari seberapa ramah lingkungan cara mereka beroperasi.
“Keberhasilan ini tidak terlepas dari komitmen kami dalam mengusung konsep eco-airport, dengan mengedepankan efisiensi energi dan konservasi lingkungan,” ujar Sulistyo Yulianto, General Manager Bandara Internasional Jenderal Ahmad Yani Semarang dalam keterangan resminya Selasa (21/04/2026)
Pernyataan itu bukan sekadar basa-basi. Ada bukti nyata yang bisa dilihat, dihitung, dan dirasakan dampaknya.
Tidak Sekadar Pencahayaan: PLTS, LED, dan Bangunan Pintar
Apa saja yang sudah dilakukan Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang? Rangkumannya tidak main-main.
· Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 kWp terpasang di atap kanopi area parkir Gedung Administrasi dan atap Gedung Main Power House (MPH). Selama tahun 2025, PLTS ini mampu menghasilkan 132.930 kWh energi yang dimanfaatkan untuk kebutuhan listrik gedung administrasi bandara. Itu setara dengan mengurangi konsumsi listrik konvensional dalam jumlah signifikan.
· Lampu LED dan material ramah lingkungan menjadi standar baru.
· Fitur sleep mode pada lift, elevator, dan travelator memastikan perangkat tidak boros energi saat tidak digunakan.
· Desain kaca bangunan juga dioptimalkan untuk menekan beban kerja pendingin ruangan (air conditioning).
Yang menarik, inisiatif ini tidak hanya hemat energi, tetapi juga hemat biaya operasional. Meski angka pasti efisiensi biaya tidak dirilis, langkah ini jelas menunjukkan orientasi jangka panjang yang berkelanjutan.
Air Hujan Jadi Air Bersih? Bisa, dengan Teknologi Reverse Osmosis
Salah satu inovasi paling menarik adalah pemanfaatan teknologi Reverse Osmosis (RO). Teknologi ini mengubah air hujan dan air payau menjadi air bersih. Sepanjang 2025, bandara berhasil mengolah:
· 1.920 m³ air hujan
· 243 m³ air payau
Selain itu, sistem recycle tank menghasilkan 17.000 m³ air yang dimanfaatkan untuk flushing toilet dan penyiraman taman. Ini bukan sekadar hemat air, tetapi juga mengurangi beban lingkungan dari penggunaan air tanah yang berlebihan.
“Penghargaan ini merupakan hasil kolaborasi seluruh insan bandara dan dukungan para pemangku kepentingan dalam mewujudkan bandara yang berkelanjutan,” tambah Sulistyo Yulianto.
Prestasi ini patut diapresiasi. Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang telah membuktikan bahwa efisiensi energi dan kenyamanan penumpang bisa berjalan beriringan. Namun, ada beberapa catatan penting:
Pertama, seberapa besar penghematan biaya operasional dari inisiatif ini? Masyarakat berhak tahu apakah efisiensi ini berdampak pada penurunan tarif PJP2U (biaya penumpang) atau peningkatan kualitas layanan lainnya. Jangan sampai inisiatif hijau hanya menjadi alat public relations semata.
Kedua, apakah inovasi ini akan berkelanjutan dan terus dikembangkan? Energi terbarukan memang masa depan, tapi butuh komitmen jangka panjang dalam perawatan dan pengembangan. Apakah Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang sudah menyiapkan anggaran khusus untuk itu?
Ketiga, bandara lain di Indonesia, terutama yang dikelola PT Angkasa Pura I, perlu mencontoh langkah ini. Jika Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang bisa, mengapa bandara lain tidak? Ini bisa menjadi tolok ukur dan sekaligus tekanan positif bagi pengelola bandara di seluruh Indonesia.
Ke Depan: Antara Inovasi dan Pelayanan
Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang berjanji akan terus memperkuat implementasi teknologi dan inovasi untuk kinerja energi yang lebih efisien dan berkelanjutan.
“Kami akan terus berinovasi untuk menghadirkan operasional bandara yang ramah lingkungan tanpa mengurangi kualitas pelayanan kepada pengguna jasa,” tegas Sulistyo Yulianto.
Poin terakhir ini penting. Penumpang tidak ingin terjebak dalam antrean panjang atau fasilitas kumuh hanya demi label “ramah lingkungan”. Efisiensi energi tidak boleh menjadi alasan untuk mengurangi kualitas layanan dasar.
Namun, jika komitmen ini dijalankan dengan sungguh-sungguh, Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang tidak hanya menjadi kebanggaan Jawa Tengah, tetapi juga bisa menjadi model bagi bandara ramah lingkungan di Asia Tenggara. Penghargaan ASEAN Energy Awards 2025 adalah langkah awal. Yang lebih penting adalah konsistensi, transparansi, dan keberlanjutan di tahun-tahun mendatang.
Penghargaan ini bukan sekadar piala. Ia adalah pengingat bahwa pembangunan dan kelestarian lingkungan bisa berjalan beriringan. Bandara Jenderal Ahmad Yani Semarang telah memulainya. Kini, saatnya masyarakat, pemangku kepentingan, dan media untuk mengawal agar komitmen ini tidak berhenti di seremonial penghargaan.
Semoga prestasi ini juga memantik bandara-bandara lain di Indonesia untuk berani melangkah serupa. Karena langit yang bersih dan udara yang sehat adalah hak setiap warga, tidak hanya di darat, tetapi juga di bandara.



