SEMARANG — Pertumbuhan investor pasar modal di Jawa Tengah terus menunjukkan tren positif. Hingga 30 Juni 2026, jumlah investor di provinsi ini telah mencapai 3,19 juta, menjadikannya provinsi dengan jumlah investor terbesar keempat di Indonesia. Dari total tersebut, Kota Semarang menjadi penyumbang investor terbanyak dengan 198.180 investor atau sekitar 6,21 persen dari keseluruhan investor di Jawa Tengah.
Perkembangan tersebut menjadi salah satu sorotan dalam rangkaian kegiatan sosialisasi dan edukasi pasar modal yang diselenggarakan PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI) di Semarang bersama PT Bursa Efek Indonesia (BEI) dan PT Kliring Penjaminan Efek Indonesia (KPEI), Senin (21/7/2026). Kegiatan ini bertujuan memperluas literasi pasar modal sekaligus menyampaikan berbagai perkembangan layanan dan inovasi yang dilakukan KSEI.
Kepala Unit Edukasi Layanan Jasa Investor KSEI, Abdul Azis Albakkar, mengatakan dominasi investor muda menjadi pendorong utama pertumbuhan pasar modal di Jawa Tengah.
“Investor pasar modal di Jawa Tengah didominasi oleh investor muda berusia kurang dari 30 tahun dan 31–40 tahun dengan total 82,97 persen. Hal ini sejalan dengan pertumbuhan investor muda di pasar modal Indonesia yang cukup signifikan, dengan peningkatan investor usia muda sebesar 78,83 persen sejak tahun 2026,” kata Azis saat media gathering di Kantor Perwakilan BEI Semarang.
Azis menambahkan, dari sisi pekerjaan, investor di Jawa Tengah masih didominasi kelompok karyawan, baik karyawan swasta, aparatur sipil negara, guru, maupun TNI, Polri, dan pensiunan, dengan porsi mencapai 48,95 persen.
Secara nasional, jumlah investor pasar modal Indonesia hingga akhir Juni 2026 telah mencapai 28,96 juta investor. Angka tersebut mencakup investor saham, surat utang, reksa dana, surat berharga negara, hingga instrumen yang diterbitkan Bank Indonesia, atau meningkat 42,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Untuk mengimbangi pertumbuhan investor yang terus meningkat, KSEI terus memperkuat infrastruktur digital pasar modal. Salah satunya melalui sistem The Central Depository and Book-Entry Settlement System (C-BEST) yang menjadi tulang punggung layanan pendaftaran efek, pembukaan Sub Rekening Efek (SRE), distribusi aksi korporasi, hingga penyelesaian transaksi.
“Hingga Juni 2026, C-BEST mencatat total aset yang dikelola mencapai Rp7.495 triliun dengan 3.851 jenis efek yang teradministrasi,” terangnya.
Di sisi lain, KSEI juga mengembangkan Sistem Pengelolaan Investasi Terpadu (S-INVEST) yang mendukung administrasi reksa dana serta Tabungan Perumahan Rakyat (Tapera) melalui pengembangan Sistem Multi Investasi Terpadu (S-MULTIVEST). Sampai Juni 2026, nilai aset kelolaan (Asset Under Management/AUM) yang tercatat di S-INVEST mencapai Rp983 triliun dengan 2.496 produk investasi.
Selain menyasar media, KSEI juga menggelar gathering bersama pengurus Galeri Investasi BEI di Jawa Tengah, pelatihan bagi perusahaan efek dan agen penjual efek reksa dana, serta pertemuan dengan investor. Langkah ini merupakan bagian dari upaya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) dan Self-Regulatory Organizations (SRO) pasar modal untuk memperluas basis investor sekaligus meningkatkan aktivitas transaksi di pasar modal.
Dalam pertemuan bersama pengelola Galeri Investasi, Staf Senior Unit Administrasi Produk Investasi KSEI, Muhamad Fadhilah Wicaksono, memaparkan berbagai layanan yang telah dikembangkan KSEI, mulai dari Single Investor Identification (SID), Sub Rekening Efek (SRE), Investor Fund Account Unit (IFUA), fasilitas AKSes.KSEI untuk memantau portofolio investasi secara daring, hingga layanan Electronic General Meeting System (eASY.KSEI) yang mendukung penyelenggaraan rapat umum pemegang saham secara elektronik.
KSEI juga memperkenalkan sejumlah inovasi digital terbaru kepada perusahaan efek melalui program training for trainers. Salah satunya adalah Centralized Investor Data Management System (CORES.KSEI), sebuah platform terpusat untuk digitalisasi data know your customer (KYC).
“Dengan CORES.KSEI, pemakai jasa dan investor pasar modal dapat menggunakan platform terpusat untuk digitalisasi data dan dokumen KYC nasabah, sehingga pada proses pembukaan rekening berikutnya dapat dilakukan sharing data KYC dan tidak diperlukan dokumen berulang,” ujar Azis.
Selain itu, KSEI juga mengembangkan KSEI Cash Management System (K-CASH) untuk mempermudah transaksi reksa dana. Sistem ini memanfaatkan Investor Fund Account Unit (IFUA) sebagai tempat penyimpanan dana investor sehingga proses transaksi menjadi lebih praktis, sekaligus memberikan transparansi karena posisi dana dapat dipantau langsung oleh investor.
Melalui rangkaian sosialisasi dan edukasi di Semarang, KSEI berharap pemahaman masyarakat terhadap perkembangan pasar modal semakin meningkat, sekaligus mendorong lahirnya lebih banyak investor baru yang aktif dan berorientasi jangka panjang.



