KAB SEMARANG – Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 2025 menghadirkan ruang refleksi mendalam bagi bangsa Indonesia. Di tengah dinamika sosial yang kompleks, keteladanan akhlak Rasulullah justru menjadi oase yang relevan dan dibutuhkan untuk merawat harmoni serta memperkuat jati diri bangsa.
Gus Muklason Rosyid, pengasuh Pondok Pesantren Jaya Baru Mojokerto yang dikenal dengan pemikiran spiritualnya yang mendalam, menekankan bahwa esensi Maulid harus menjalar dari wilayah hati ke tindakan nyata.
“Peringatan Maulid ini adalah pengingat agar kita tidak berhenti pada pengagungan simbolik semata, tetapi bergerak pada peneladanan akhlak Nabi dalam praktik keseharian. Dengan meneladani akhlak Nabi, kita sebenarnya sedang belajar untuk mengenal Allah lebih dalam. Dari situlah, kita akan kembali kepada jati diri masing-masing, tentu dalam versi yang lebih baik, lebih sabar, dan lebih penuh cinta kasih,” ujar Gus Muklason Rosyid dengan penuh kearifan saat hadir di Padepokan Noto Roso, Delik, Tuntang Kabupaten Semarang Jawa Tengah (04/08/25).
Pandangan tersebut diamini oleh jamaah yang hadir, Slamet Jarmono, warga Kaligawe, Susukan, Kabupaten Semarang yang menemukan makna spiritualitas dalam kesederhanaan aksi. Baginya, warisan terbesar Nabi adalah kebaikan yang dapat dijalankan oleh semua orang.
“Bagi saya, Maulid mengingatkan bahwa kita tidak harus menjadi seorang nabi untuk senantiasa berbuat baik. Kebaikan itu universal. Membantu tetangga, jujur dalam bermuamalah, atau menjaga lisan, itu adalah cara saya menghidupkan spirit kenabian dalam versi saya sendiri,” tuturnya.
Narasi dari kedua lapisan masyarakat, baik tokoh agama maupun warga biasa, ini bertemu pada satu titik yang sama.Maulid Nabi adalah cermin bagi setiap individu untuk berkontemplasi dan berbenah diri. Dalam konteks kebangsaan, akumulasi dari kebaikan individu-individu yang “kembali ke jati diri” inilah yang akan membentuk ketahanan dan keadaban sosial Indonesia yang lebih kokoh.
Spirit Maulid 2025 mengajak seluruh elemen bangsa untuk tidak terjebak dalam retorika yang memecah belah, tetapi justru merajut tenun kebangsaan dengan benang-benang akhlak mulia, kejujuran, dan empati. Sebab, pada hakikatnya, perbaikan sebuah bangsa dimulai dari revolusi akhlak setiap individu yang menghuninya.



