Kamis, 11 Juni 2026
31.7 C
Semarang

Sektor Jasa Keuangan Tetap Kokoh di Tengah Tekanan Global, Kredit dan Investasi Terus Tumbuh

Berita Terkait

JAKARTA — Stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga di tengah meningkatnya tekanan terhadap perekonomian global akibat inflasi yang masih tinggi, ketegangan geopolitik, dan volatilitas pasar keuangan internasional. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) menilai kondisi tersebut belum mengganggu ketahanan sektor keuangan domestik yang masih ditopang pertumbuhan intermediasi dan permodalan yang kuat.

Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan perkembangan ekonomi global masih dibayangi tingginya harga energi akibat konflik geopolitik yang berkepanjangan di Timur Tengah. Kondisi tersebut mendorong ekspektasi suku bunga global tetap tinggi dalam jangka waktu lebih lama dan meningkatkan ketidakpastian pasar keuangan.

“Di tengah meningkatnya tekanan global, stabilitas sektor jasa keuangan nasional tetap terjaga dengan intermediasi yang tumbuh positif dan tingkat solvabilitas yang berada pada level tinggi,” kata Friderica dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Komisioner Bulanan (RDKB) OJK Mei 2026, Kamis (5/6).

Di dalam negeri, aktivitas ekonomi menunjukkan perkembangan yang beragam. Sektor manufaktur kembali berada pada zona ekspansi pada Mei 2026, sementara inflasi meningkat seiring tekanan harga energi global meski masih dalam batas terkendali. Neraca perdagangan juga masih mencatat surplus, walaupun lebih rendah dibandingkan periode sebelumnya.

Dari pasar modal, Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal, Keuangan Derivatif dan Bursa Karbon OJK Hasan Fawzi menjelaskan pasar saham domestik mengalami konsolidasi selama Mei 2026 di tengah tingginya ketidakpastian global dan penyesuaian portofolio investor.

IHSG ditutup pada level 6.127,38 atau turun 11,92 persen secara bulanan dan terkoreksi 29,14 persen sejak awal tahun. Meski demikian, likuiditas pasar tetap terjaga dengan rata-rata nilai transaksi harian meningkat menjadi Rp22,86 triliun dari Rp18,51 triliun pada April 2026.

“Di tengah dinamika pasar yang terjadi, kondisi pasar modal domestik tetap menunjukkan tingkat ketahanan yang memadai dengan likuiditas yang terjaga,” ujar Hasan.

Di pasar obligasi, Indonesia Composite Bond Index (ICBI) menguat 0,32 persen secara bulanan menjadi 437,26, meskipun masih turun 0,81 persen secara year to date. Sementara itu, investor asing masih mencatatkan aksi jual bersih baik di pasar saham maupun Surat Berharga Negara (SBN).

Hasan menambahkan, industri pengelolaan investasi juga masih menunjukkan ketahanan. Nilai aset kelolaan (AUM) mencapai Rp1.049,84 triliun hingga akhir Mei 2026. Di sisi lain, jumlah investor pasar modal terus meningkat dengan penambahan 1,26 juta investor baru dalam sebulan sehingga total investor mencapai 27,75 juta atau tumbuh 36,27 persen sejak awal tahun.

Sementara itu, sektor perbankan tetap mencatatkan pertumbuhan kredit yang solid. Kepala Eksekutif Pengawas Perbankan OJK Dian Ediana Rae mengatakan, kredit perbankan pada April 2026 tumbuh 9,98 persen secara tahunan menjadi Rp8.755 triliun.

Pertumbuhan tertinggi berasal dari Kredit Investasi yang meningkat 19,48 persen, diikuti Kredit Konsumsi 6,13 persen dan Kredit Modal Kerja 6,04 persen. Dari sisi debitur, kredit korporasi tumbuh 15,51 persen, sedangkan kredit UMKM mulai menunjukkan perbaikan dengan pertumbuhan positif 0,16 persen.

“Kinerja intermediasi perbankan tetap tumbuh positif dengan profil risiko yang terjaga dan didukung permodalan yang kuat,” kata Dian.

Dana Pihak Ketiga (DPK) juga tumbuh 11,39 persen menjadi Rp10.077 triliun. Di sisi kualitas aset, rasio kredit bermasalah (NPL) gross tercatat 2,17 persen dan NPL net sebesar 0,84 persen. Adapun rasio kecukupan modal (CAR) masih berada di level tinggi, yakni 23,97 persen.

Dian juga mengungkapkan OJK terus memperkuat upaya pemberantasan perjudian daring. Hingga Mei 2026, OJK telah meminta perbankan melakukan enhanced due diligence dan pemblokiran terhadap sekitar 33.836 rekening yang terindikasi terkait aktivitas perjudian online.

Sementara itu dari sektor perasuransian, penjaminan, dan dana pensiun, Kepala Eksekutif Pengawas PPDP OJK Ogi Prastomiyono menyebut industri asuransi masih menunjukkan ketahanan yang baik dengan dukungan permodalan yang kuat.

Total aset industri asuransi pada April 2026 tercatat Rp1.202,16 triliun atau meningkat 3,39 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Aset asuransi komersial mencapai Rp984,20 triliun atau tumbuh 4,65 persen secara tahunan.

“Ketahanan industri asuransi tetap terjaga dengan tingkat Risk Based Capital yang jauh di atas ketentuan minimum yang ditetapkan regulator,” ujar Ogi.

Pendapatan premi asuransi komersial tercatat Rp116,01 triliun. Premi asuransi jiwa tumbuh 3,28 persen menjadi Rp62,58 triliun, sedangkan premi asuransi umum dan reasuransi turun 4,32 persen menjadi Rp53,43 triliun.

Secara agregat, industri asuransi jiwa membukukan Risk Based Capital (RBC) sebesar 476,11 persen, sedangkan asuransi umum dan reasuransi sebesar 311,74 persen, jauh melampaui batas minimum 120 persen yang ditetapkan regulator.

Dengan kondisi tersebut, OJK menilai sektor jasa keuangan nasional masih memiliki daya tahan yang kuat dalam menghadapi berbagai tantangan global sekaligus tetap mampu menjalankan fungsi intermediasi untuk mendukung pertumbuhan ekonomi domestik.

Berita Terkait

spot_img

Berita Terbaru