TEMANGGUNG – Pemerintah Provinsi Jawa Tengah menegaskan arah kemitraannya dengan Jam’iyah Rifa’iyah tidak berhenti pada simbolik organisasi, tetapi menyasar penguatan ekonomi umat, akses pendidikan, dan ketahanan nilai keagamaan di tengah masyarakat.
Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Jawa Tengah Taj Yasin Maimoen, saat menghadiri pelantikan pengurus wilayah sekaligus pembukaan Musyawarah Kerja Wilayah (Mukerwil) V Rifa’iyah Jawa Tengah, di Gedung Pemuda Pemkab Temanggung, Minggu, 26 April 2026.
Dalam sambutannya, tokoh yang akrab disapa Gus Yasin ini menempatkan Rifa’iyah sebagai mitra strategis dalam pembangunan berbasis komunitas Pemprov Jateng.
Salah satu bentuk konkret yang sudah berjalan adalah dukungan terhadap UMKM binaan Rifa’iyah, khususnya batik khas Rifa’iyah dari Batang.
“Setiap ada kegiatan, kami sengaja menghadirkan batik Rifa’iyah sebagai cinderamata,” kata Wagub yang memimpin Jawa Tengah bersama Gubernur Jateng Ahmad Luthfi tersebut.
Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi menghubungkan kekuatan sosial-keagamaan dengan ekonomi lokal.
Rifa’iyah dinilai memiliki basis jamaah kuat sekaligus tradisi produksi yang bisa dikembangkan sebagai ekosistem ekonomi mandiri.
Di sektor pendidikan, Pemprov Jateng juga membuka akses beasiswa bagi guru, kiai, dan santri, termasuk dari kalangan Rifa’iyah. Program ini diharapkan mempercepat peningkatan kualitas SDM berbasis pesantren tanpa sekat organisasi.
“Silakan dimanfaatkan. Kita ingin kader-kader Rifa’iyah ikut maju lewat pendidikan. Tidak ada dikotomi, semua punya kesempatan yang sama,” tegasnya.
Namun, pendekatan pembangunan itu tidak dilepaskan dari fondasi nilai. Dalam sambutannya, Gus Yasin mengaitkan peran organisasi keagamaan dengan pelajaran dari kisah Nabi Yunus dan Nabi Muhammad.
Ia menyoroti bagaimana dakwah tidak selalu berbuah cepat, bahkan bisa dihadapkan pada penolakan. Nabi Yunus, misalnya, sempat meninggalkan kaumnya di Ninawa karena tidak dihiraukan. Namun justru setelah itu masyarakat berbalik kepada tauhid. Sebaliknya, Nabi Muhammad mendapatkan penguatan melalui peristiwa Isra Mikraj di tengah tekanan dakwah.
Dua kisah tersebut, menurut Gus Yasin, memberi pesan yang sama bahwa konsistensi dan keteguhan lebih penting daripada ukuran keberhasilan jangka pendek.
“Dakwah itu tidak boleh ‘ngambek’. Didengar atau tidak, ada pengikut atau tidak, harus tetap jalan. Itu pelajaran penting bagi pemimpin,” ujarnya.
Pesan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa organisasi seperti Rifa’iyah tidak boleh merasa kecil. Apalagi, kontribusinya dalam khazanah keilmuan Islam di Jawa sudah meluas, bahkan melintasi batas organisasi seperti Nahdlatul Ulama.
Ajaran dan karya Ahmad Rifa’i disebut masih menjadi rujukan lintas kalangan, baik dalam bentuk kitab maupun syiiran yang hidup di masyarakat pesantren.
“Banyak kiai di Jawa Tengah belajar dari ulama Rifa’iyah. Ini menunjukkan pengaruhnya besar, bukan hanya internal, tapi juga untuk umat secara luas,” tambahnya.
Karena itu, Pemprov Jateng memandang penting sinergi lintas organisasi keagamaan untuk menjaga keseimbangan antara penguatan agama dan kebangsaan. Figur Ahmad Rifa’i sendiri telah diakui sebagai pahlawan nasional, menegaskan peran historisnya dalam perjuangan Islam sekaligus kemerdekaan Indonesia.
Melalui Mukerwil ini, pemerintah berharap Rifa’iyah merumuskan program kerja yang tidak hanya memperkuat internal organisasi, tetapi juga berdampak langsung pada masyarakat, baik dalam bidang ekonomi, pendidikan, maupun sosial keagamaan.
“Kalau sinergi ini dijaga, maka bukan hanya organisasi yang kuat, tapi juga masyarakat dan negara,” pungkas Yasin.***



