SULAWESI TENGAH, PortalJateng.id – Sabtu pagi (7/3/2026) yang biasanya dimulai dengan apel rutin di kawasan wisata Pakang Beach, Kabupaten Tojo Una-una, Sulawesi Tengah, justru berakhir tragis. Sebuah perselisihan kecil akibat teguran saat apel berujung maut, seorang karyawati berinisial RA (27) tewas setelah ditikam bertubi-tubi oleh rekannya sendiri, NYT (35), yang bertugas sebagai sekuriti.
Peristiwa ini terjadi sekitar pukul 08.30 WITA di Pakang Beach, Desa Sabo, Kecamatan Ampana Tete. Apa yang semula hanya teguran soal disiplin, berubah menjadi pembunuhan sadis yang kini viral di media sosial.
Kronologi: Dari Teguran, Cekcok, hingga Tikam Membabi Buta
Kasi Humas Polres Tojo Una-Una, Iptu Martono, membeberkan kronologi lengkap kejadian yang menggemparkan warga Sulteng tersebut.
“Pelaku saat itu memimpin apel pergantian shift pagi. Pelaku menegur korban karena dianggap tidak serius dan sering bermain ponsel saat apel berlangsung,” ujar Martono dalam keterangan resminya, Minggu (8/3/2026).
Teguran itu ternyata tidak diterima dengan lapang dada. Korban dan pelaku terlibat cekcok mulut yang memanas. Situasi semakin runcing ketika korban memilih meninggalkan lokasi apel dengan mengendarai sepeda motor, tanpa izin dari pelaku selaku pemimpin apel.
Di sinilah tragedi dimulai. Saat korban berada di atas motor hendak keluar dari gerbang kawasan wisata, pelaku yang sudah terpancing emosi mengambil langkah nekad. Sebuah video yang beredar di media sosial menunjukkan detik-detik mengerikan itu, korban sempat menunjuk ke arah pelaku, lalu terjadi adu mulut dan saling tunjuk dari jarak dekat.
Tak berselang lama, NYT mencabut badik yang terselip di pinggang kirinya. Sekali tebas, ia menusukkan senjata tajam itu ke arah perut korban hingga RA terjatuh dari motor. Namun pelaku tak berhenti di situ. Dalam kondisi korban sudah tergeletak, NYT terus menikam RA secara membabi buta, total delapan tusukan di sekujur tubuh korban.
“Pelaku yang sudah emosi kemudian mencabut badik dari pinggang kirinya dan langsung menikam korban ke arah perut hingga jatuh. Pelaku lalu menikam korban secara berulang kali,” jelas Martono.
Usai memastikan korbannya tak berdaya, pelaku memindahkan motor korban dari depan gerbang, mengambil motornya sendiri, dan melarikan diri meninggalkan lokasi.
Korban Meninggal di Puskesmas, Pelaku Ditangkap Saat Bersembunyi
RA sempat dilarikan ke Puskesmas Ampana Tete untuk mendapatkan pertolongan medis. Namun, delapan luka tusukan di bagian vital membuat nyawanya tak tertolong. Korban dinyatakan meninggal dunia tak lama setelah tiba di puskesmas.
Polisi yang menerima laporan segera bergerak cepat. Olah tempat kejadian perkara (TKP) dilakukan, dan perburuan terhadap pelaku dimulai. Pelarian NYT ternyata tak berlangsung lama. Hanya sekitar satu setengah jam setelah kejadian, tepat pukul 09.58 WITA, tim kepolisian berhasil menangkap pelaku di Desa Kajulangko, tempat ia bersembunyi di rumah keluarganya.
“Dari tangan pelaku, kami mengamankan barang bukti berupa sebilah badik yang digunakan untuk menikam korban. Saat ini pelaku telah diamankan di Mapolres Tojo Una-Una untuk menjalani proses hukum lebih lanjut,” pungkas Martono.
Identitas Korban dan Pelaku
Berdasarkan informasi yang dihimpun, korban adalah Rindi Antika (27), karyawati di kawasan wisata Pakang Beach. Sementara pelaku, NYT (35), merupakan petugas keamanan (sekuriti) di tempat yang sama. Keduanya adalah rekan kerja yang sehari-hari beraktivitas di lingkungan wisata tersebut.
Viral dan Mengguncang Masyarakat
Video detik-detik penikaman yang tersebar di media sosial sontak mengguncang publik. Banyak yang tak percaya bahwa perselisihan soal main HP saat apel bisa berakhir dengan kematian tragis. Warganet ramai mengutuk tindakan pelaku yang dinilai sadis dan di luar batas kemanusiaan.
“Gila, cuma gara-gara HP sampe segitunya? Semoga pelaku dihukum seberat-beratnya,” tulis salah satu netizen di kolom komentar.
“Korban masih muda, masa depannya masih panjang. Ini pelajaran buat kita semua, jangan pernah biarkan emosi menguasai akal,” sahut yang lain.
Catatan Redaksi
Di balik viralnya tragedi ini, ada pertanyaan besar yang menganga, bagaimana mungkin teguran kecil berubah jadi pembunuhan brutal?
Apel pagi yang seharusnya menjadi ajang koordinasi dan penguatan disiplin, justru menjadi panggung pertumpahan darah. Korban mungkin hanya ingin main ponsel sebentar, pelaku mungkin merasa wibawanya sebagai pemimpin apel direndahkan. Dua ego bertemu, dan yang terjadi adalah ledakan emosi yang tak terkendali.
Ini bukan sekadar soal “gara-gara HP”. Ini soal pengendalian diri yang gagal total. Seorang petugas keamanan yang seharusnya menjadi garda terdepan penjaga ketertiban, justru menjadi pelaku kekerasan paling brutal terhadap rekannya sendiri.
Polisi bergerak cepat, pelaku ditangkap, dan proses hukum berjalan. Tapi nyawa RA tak bisa kembali. Delapan tusukan telah merenggut masa depan seorang perempuan muda yang mungkin hanya ingin menjalani rutinitas kerjanya seperti biasa.
Tragedi Pakang Beach menjadi pengingat pahit, bahwa amarah yang dipelihara adalah racun yang suatu saat bisa meledak menghancurkan diri sendiri dan orang lain. Semoga kejadian ini membuka mata kita semua, bahwa di setiap tempat kerja, di setiap interaksi, ada batas yang tak boleh dilewati. Dan ketika batas itu diterjang, nyawa bisa menjadi taruhannya.
Untuk RA, selamat jalan. Untuk pelaku, proses hukum yang adil dan setimpal dinanti. Dan untuk kita semua, mari jadikan ini pelajaran, kendalikan amarah sebelum amarah mengendalikan kita.



