SEMARANG – Suasana tegap dan khidmat mengisi Halaman Apel Mapolrestabes Semarang, Senin (2/2/2026) pagi. Sebanyak 258 personel berseragam lengkap mengikuti Apel Gelar Pasukan Operasi Keselamatan Candi-2026, menandai dimulainya gelaran operasi lalu lintas berskala besar jelang Idul Fitri 1447 H.
Wakapolrestabes Semarang, Kombes Pol. Wiwit Ari Wibisono, memimpin apel yang bertujuan mengecek kesiapan personel, sarana, dan prasarana ini. Dalam amanat Kapolda Jateng yang dibacakannya, operasi selama 14 hari (2-15 Februari 2026) ini mengedepankan pendekatan preemtif, preventif, dan represif untuk menekan angka kecelakaan.
Fokus pada Pelanggaran yang Berisiko Tinggi
Kombes Pol. Wiwit menegaskan, Electronic Traffic Law Enforcement (ETLE) akan menjadi ujung tombak penindakan. Namun, operasi manual dengan tilang langsung tetap akan dilakukan untuk pelanggaran yang membahayakan keselamatan publik.
“Masyarakat bisa melaporkan melalui aplikasi LIBAS,” tambahnya, mengingatkan peran serta masyarakat dalam menciptakan keamanan.
Sasaran operasi sangat spesifik dan berfokus pada pemicu kecelakaan: kendaraan tidak layak jalan, pengendara tanpa helm SNI atau sabuk pengaman, penggunaan ponsel saat berkendara, melawan arus, balap liar, knalpot brong, hingga pengemudi di bawah pengaruh alkohol.
Apel pagi itu tidak hanya dihadiri jajaran kepolisian. Turut hadir perwakilan TNI (Kodim dan Dandenpom), Dinas Perhubungan Kota Semarang, dan Satpol PP, menegaskan bahwa operasi ini adalah gerakan bersama. Sinergi multipihak ini diharapkan mampu menciptakan efek domino penertiban yang lebih masif.
Data tren penurunan pelanggaran lalu lintas di Jateng sepanjang 2025 menjadi pijakan optimistis. Meski demikian, Kapolda mengingatkan agar jajaran tidak cepat berpuas diri. Edukasi dan pembinaan berkelanjutan kepada masyarakat harus tetap digencarkan untuk membangun budaya tertib yang berkesinambungan.
Dalam amanatnya, Kapolda Jateng juga berpesan agar seluruh personel mengedepankan pelayanan yang humanis, sopan, dan profesional. Tindakan kontraproduktif yang dapat merusak citra institusi harus dihindari. Pesan ini jelas: penegakan hukum harus berjalan beriringan dengan pelindungan dan pelayanan kepada warga.
Operasi yang melibatkan total 3.592 personel di seluruh Jawa Tengah ini bukan sekadar rutinitas tahunan. Ia adalah ritual pengawalan terhadap jutaan kisah perjalanan mudik, sebuah ikhtiar kolektif untuk memastikan setiap perjalanan pulang kampung berakhir dengan selamat di pelukan keluarga.
Setiap tahun, menjelang hari raya, kita menyaksikan ritus yang sama, pasukan berseragam berkumpul, berikrar, lalu menyebar ke penjuru kota. Ops Keselamatan Candi 2026 bukan hanya soal menertibkan pelanggar, tetapi tentang merawat sebuah janji keselamatan yang dititipkan masyarakat pada negara. Dalam gegap gempita arus mudik yang akan datang, ada cerita-cerita rindu yang rentan putus di tikungan atau rem yang blong. Operasi ini adalah upaya menenun kembali seuntai benang pengaman yang tak terlihat, dari teknologi ETLE yang mendeteksi, hingga teguran humanis yang mengingatkan. Ia mengajarkan bahwa ketertiban lalu lintas adalah cermin peradaban, tentang seberapa jauh kita menghargai nyawa sendiri dan orang lain dalam setiap perjalanan. Semoga gelaran tahun ini tak hanya mencatat penurunan angka pelanggaran, tetapi juga meninggikan rasa aman yang tertanam dalam sanubari setiap pengguna jalan, untuk diwariskan pada generasi mendatang yang lebih bijak berkendara.



